Beranda Ragam Ahli Epidemiologi: Covid-19 akan Jangkiti 6.729 Penduduk Bulukumba Jika Tak Ada Upaya...

Ahli Epidemiologi: Covid-19 akan Jangkiti 6.729 Penduduk Bulukumba Jika Tak Ada Upaya Intervensi

Senin, 6 Juli 2020, 21:44 WITA

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin (Unhas) memprediksi Covid-19 akan menginveksi 6.729 penduduk di Kabupaten Bulukumba.

“Estimasi kasar jumlah kasus yang mungkin terjadi yakni 6.729 kasus dari total 420.603 penduduk di Kabupaten Bulukumba, atau 1,6% dari total penduduk,” papar Dosen dan Peneliti di Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Ansariadi, saat dikonfirmasi oleh RADAR SELATAN melalui pesan WhatsApp, Senin 6 Juli 2020.

Menurutnya, itu bisa terjadi jika tidak ada upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bulukumba.

Pria yang dilahirkan di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba pada 1972 tersebut, menjelaskan, prinsip dalam penanganan wabah hampir sama di seluruh dunia yaitu menemukan semua yang menjadi sumber penularan melalui massive test (menggunakan PCR).

Setelah itu, lanjutnya, dilakukan tracing dengan siapa mereka pernah kontak erat dan melakukan isolasi bagi yang positif.

Dan tidak kalah penting menurutnya, edukasi kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Tingginya kasus di suatu daerah biasanya ada masalah dengan implementasi strategi dasar tersebut. Misalnya test tidak sesuai jumlah yang dipersyaratkan, tidak dilakukan tracing terhadap semua kontak atau isolasi tidak berjalan dengan baik. jadi menurut saya memaksimalkan kinerja strategi dasar tersebut sudah cukup bagus,” sarannya.

Selain itu, Ansariadi juga memaparkan saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Kabupaten Bulukumba 29,73 persen dari Nakes.

“Kemungkinan mereka tertular saat melayani pasien baik di rumah sakit atau puskesmas. atau mungkin juga tertular awalnya dari pasiennya kemudian penularan terjadi diantara nakes di kantor, atau penggunaan APD yang kurang tepat. Ada beberapa kemungkinan,” duganya.

Sementara itu, salah seorang aktivis dari Pemuda Baru (Pembaru) Indonesia Bulukumba, Junaid Judda, turut menyoroti terus meningkatnya kasus Covid-19 di Kabupaten Bulukumba.

Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari situasi minimnya kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 itu sendiri.

Terkikisnya kepercayaan masyarakat, lanjut pria 35 tersebut, terjadi karena minimnya edukasi dari pemerintah terkait Covid-19. Selain itu juga permasalahan ekonomi yang dialami oleh masyarakat yang membuatnya tetap harus beraktifitas di tengah pandemi ini.

Belum lagi, tambahnya, isu yang berkembang di media sosial mengenai Covid-19 hanyalah konspirasi, juga turut berkontribusi membangun ketidak percayaan masyarakat terhadap Covid-19. (Ewa)