Radar Selatan

Bantaeng

SOSOK: Pola Asuh Anak ala Ketua PKK Bantaeng

Sri Dewi Yanti, seorang istri dari Bupati Bantaeng, Dr. Ilham Azikin. Seorang ibu dari empat orang anak, Aura, Aero, Ario dan Arai.

Laporan: Muhammad Siddiq Sholeh Sandy

Sri, begitu ia disapa, seorang perempuan yang lahir di kabupaten Pare-pare, 10 September 1976. Sosok hebat dengan segala tanggung jawab yang dipikulnya. Meski bersama semua kelelahan, senyumnya tidak akan mengering. Walau letih ia beraktivitas, dari satu tempat ke tempat lain.

Dari satu acara ke acara yang lain. Dari satu gaun dan terus berganti. Setiba di rumah, ia akan terus melayangkan senyum. Untuk dirinya dan anak-anak yang menantinya.

Soalan anak, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Bantaeng ini mendidik bukan hal sepele. Justru itu yang utama baginya, selaku ibu. Memahami anak, mengenali karakternya dan tahu bagaimana bersikap. Anak adalah amanah, dalam tumbuh kembangnya terdapat pengaruh didikan ibu yang sangat besar. Maka dari itu, jika ingin anak-anak cerdas, baginya seorang ibu harus cerdas terlebih dahulu.

“Anak itu terlahir dengan karakter yang sangat berbeda, dan sebaik-baik seorang ibu adalah mampu mengenali karakter anak-anaknya,” katanya.

Sri diberkahi dengan 4 orang anak yang berbeda karakter ataupun perawakannya. Anak pertamanya yakni seorang perempuan lahir pada tahun 2002, Aura Solthania Ilhamsyah. Ia memiliki kepribadian yang cukup tenang. Putri sulungnya itu adalah tipikal sosok yang lebih suka menghabiskan waktu menata rumah daripada jalan-jalan.

Anak keduanya bernama Aero Solthani Ilhamsyah yang lahir setahun kemudian. Berbeda dengan kakaknya, Aero memiliki jiwa kepemimpinan atau leadership yang kental. Nampak jelas pribadinya mencerminkan sosok pemimpin seperti Ayah dan kakeknya.

Anak ketiga lahir pada tahun 2008 yakni Ario Solthani Ilhamsyah. Karakter putra yang satu ini memiliki jiwa yang bebas dan cenderung kreatif dalam menyelesaikan sesuatu. Sosok imajiner tampak dari dirinya. Sedangkan si bungsu ialah Arai Solthani Ilhamsyah yang lahir pada tahun 2015. Karakternya sedikit manja dan suka bergelayut untuk mencari perhatian kedua orang tua ataupun kakak-kakaknya.

Kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bantaeng ini, sangat penting untuk mengenali pribadi anak-anak. Agar ia senantiasa mengetahui bagaimana seharusnya ia bersikap dengan bijak. Misalnya soal keinginan. Anak-anak memiliki banyak keinginan, tapi mereka akan meminta dengan cara yang berbeda-beda. Dan sosok ibu, dituntut untuk peka akan hal itu.

Apalagi di era moderen seperti saat ini. Ia mengaku hingga hari ini masih banyak ibu-ibu yang mengekang kebebasan berpikir anak-anak. Padahal sebaiknya anak-anak diberi bimbingan menyongsong era teknologi 4.0.

Misalnya penggunaan gawai, anak diperbolehkan untuk mengenal akses teknologi itu. Hanya saja perlu dibatasi.

“Kita tidak boleh, tidak mengenalkan teknologi canggih smartphone kepada anak-anak kita. Tetapi ada batasan. Intinya bahwa anak-anak kita tidak juga boleh dihentikan atau dilarang, supaya mereka saat bergaul tidak minder tentang teknologi yang ada,” kata istri Ilham Azikin itu.

Gawai tidak melulu berdampak negatif bagi anak-anak. Ada juga hal positif dalam kecanggihan teknologi itu. Meski begitu, orang tua tetap terlibat untuk mengawasi.

Ia sendiri sangat memperhatikan apa saja aplikasi yang terinstal di smartphone anak-anaknya. Seperti contoh, untuk anak bungsunya yang senang bermain YouTube. Agar putranya tetap aman berselancar di dunia maya melalui aplikasi tersebut, ia kemudian memilih sebuah alternatif dengan mengganti jadi aplikasi YouTube Kids. Yang mana aplikasi itu memang khusus tontonan untuk anak-anak dan sifatnya mengedukasi.

Sejauh ini Sri membagi diri antara kehidupan di Kabupaten Bantaeng dan kota Makassar. Putri sulung dan putranya yang kedua saat ini tengah mengenyam pendidikan di sana. Mengharuskannya untuk sementara tinggal terpisah. Namun dengan adanya smartphone ia mengaku sangat terbantu dalam mengontrol anak-anaknya meski dari jarak jauh.

“Saya buat grup whatsApp, dan segala rutinitas kita bahas di sana. Saya juga membagi waktu untuk bisa selalu ke Makassar, dan saat di sana saya benar-benar memanfaatkan waktu tinggal di rumah bersama anak-anak. Bagaimanapun juga komunikasi secara langsung itu penting,” jelasnya dengan raut rindu yang terpancar untuk anak-anaknya.

Pola asuh yang otoriter bukanlah jawaban dari menyelamatkan generasi muda dari virus-virus negatif perkembangan jaman. Baginya, seiring perubahan jaman yang terjadi, sosok ibu juga perlu membenahi diri. Berbaur dengan zaman, agar mampu melakukan kontrol bagi diri sendiri. Sehingga mudah baginya untuk membimbing anak-anak. Bukan sebaliknya, melakukan penekanan dan berjalan melawan arus zaman. (sid/has/

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!