HARDIKNAS, SER Budaya dan Era 4.0

  • Bagikan
Muhammad Saedi Jalil,S.Pd (Guru Bahasa Indonesia, SMAN 3 Bulukumba)

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Peringatan hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) yang diperingati setiap tahun tanggal 2 Mei dan bertepatan dengan tanggal lahir Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara Memperingati Hari Pendidikan Nasianal (HARDIKNAS) bukan hanya berfokus pada acara seremonial saja,namun diharapkan bertumbuh dan berorientasi pada pemikiran pemikiran yang mampu melahirkan ide-ide atau gagasan dalam menjawab tantangan diera Revolusi 4.0 atau juga yang biasa dikenal dengan istilah “cyber physical system” yang merupakan sebuah fenomena dimana terjadinya kolaborasi antara teknologi siber dengan teknologi otomatisasi.

Dengan adanya revolusi ini sendiri membawa banyaknya perubahan di berbagai sektor.Sebagai contoh, sektor pendidikan dimasa Pandemi covid 19 mengharuskan kita mampu melakukan adaptasi dengan mengintegrasikan tekhnologi cyber baik fisik maupun non fisik dalam pembelajaran.

Peringatan Hari Pendidikan Nasioanal adalah momentum untuk kita kembali sebagai anak bangsa terkhusus bagi yang mendedikasikan baktinya sebagai Guru (pendidik) dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sudah sepatutunya melahirkan kerangka inovasi berpikir dalam perspektif untuk memecahkan masalah.

Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan itu bukan hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan kepada muridnya, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mentransfer nilai. Nilai-nilai yang dimaksud itu adalah bagian yang melebihi daripada ilmu itu sendiri. Jika kita mendalami inti sari pendidikan yang diuraikan oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan yakni upaya yang konkret untuk memerdekakan manusia secara utuh dan penuh.

Menurut beliau, Pendidikan merupakan salah satu pintu masuk untuk mewujudkan manusia yang merdeka.Jika diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan kita sekarang, Kata “Merdeka” ini juga telah sejalan dengan apa yang menjadi harapan Bapak Pendidikan kita,Ki Hajar Dewantara melalui kebijakan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tekhnologi (Kemendikburistek) terkait kurikulum Merdeka Belajar Pendidikan tidak terlepas dari kebudayaan, maka tidak dapat dibayangkan wajah pendidikan kita tanpa adanya kebudayaan Kebudayaan akan melahirkan kearifan dan ketauladanan.

Pemeliharaan kebudayaan harus bertujuan memajukan dan menyesuaikan kebudayaan dengan setiap pergantian alam dan zaman.Sebagai contoh,dalam perspektif pemeliharaan pendidikan budaya di Sulawesi selatan sebuah falsafah Kualleangi Tallanga Na Toalia telah banyak memberikan edukasi terhadap nilai-nilai atau falsafah bagi peradaban manusia.

Kualleangi tallanga na toalia adalah falsafah hidup masyarakat Bugis Makassar (Sulawesi Selatan) dalam menjalani kehidupannya sebagai makhluk social, Nilai ini telah tertanam dalam diri manusia sebagai bentuk manifestasi terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang dapat mendorong kelangsungan bermasyarakat untuk selalu berusaha, berjuang, gigih berani demi menggapai hal yang dicita-citakan meskipun harus memilih menyerahkan milik hidupnya yang terakhir yaitu “nyawa”.

Jika diterjemahkan kedalam pandangan Ki Hajar Dewantara tentang hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh baik jiwa dan rohaninya.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional semoga kita mampu menjawab tantangan era digitalisasi 4.0 dengan tetap mempertahangkan nilai nilai budaya sesuai kearifan lokal agar mampu melahirkan ketauladanan, dengan jalan. Mambangun Budaya Sinergi,Energi dan Resonansi agar mampu menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum, dengan kemampuan yang kita miliki optimis usaha bisa maksimal melalui dorongan untuk menciptakan dorongan baru.

  • Bagikan