Cerita Petani Kopi di Senandung Kopi Kahayya 2022; Panen Kopi Berkurang, Kami Tetap Bersyukur

  • Bagikan
Para perempuan petani kopi memeragakan cara mengolah kopi secara tradisional. Mulai dari memilah, meroasting, menumbuk sampai menyajikannya kepada tamu. (Foto: Jhydan)

 

BULUKUMBA, RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID -- Gerimis turun saat kami tiba di Dusun Tabuakkang, Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Jumat petang, 7 Oktober 2022. Prosesi songkabala baru saja usai. Perempuan petani kopi dengan kain kebaya menyuguhkan beragam makanan tradisional kepada para tamu sebagai bentuk syukur pada sang pencipta.  
Jumat itu para petani di Dusun Tabuakkkang Desa Kahayya berkumpul di sebuah bukit di bawah Gunung Kelelawar, di antara Gunung Bawakaraeng-Lompobattang. Seperti tahun sebelumnya, para petani merayakan hasil panen kopi secara bersama. Tetap bersyukur meski tahun ini hasil panen kopi tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. 
"Tahun ini lebih banyak hujan. Bulan ini mestinya kemarau tapi hujan masih sering turun. Kopi juga berkurang," kata Rahman (46) petani kopi dari Dusun Tabuakkang. Rahman lebih dikenal dengan nama Aliando oleh para pendaki dan anak muda yang sering camping di Bukit Donggia. 
Dengan  penuh senyum Rahman bercerita mengenai anomali cuaca yang berpengaruh pada hasil panen kopi warga kampung. Toh bagi Rahman dan juga warga dusun Tabuakkang lainnya, hasil panen yang ada setiap tahun wajib disyukuri. Bukan soal banyak atau sedikit, tapi tentang cara kita berterimakasih pada sang pencipta atas nikmat sehat dan nikmat alam yang memberi banyak sumber kehidupan.
Ini juga yang menjadi alasan kegiatan Senandung Kopi Kahayya (dulu namanya Syukuran Kopi Kahayya) oleh anak muda di Kahayya senantiasa dipertahankan. Tahun ini SKK (Senandung Kopi Kahayya) dihadiri lebih banyak tamu dari berbagai kabupaten di Sulsel. Ada yang datang dari Kabupaten Sidrap, Kabupaten Gowa, Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, Kota Makassar dan Kabupaten Maros. 
"Alhamdulillah kegiatan Senandung Kopi Kahayya tahun ini berlangsung meriah dan sukses. Melampaui ekspektasi kami.  Acara inti songkabala dan barasanji juga dilakukan dengan khidmat," ujar Nurmaidah Mansyur, Ketua Panitia Senandung Kopi Kahayya 2022 kepada RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID.
Selain songkabala, selama tiga hari mulai 7 Oktober sampai 9 Oktober 2022, sejumlah kegiatan digelar. Ada pentas seni dan budaya, lomba roasting tradisional dan v60 competition, literasi digital  sampai Kelas Minggu Ceria untuk anak-anak. Selama 3 hari pelaksanaan, panitia mencatat lebih dari  70 tenda terpasang dan ada 1000-an pengunjung yang berdatangan di Desa Kahayya. Bisa dipastikan perputaran ekonomi di dusun terpencil ini kembali bergairah setelah sebelumnya tak ada kegiatan apa-apa selama pandemi covid 19.
H. Nasrum, salah satu penikmat kopi yang hadir jauh-jauh dari Jeneponto mengatakan, ia bangga dan salut dengan semangat dan kerja-kerja kolaborasi yang dibangun anak-anak muda Desa Kahayya. "Bagi saya setiap kopi itu punya kekhasan yang tidak kita temukan di daerah lain. Dan kopi Kahayya sudah membuktikan mampu mengajak penikmatnya untuk bertemu langsung dengan para petaninya," ujarnya.
Hal yang sama dikatakan Riza Salman. Riza seorang jurnalis freelance dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Riza baru pertama kali menginjakkan kaki di Desa Kahayya. Ia langsung terpesona dengan alam dan bentangan gunung yang bisa kita nikmati bersama kabut yang turun pelan-pelan. “Saya sudah keliling melakukan liputan di berbagai pelosok Indonesia. Saya baru menemukan pemandangan luar biasa seperti ini,” katanya. Dusun Tabuakkang di Desa Kahayya memang merupakan dusun tertinggi di Bulukumba. Berada di ketinggian 1.200 sampai 1.400 mdpl di mana kopi dan tembakau tumbuh subur di daerah ini. (sunarti sain)
  • Bagikan