Baba Ransum, Distribusi Makanan ke Penjara dan Rumah Sakit

by
Puji Kurnia, menunjukkan foto almarhum Baba Ransum dan istrinya Tima.

Kisah Tionghoa di Masa Penjajahan

Baba Ransum cukup dikenal di Kabupaten Bulukumba pada masanya. Saat masih penjajahan dan pada awal kemerdekaan RI. Dia merupakan peranakan suku Tionghoa dari marga Oie

Laporan: ANJAR S MASIGA

Ada beberapa keturunan Cina yang bermukim di Bulukumba. Pada masa penjajahan hingga kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan. Mereka turut mengambil bagian untuk berjuang. Tak melulu soal tenaga, tapi di bidang lainnya yang ditekuni. Mereka adalah Baba Ransum, Ance Kanjara, Ance Macan, dan Ance Karisa. Semua hanyalah sekadar julukan namun telah melekat dibenak masyarakat menjadi sapaan akrab.

Mengulas tentang Baba Ransum, Baba yang berarti sapaan untuk lelaki keturunan Tionghoa dan Ransum berarti bahan makanan yang telah diolah dengan takaran tertentu dan siap disajikan. Baba Ransum memiliki nama mandarin Oei Eng Tjiu dan nama lokal Kurnia dg Jarre’. Nama tersebut disematkan saat dirinya memeluk Islam.
Kurang lebih 20 tahun lalu, Baba Ransum wafat. Meski telah berlalu begitu lama, dia masih lekat diingatan beberapa orang yang telah berumur. Bahkan kisahnya telah dituturkan secara kepada generasi selanjutnya .

Puji Kurnia, anak ke 10 dari 11 bersaudara dari pasangan Baba Ransum dan Tima bercerita tentang pria yang gagal menjadi veteran. Padahal dia diakui turut berjuang. Seingatnya, pada periode lalu Andi Sukri Sappewali menjadi bupati, sempat menyebut nama tersebut bernama ance lainnya di hari peringatan pahlawan.
“Dulu saya ada di lapangan pemuda menonton, saya dengar nama Baba Ransum disebut sama dengan rekan tionghoa lainnya,” ujar wanita yang akrab disama Oma Puji itu.
Separuh cerita tentang Baba Ransum juga hanya dituturkan pada Puji Kurnia. Separuhnya lagi disaksikannya wanita yang kini berusia 64 tahun itu. Ayahnya adalah pribadi yang memiliki jiwa nasionalis yang kuat.

Dulu, almarhum bertanggungjawab untuk makanan orang sakit yang dirawat di rumah sakit dan orang yang menjalani hukuman penjara. Bahkan dia ingat betul, ransum tersebut tak ala kadarnya. Tiga kali sepekan dengan lauk daging.
“Dulu berkarung-karung bahan makanan di rumah. Itu untuk diolah Ransum, lalu didistribusikan ke penjara dan rumah sakit,” katanya.
Semasa aktif, Baba Ransum bermukim di pusat pertokoan di jantung kota Bulukumba. Tak jauh dari Bundaran Pinisi. Rumahnya dua petak ruko, disanalah dia dan timnya bekerja menyiapkan paket makanan. Dia juga mengelola toko obat.

“Jadi orang keluar dari penjara itu tinggal di rumah dan bantu-bantu distribusi makanan. Yang masak banyak termasuk ibu (Tima),” kenangnya
Terdapat radio besar di rumahnya yang menjadi media hiburan. Kerap kali masyarakat berkumpul mendengarkan informasi dari frekuensi radio. Bahkan kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia diperoleh dari radio tersebut dan disebar luaskan. (*)

Loading...