Radar Selatan

Bantaeng

Duka Palu, Duka Kita, Warga Butuh Makanan dan Air

EDITOR: SUPARMAN

BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September lalu, menjadi duka seluruh masyarakat Indonesia. Ratusan korban dilaporkan meninggal dunia, sementara ribuan korban selamat lainnya kini kekurangan makanan dan minuman serta kebutuhan logistik lainnya.


Dilansir dari laman fin.co.id, di hari kedua pascabecana, warga Palu kekurangan makanan dan minuman serta kebutuhan dasar lainnya. Mereka mengharapkan segera datangnya bantuan, terutama makanan dan air minum yang semakin sulit diperoleh.

“Jadi sampai saat ini, atau hari ketiga (pascabencana), belum ada bantuan pemerintah yang diterima. Entah itu mi instan dan sebagainya,” kata Fitria, salah seorang warga Kelurahan Silae kepada Antara di Palu dikutip fin.co.id, Minggu 30 September kemarin.

Ia mengatakan saat ini warga sangat membutuhkan makanan, air dan obat-obatan. “Kalau pakaian masih ada yang selamat dan bisa kami pakai. Tapi kalau makanan kami butuh sekali itu, dengan obat-obatan dan air. Sembako lah,” katanya.

Berdasarkan pantauan pewarta foto Antara Muhammad Adimaja di Kota Palu, beberapa toko dan warung klontong di sana sudah mulai ada yang buka. Namun demikian harga jual menjadi tinggi.

“Minuman kemasan dijual mulai harga Rp7.000 hingga Rp15.000. Rokok dijual Rp30.000 per bungkus,” ujar dia.

Lebih lanjut, Fitria mengatakan kondisi infrastruktur di Kota Palu banyak mengalami kerusakan akibat gempa dan tsunami, termasuk rumah-rumah warga.

“Semua rusak jalannya, lapangan juga terbelah tanahnya. Jadi rumah-rumah yang ada di Silae sudah tidak ada orangnya, karena parah sekali kondisinya,” ujar dia.

Fitria mengaku saat ini menginap di rumah saudara yang masih bisa ditempati. Namun demikian semua masih serba darurat karena gempa masih terasa, sehingga semua memilih untuk tidur di jalanan.

Berdasarkan pantauan di lapangan proses evakuasi korban gempa dan tsunami di Kota Palu terkendala kurangnya alat berat. Semua masih dilakukan secara manual oleh Basarnas.

Hingga saat ini pasokan listrik dan telekomunikasi belum kembali normal. Warga pun beramai-ramai mengambil BBM di mobil-mobil tangki Pertamina, selain mengambil makanan dan minuman dari toko atau warung yang masih tutup.

Sementara itu, sejumlah pemerintah daerah, organisasi mahasiswa, dan kelompok masyarakat di Sulawesi Selatan menggalang bantuan untuk para korban bencana palu. Selain menggalang sumbangan di ruas jalan, posko pengumpulan bantuan juga dibuka untuk memfasilitasi warga yang ingin menyumbang.

Hingga Minggu sore 30 September 2018 kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa telah mencapai 832 orang. Rinciannya, 831 korban tewas yang ditemukan di Palu dan 11 lainnya di Donggala.

“Untuk data sementara sudah ada 832 orang meninggal dunia,” kata Juru Bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan dikutip dari laman jppn.com, kemarin.

Menurut Sutopo, jumlah korban kemungkinan masih akan terus bertambah. Sebab, proses pencarian korban dan evakuasinya masih berjalan. Proses pencarian hari ini difokuskan di Palu. “Fokus di Hotel Roa Roa yang runtuh, Ramayana, Pantai Talise, hingga perumahan Balaroa,” sambung dia.

Sutopo meambahkan, di Hotel Roa Roa yang runtuh kemungkinan ada 50-an korban yang belum dievakuasi. “Evakuasi ini tidak mudah karena terkendala listrik padam, minimnya fasilitas alat berat, hingga terputusnya akses menuju lokasi,” tuturnya. (*)

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!