Bripka Nurdianto, Polisi yang Bertani Hidroponik

by
BERSIH. Nurdianto memamerkan akar tanaman kangkung dan selada yang bersih. Bertani dengan sistem hidroponik menjadi hobi sekaligus bisnis menguntungkan saat ini.

Perkenalkan Hidup Sehat Tanpa Pestisida

Bercocoktanam dengan cara hidroponik belum lazim dilakukan di Kabupaten Bulukumba. Seorang polisi bernama Bripka Nurdianto sudah memulainya sejak bulan Februari 2019 di atas lahan sempit miliknya di belakang kampus STIKES Panrita Husada Bulukumba. Siapa sangka, awalnya hanya belajar dari tutorial di Youtube, kini hasil tanaman hidropnik Nurdianto sudah dikirim sampai ke Sinjai, Bantaeng dan Makassar.

Laporan: Sunarti Sain

Jalan-jalan lah ke kebun hidroponik yang diberi nama Ray Farm. Letaknya di wilayah Taccorong, Bulukumba. Tidak jauh dari pusat kota Bulukumba. Lahan yang dimanfaatkan Nurdianto tidak besar. Saat penulis berkunjung beberapa waktu lalu, hanya ada satu petak lahan yang di atasnya berdiri instalasi hidroponik. Pipa-pipa inilah yang dirakit dan menjadi median bagi tanaman sawi, pokcoy, kangkung, selada, bahkan daun mint.

Saat itu, Nurdianto tengah membangun instalasi baru untuk mengembangkan kebun hidropiniknya. “Hanya ini lahannnya. Tidak besar, tapi alhamdulillah sudah bisa menghasilkan,” ujarnya sambil menunjukkan tanaman selada yang sudah berusia beberapa minggu.

Hidroponik merupakan salah satu media tanam tanpa menggunakan tanah sebagai pertumbuhan tanaman. Melainkan dengan air. Penanaman seperti ini memang masih hal baru di dunia pertanian. Masih banyak masyarakat yang tidak tahu cara melakukannya dan apa keuntungannya.
Nurdianto termasuk polisi yang aktif. Ia tidak puas hanya dengan melakukan tugas sehari-hari sebagai abdi negara.

Baginya, mengembangkan hal-hal baru termasuk bercocoktanam dengan cara hidroponik adalah bagian dari pengabdiannya untuk menjaga lingkungan dan mengajak masyarakat hidup sehat tanpa pestisida kimia.
Menurut Nurdianto yang akrab disapa Pak Anto, mula mengenal hidroponik saat ia gagal tes Perwira Januari 2019 lalu. Dalam perjalanan dari Makassar ke Bulukumba ia mulai berpikir untuk melakukan sesuatu. Baginya, gagal bukan berarti selesai. Ia malah memulai hal-hal baru. Menelusuri konten bertani moderen di youtube.

“Saat persiapan tes Akabri, saya kan sering buka youtube untuk belajar. Nah, biasanya muncul info soal hidroponik tapi suka saya skip. Karena fokus saya saat itu memang belajar hal-hal yang ada kaitannya dengan tes masuk Perwira,” katanya.
Setelah impiannya gagal, barulah ia teringat dengan informasi tentang hidroponik. “Saya mulai searching dan melihat tutorial bertani hidroponik di youtube. Modal saya saat itu cuma satu juta rupiah. Alhamdulillah dari hal kecil bisa berkembang seperti sekarang,” terang pelatih Paskibra Bulukumba ini.
Dimulai dari sistem hidroponik sederhana yakni sistem rakit apung atau water culture system dan DFT atau deep flow technique.

Kini, Ray Farm miliknya terus berkembang. Tidak hanya diminati para pelapak kecil yang menjual burger, kebab dan sebagainya. Hasil kebun hidroponiknya juga dilirik rumah makan sekelas RM Agri dan Grand 99 Bulukumba.

Padahal ia pernah ditolak beberapa restoran besar saat memasukkan tawaran kerjasama untuk mensuplai bahan baku baik selada, sawi, pokcoy dan lain-lain.
“Ada banyak hal yang menguntungkan dengan bertani moderen seperti ini. Selain penggunaan lahan yang lebih efisien, kualitas dan produksi juga lebih tinggi dan lebih bersih. Selain itu pengendalian hama dan penyakit tanaman jadi lebih mudah,” tutup Nurdianto. (***)