Dianggap Menghina Media, Petinggi Karang Taruna Dilaporkan Ke Polisi

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Sejumlah wartawan media cetak dan online melaporkan salah seorang warga Kecamatan Gantarang ke kepolisian, lantaran dianggap melakukan penghinaan terhadap media, Rabu 3 Juni 2020.

Dilaporkannya pemuda asal Sawere, Desa Bontoraja, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba atas nama Fatahuddin berawal dari pernyataan yang dianggap penghinaan terhadap media yang disampaikan di grup WhatsApp.

“Tapi saya secara pribadi bukan lagi corona yang menjadi penyakit. Tapi media. Na kita sebagai masyarakat mesti betu betul teliti dalam membaca dan menyakdikan media. Walau secara pribadi belum meyakini virus Covid-19 itu. Tapi tetap kita mempercayai namanya pihak kesehatan. Apapun hasil yang dikeluarkan oleh pihak kesehatan maka itu hasil yang terbaik untuk kita semua,” tulis Fatahuddin menanggapi pembahasan mengenai isu Covid-19 dalam grup WhatsApp Forum Keluarga Bulukumba.

Pernyataan Fatahuddin tersebut di atas, kemudian menuai kontroversi di kalangan insan pers.

Salah seorang diantaranya Pimpinan HARIAN RADAR SELATAN, Amiruddin Makka, mengaku geram terhadap pernyataan tersebut di atas. Dan melaporkan Fatahuddin ke pihak kepolisian.

“Tidak boleh dibiarkan ini, masa media dibilang penyakit. Hari ini kami (beberapa insan pers) sudah mengadukan pernyataan Fatahuddin ke Polres Bulukumba,” jelas Amiruddin Makka

Sementara itu, Kanit Tipidter, Polres Bulukumba, Aipda Muh. Fatir, membenarkan informasi mengenai kejadian tersebut di atas.

“Iye dek (sapaan kepada wartawan, red), tadi datang beberapa teman-teman wartawan,” katanya saat dikonfirmasi oleh RADAR SELATAN mengenai kebenaran informasi tersebut di atas.

Meskipun begitu, menurut Aipda Fatir dokumen laporannya belum sampai ke unit Tipidter. “Belum masuk ke ruangan saya, sepertinya baru masuk ke meja pimpinan,” jawabnya.

Saat dikonfirmasi oleh RADAR SELATAN, Fatahuddin yang diketahui merupakan Ketua Karang Taruna Kecamatan Gantarang tersebut, mengakui pernyataannya di grup WhatsApp tersebut.

Meskipun begitu, menurutnya ada kesalahan pengetikan saat dirinya menyampaikan pesan tersebut.

“Ada kesalahan pengetikan, yang saya maksud ‘sosial media’, bukan ‘media,” dalihnya.

Lanjut Fatah, sosial media yang ia maksud adalah pengguna Facebook. Menurutnya yang lebih berbahaya daripada Covid-19 ialah pengguna Facebook yang membagikan berita-berita yang belum tentu kebenarannya.

“Ia sudah pasti pengguna FB. Karna hari ini jelas ketua bahwa banyak berita berita yg di ser (share/bagikan, red) tapi tidak di tau sumber kebenarannya. Ini yg terkadang saya secara pribadi pusing yang mana ini mau kita ikuti mengenai kasus corona,” jawab Fatah, saat ditanya mengenai siapa yang ia salahkan apakah warganet atau pembuatan berita yang ia anggap tidak benar.

Saat ditanya mengenai apakah pembuat berita-berita tidak benar itu salah atau tidak, menurut Fatah, pembuat berita (media) tidak salah. “Ie, karena pasti bisaji napertanggung jawabkan,” kata Fatah.

Fatah mengatakan bahwa ia menyadari kesalahannya dan telah meminta maaf melalui pesan di grup satu jam setelah ia melontarkan pertanyaan kontroversinya.

Tetapi saat ditanya lagi mengenai alasannya meminta maaf apakah karena merasa bersalah kepada media atau hanya karena kesalahan ketik. Menurut Fatah, ia meminta maaf atas kesalahan pengetikan. “Saya meminta maaf atas dasar kesalahan ketikan,” ucap Fatah lagi.

Apabila dilaporkan ke Polisi, Fatah mengungkapkan bahwa ia siap mengikuti proses hukum, dan rencananya ia ingin menggelar konferensi pers untuk membuat klarifikasi bahwa ia berbuat bukan atas nama lembaga melainkan pribadi.

“Jelas ini keliru, kenapa Karang Taruna diserang, padahal saya membawa pribadi saya,” ketusnya. (Ewa)