Radar Selatan

Hiburan

Nikmati Sensasi Kafe di Areal Persawahan 

Cantiknya Persawahan di Ketinggian Batu Rapa’
Areal persawahan disulap menjadi tempat wisata merupakan ide yang unik dan belakangan melejit. Konsep tersebut juga diterapkan di Batu Rapa’, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.
Laporan: Anjar Sumyana Masiga
Tempat wisata bernuansa alam bisa menjadi tujuan ideal bagi traveler untuk mengusir jenuh dari rutinitas harian. Salah satu lokasi yang menarik dikunjungi yakni kafe sawah di Batu Rapa’, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang. Sebuah areal persawahan di Kabupaten Bulukumba yang belakangan jadi hits di media sosial.
Persawahan yang disulap jadi objek wisata itu menawarkan pemandangan elok dan suasana asri. Pengunjung disugukan panorama indah yang mampu menyegarkan maya dan pikiran. Jaraknya dari Kota Bulukumba hanya 26 Km. Dapat ditempuh sekira 40 menit dengan mengendarai motor.
Ada berbagai spot foto yang cantik di sana yang bisa menjadi pilihan mengabadikan kenangan. Seperti yang dilakukan salah satu pengunjung, Rahmat Alvian. Menikmati pemandangan persawahan membuat hati adem.
“Kalau weekend ke Kahayya saya pasti mampir di sini,” kata traveler dari tim KopiJalan.
Wisata Persawahan Batu Rapa’ dirintis sejak Maret 2017 oleh Darwis. Areal yang disulap merupakan lahan pribadinya yang tak begitu luas, hanya 650 M².
“Saya baru mau memperluas areal wisata ini dengan mengajak pemilik sawah lainnya, ” bebernya saat ditemui akhir pekan lalu.
Merintis areal persawahan menjadi tempat wisata memang tak mudah, apalagi dilakukan tak berkelompok. Darwis harus bekerja keras. Mengangkut semua material yang dibutuhkan ke lokasi yang merupakan daerah ketinggian. Belum lagi pandangan warga setempat.
“Iyah, orang-orang berfikir saya aneh. Karena seperti ininbelum ada di Bulukumba,” ujarnya.
Awalnya, Darwis hanya iseng membuat tempat peristirahatan yang unik, disebut rumah jamur. Namun siapa sangka kalau ternyata itu menarik perhatian, sejumlah teman-temannya memberi masukan untuk menjadikan sawahnya spot wisata.
Konsepnya, banyak dari hasil penelusuran di internet, lalu diterapkan di tempatnya. Alhasil, tak butuh waktu Lama, sudah ramai dikunjungi. Bahkan kini telah menghasilkan,  setiap pengunjung dikenakan tarif 2.000.
“Dari proses rintis sampak dikunjungi itu hanya beberapa bulan, kemudian kita kenakan tarif sejak akhir tahun 2018. Itu untuk membiayai fasilitas yang terus kami kembangkan,” ungkapnya.
Darwis berharap bisa menjadikan spot wisata itu tak hanya menyejukkan tapi bisa memberikan edukasi kepada petani lainnya. Sederhananya petani dapat meningkatkan penghasilan melalui konsep mina padi untuk meningkatkan efesiensi lahan.
“Ini sudah jadi percontohan mina padi untuk kelompok tani di sekitar sini,” tambahnya.
Berbagai tanaman hias turut dikembangkan Darwis di tempatnya, seperti bunga matahari, pucuk merah, miana anggrek dan lainnya. Berbagai ikan hias juga dapat dijumpai berenang di antara tanaman padi. (*)
To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!