Faizal, Pendekar “Manca Baruga” dari Parangnyelling

Reporter: Baso Marewa

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Sembari memperlihatkan video dari Gawai yang ia genggam, Faizal menceritakan pada saya bahwa rekaman video tersebut diambil saat ia tampil di hadapan  Wakil Bupati pada Pembukaan Pesta Nelayan II Parangnyelling 12 Oktober 2019  lalu.

Pada video tersebut terlihat pria yang akrab disapa Edo ini sedang melakukan gerakan bela diri diiringi dengan tabuhan gendang. Gerakan Edo dalam video yang ditunjukkannya, mengingatkan saya pada gerakan Wiro Sableng saat mengeluarkan jurus  badai menerpa gelombang.

Ternyata, gerakan yang Edo tunjukkan merupakan gerakan seni bela diri tradisional atau diistilahkannya dengan ‘Manca Baruga’.

“Ini waktu saya menampilkan gerakan Manca’ Baruga,” sebutnya sambil memperlihatkan video.

Kata Edo, ‘Manca Baruga’ merupakan seni bela diri tradisional asli Dusun Parangnyelling, Desa Dannuang, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba. Di mana Pencat Silat Tradisional ini sudah turun-temurun diajarkan kepada masyarakat kampung Parangnyelling.

Edo berkisah sewaktu baru lulus Sekolah Dasar, ia sudah mulai berlatih ‘Manca Baruga’. Ayahnya sendiri yang mengajarkan setiap gerakan bela diri khas Parangnyelling tersebut.

Kini Edo telah berusia 39 Tahun Kekhawatiran akan punahnya tradisi “Manca Baruga” mulai menjadi ketakutan tersendiri baginya.  Ia khawatir wasiat dari Almarhum ayahnya untuk tetap melestarikan Bela diri  tradisional tersebut tidak bisa ia penuhi.

“Bapakku sendiri yang berpesan, supaya saya tetap melestarikan ini Manca Baruga,” ungkapnya.

Kemauannya untuk tetap melestarikan bela diri tradisional kampungnya itu terus menumbuh bersama tekad dan semangat yang ia miliki. Hingga Pengetahuan dan keterampilan terkait “Manca Baruga” yang Edo miliki itu kini berusaha ia salurkan ke generasi-generasi muda di kampungnya.

“Sekitar 20 orang mi yang ikut belajar Manca, dan kuharap masih akan bertambah,” kata  Edo.

Selain itu Edo berharap pengetahuan atau tradisi lokal kampungnya itu bisa tereksplorasi. Bukan saja di dalam kampung itu sendiri tapi di seluruh Kabupaten Bulukumba, atau mungkin Se-Indonesia. Bahkan ia bermimpi seni bela diri ini bisa mendunia seperti seni bela diri lainnya yang sudah terkenal seperti Silat, Wing Chun, Karate, dll.

Berdasarkan saran yang ia dapatkan dari beberapa orang yang tidak dia disebut namanya, kedepannya Edo berencana akan membentuk sanggar atau komunitas, agar bela diri Manca Baruga ini bisa termanejemen dengan baik.

Pertemuan saya dengan Edo di Warkop Bang Andi, Caile, Kecamatan Ujung Bulu siang hari itu (Rabu, 15/10/2019) merupakan yang pertama kalinya. Nama Edo nyaris tidak pernah terpublikasi.
Ia hanya dikenal sebagai petugas kebersihan di Bulukumba. Waktu senggangnya digunakan   melatih pemuda-pemuda kampung atau muridnya setiap 2 kali seminggu yakni pada hari Selasa malam dan Sabtu malam. TIdak ada lokasi dan tempat latihan yang pasti, menurutnya lokasi atau penentuan tempatnya tergantung situasi dan kondisi.

Upaya Edo dalam pelestarian tradisi kampung patut diacungi jempol. Ia melatih pemuda-pemuda kampungnya seorang diri dan tanpa memungut biaya dari murid-muridnya. Edo, Pendekar dari Parangnyelling. (*)