Radar Selatan

Bulukumba

Eksistensi Radio Redup di Era Digital

SIARAN. Bung Rival saat melakukan aktivitas siaran di bilik siar RCA Bulukumba. Bung Rival merupakan salah satu penyiar terlama di Bulukumba yang bertahan sudah 28 tahun. 

 

* Sejumlah Penyiar Bertahan Puluhan Tahun

Radio menjadi media penyebar informasi kemerdekaan Republik Indonesia hingga ke pelosok negeri. Namun seiring berjalannya waktu, radio digantikan televisi lalu tergantikan oleh smartphone. Pendengar setia, radio kini hanya kalangan tertentu.

Laporan:
ANJAR SUMYANA MASIGA

Di era digital, selain generasi milenial dan generasi z, sebagian besar orang memang lebih asik dengan smartphonenya. Android selain penghubung dengan dunia luar, menjadi teman bekerja dan teman saat menunggu.

Di android, kita dapat menginstal aplikasi radio, namun jika disurvei bisa jadi penggunanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan media sosial seperti FB, instagram, twitter, whatsapp, youtube dan lainnya. Radio dianggap jadul, sehingga hanya kalangan tertentu saja yang menjadi pendengar setia.

Dulu radio menjadi media hiburan bagi masyarakat, terlebih yang tinggal di pelosok-pelosok perkampungan. Namun di era digital media hiburan masyarakat bergeser. Informasi-informasi yang ingin didapatkan pun jauh lebih cepat.
Sayangnya tak semua berita berasal dari sumber terpercaya. Misalnya, menjamurnya hoax di media sosial menjadi tantangan percepatan informasi di era digital ini.

Batasan informasi dari radio segmennya lebih privasi dibandingkan dengan media sosial. Misalnya, seseorang dapat dengan mudah berbagi informasi pribadi di media sosial, juga dapat dengan mudah mengakses informasi pribadi.

Radio eksis di tahun 80-90-an. Di era telepon genggam masih sangat langka, berjamur wartel (warung telpon), bahkan telepon umum masih dijumpai. Remaja yang lahir di tahun 90-an di Bulukumba merasakan betul peran radio mampu memperluas pertemanan melalui radio.

Dulu radio amatir bertebaran di Bulukumba, sebut saja yang pernah eksis Dagadu FM, Majestik FM, Trend FM, Tristar FM, Fantastik FM dan banyak lagi. Turut mengudara juga radio yang masih eksis hingga kini, RCA (Radio Cempaka Asri), Bintang FM, dan SPL (Suara Panrita Lopi). Para penyiar terdahulupun bahkan bertahan hingga kini. Salah satunya Sarifuddin. Di telinga pendengar, dia dikenal sebagai Bung Rival Sebastian.

Menyiar bagi Bung Rival adalah hobi. Tak heran jika di dunia radio, dia sudah menggeluti hingga 28 tahun lamanya. Awalnya hanya ikut-ikut layaknya asisten penyiar. Dia senang menirukan apa yang dilakukan penyiar dan berbicara seolah-olah menyiar, hingga akhirnya dia mendapatkan kesempatan masuk ke bilik siar sebagai penyiar sesungguhnya. Meski terbiasa berlatih menirukan penyiar tetap saja canggung.

“Menyiar itu gampang-gampang susah. Gampangnya karena mudah beradaptasi, dan terpenting adalah penyiar itu harus berwawasan luas,” kata Rival saat ditemui beberapa hari lalu.

Sejak awal menyiar, Rival mengudara di RCA yang saat itu masih bernama Cempaka Sari. Radio yang berada di Jalan Pepaya Bulukumba itu turut membesarkan namanya. Tak hanya warga Bulukumba saja yang mengenalnya, bahkan melalui radio dia dikenal di selatan Sulsel seperti Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, dan Sinjai.

Seiring perkembangan zaman, Rival turut merasakan kemudahan yang dialami penyiar kini. Misalnya dari segi pemenuhan permintaan lagu pendengar. Tinggal judul lagu yang ingin diperdengarkan. Dulu serba manual, harus mencari satu demi satu kaset dan memutarnya.

“Dulu tempat kaset harus dikasih kode biar gampang dapatnya. Tapi yang bikin siksa itu kalau misalnya sudah dapat tempatnya pas buka isinya bukan kaset itu, jadi harus cari lagi,” sesalnya.

Disamping kemudahan, Rival cukup menyadari pendengar radio saat ini tak seperti dulu lagi. Meski demikian, dia bertahan karena masih ada pendengar setia. Terlebih radio mampu menjangkau pelosok dan masih menjadi hiburan bagi kalangan tertentu. Dari radio juga dia menggantungkan hidupnya.

“Sejak gabung di radio, saya banyak menghabiskan waktu di radio. Kadang-kadang sulit membagi waktu dengan keluarga, misalnya saat itu dibutuhkan tapi karena masih bertugas maka tidak bisa meninggalkan bilik siar,” jelasnya.

RCA, radio yang berdiri sejak 1989 itu terus berevolusi menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Radio tersebut awalnya didirikan oleh Masno atau H. Abdul Hamid (pemilik dari Gamazi FM). Di tahun 2000 beralih ke H. Kamaruddin Said. RCA kini beralih menjadi radio digitalisasi dan berbasis online.

“Karena radio itu di manapun, kapanpun dan sedang melakukan apapun, kita bisa mendengarkannya. Apalagi sekarang, kita bisa dengar di HP, atau melalui website,” ujar Yudi.

Sejak berdiri, RCA tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Lembaga tersebut bergelut secara mandiri dengan mengandalkan penghasilan dari iklan dan dialog-dialog yang digelar RCA.

Meski peminatnya tak lagi sebanyak dulu, namun radio bertahan ditengah persaingan ketat di era digital. Mendengarkan siaran radio kini tak hanya melalui radio yang sudah menjadi barang antik, tapi juga bisa di ponsel dan komputer. Meskipun ada sejak lama, radio yang mampu bertahan sampai kini patut diapresiasi. Meskipun terlambat, penulis ingin mengucapkan Selamat Hari Radio. Peringatan tersebut jatuh pada 13 Februari 2019 kemarin. (***)

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!