Radar Selatan

Bulukumba

Oknum Kepsek Diduga Aniaya Siswi

TERBARING LEMAS. WD, siswi SMP Negeri 26 Bulukumba diduga korban kekerasan oknum kepala sekolah terbaring lemas di ruang perawatan Puskesmas Karassing, Kecamatan Herlang.

BULUKUMBA, RADARSELATAN.CO.ID — Nasib malang dialami WD (inisial), seorang siswi SMP Negeri 26 Bulukumba yang harus dilarikan ke fasilitas kesehatan karena mengalami pusing dan mual setelah mengaku dihajar Andi Kasmad yang tidak lain adalah kepala sekolahnya hingga pingsan.
Menurut pengakuan WD, ia dihajar oleh kepala sekolahnya lantaran telat masuk sekolah, Kamis, 4 Januari 2019 pekan lalu. “WD ini terlambat masuk sekolah sekitar 5 menit dan yang terlambat itu sebanyak 53 orang, tapi hanya WD yang dipukul,” kata Bombong Mustamin, nenek korban kepada awak media, Minggu, 6 Januari 2019.

Selain itu, lanjut nenek korban menceritakan, WD dipukul menggunakan tangan oleh kepala sekolahnya di bagian belakang leher dan kepala sehingga korban sempat tak sadarkan diri.
“Sampai sekarang (kemarin, red), kondisi korban masih sering pusing, mual dan trauma,” tambahnya.
Atas kejadian tersebut, keluarga WD telah melaporkan hal itu ke pihak kepolisian dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk ditindaklanjuti.

“Atas kejadian ini kami mengecam kepala sekolah SMP Negeri 26 Bulukumba untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kami juga minta secepatnya merespon laporan kami,” pintanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Ahmad Januaris, membenarkan infomasi tersebut. Hanya saja, soal kronologis dan infomasi yang beredar tak benar dan terlalu di politisir.

Yang ada saat itu, siswa tersebut terlambat karena melanggar, biasanya siswa diberikan hukuman.
“Jadi bukan dipukul atau dihajar seperti yang orang bayangkan. Kan biasaka ada siswa terlambat dan itu siswa disuruh masuk dengan cara belakangannya didorong pakai tangan. Tadi kepseknya sudah saya suruh menghadap langsung,” jelasnya.
Diakui siswa tersebut tak pingsan dan tetap mengikuti proses belajar mengajar. Adapun siswa tersebut pingsan kuat dugaan ada penyakit atau kondisi fisik yang lemah.

Ia juga berharap agar dalam kasus tersebut tak didramatisir karena membuat guru dilema dalam menjalankan tugasnya. Padahal, tak ada guru yang mau merusak siswanya namun tujuannya untuk mendidik.
“Inilah masalahnya bagi teman-teman guru. Kalau anaknya tidak lulus guru yang disalahkan, tidak ada guru yang marusak, semuanya tujuannya mendidik. Sekarang dan dulu sudah beda memang, kita dulu jaman sekolah guru itu dihargai, bahkan kalau kita salah orang tua kita duluan yang kasi sanksi. Intinya tak ada penganiayaan,” jelasnya. (faj/has)

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!