Gadis Pemurung di Bangku Taman

CERPEN: ADAM YUDHISTIRA

Cerpen Pagi ini, kau terjaga dengan
kepala berat dan tulang seakan
lungkah. Jarum jam menunjuk
angka sepuluh—angka yang terlalu
tinggi untuk bisa disebut pagi. Dalam posisi
berbaring, kau memikirkan kekasihmu.
Semestinya lelaki itu sudah datang, tapi
kenyataannya, lagi-lagi ia tak datang. Kau
lantas memaksakan diri untuk turun dari
ranjang, mencuci muka, lalu bergegas
menuju taman di seberang apartemenmu.
Seperti biasa, kau menunggunya di sana.
Bangku itu berderit saat beban tubuhmu
tumpah di atasnya. Di pikiranmu, waktu
berjalan seperti wanita tua. Kau dihinggapi
rasa bosan yang akut dan lantas berpikir,
berapa lama waktu untuk menunggu? Satu
menit? Satu jam? Seharian? Sepanjang usia?
Kau menggumam. Jengkel. Tidak terasa,
sebelas bulan sudah berlalu.
Kau mengitari taman itu dengan
pandangan. Di sana hanya ada laki-laki
setengah baya yang sangat kau hafal
aktifitasnya. Kadang ia menyapu guguran
daunmahoni, mengumpulkandaunangsana,
memangkas pelepah palem putri, atau
berbincang dengan beberapa pengunjung.
Kemudian pandanganmu beralih ke
bangku-bangku. Kau lantas berpikir, sudah
berapa lama bangku-bangku itu kosong?
Sudah berapa lama bangku di sebelahmu
kosong? Sudah berapa lama hatimu kosong?
Bukankah seharusnya ia ada di sana? Duduk
di sampingmu? Di dalam hatimu? Angin
bertiup pelan. Daun-daun berguguran. Rasa
sedih menyilet bagian dalam tubuhmu.
Kau mendengus kesal. Untuk meredamnya,
kau lantas membangun adegan
imajiner. Sebenarnya kau benci tindakan itu,
namun kau tetap melakukannya. Perlahanlahan
suara biola memenuhi telingamu.
Lantunan iramanya mendorongmu berdiri,
memejamkan mata, lalu menari dengan
penuh perasaan.
***

“Setiap datang, ia selalu duduk di sana.”
Penjaga taman menunjuk ke satu bangku.
“Aku tak berani menegurnya, sebab ia selalu
murung.”
“Seharusnya Anda menghampirinya,”
celetuk seorang perempuan berdahi
lebar. Seekor anjing pudel putih menjilati
sepatunya. “Setidaknya Anda tahu apa
masalah yang sedang dihadapinya hingga
mengambil keputusan seburuk itu.”
“Maret begini angin bertiup kencang
sekali.” Penjagatamanberdalih.“Akubekerja
lebih berat dari biasanya. Hanya saat angin
berhenti, aku bisa memperhatikannya. Ia
terlihat gelisah, melihat ke kiri dan ke kanan,
seolah menunggu seseorang.”
“Sayang sekali Anda tidak sempat
menanyainya,” tukas seorang pemuda
berkaca mata. Ia memegang sebuah buku,
dari sampulnya, sepertinya itu buku Seno
Gumira Ajidarma, Saksi Mata.
“Pohon-pohon di taman ini membenciku.”
Penjaga taman mengeluh. “Mereka
meluruhkan daun-daun sangat banyak. Aku
tak punya waktu untuk bersantai—bahkan
untuk beberapa menit saja.”
“Apa yang paling sering dilakukannya?”
tanya perempuan berdahi lebar.
“Ia tersenyum-senyum sendiri. Entah
apa yang membuatnya tersenyum. Sungguh
ganjil, sesaat murung, sesaat tersenyum, sesaat
kemudian ia menari.”
“Gadis yang aneh,” ucap perempuan
berdahi lebar.
“Iya, gadis aneh yang malang,” timpal si
pemuda dibalas anggukan penjaga taman.
***

Kau duduk tanpa bergerak. Matamu
memejam dan berpura tertidur. Kau
menamai permainan itu Dunia Mimpi.
Dulu, jika suasana rumahmu begitu buruk,
jika pertengkaran mama dan papamu
begitu gaduh, kau akan naik ke ranjang,
memejamkan mata, lalu membayangkan
tempat yang indah.
Kau meyakinkan diri berada di dunia
yang indah. Namun sayangnya, cara itu tak
pernah berhasil, dan sekarang pun tetap
tak berhasil. Saat membuka mata, kau
masih sendiri, masih menunggu dengan
setia. Seperti kesetiaan awan pada musim.
Seperti kesetiaan angin yang mengugurkan
daun-daun.
Biasanya kau akan beranjak jika suasana
taman sudah sepi, tapi pagi ini berbeda.
Seorang perempuan berdiri di hadapanmu.
Perempuan bergaun biru. Ia menggantung
tas kecil di bahu. Dari balik kaca mata
hitamnya, kau merasa perempuan itu
memandangimu.
***

“Mungkin ia menunggu seseorang.”
Penjaga taman berspekulasi.
“Ia mungkin menunggu kekasihnya,”
timpal perempuan muda.
“Tapi ia tak pernah bicara pada siapa pun.
Itukan aneh,” imbuh si pemuda.
“Mungkin menghindari orang-orang
yang tak dikenal,” sahut perempuan muda
merasa yakin.
“Ia selalu murung. Bukankah begitu?” Si
pemuda menatap penjaga taman.
Penjaga taman mengangguk. “Ada
yang bilang padaku, kekasihnya meninggal,
padahal mereka akan menikah.”
Si pemuda mendesah. “Tragedi yang
memilukan,” lirihnya sambil berdecak.
“Apakah ia punya keluarga?” tanya
perempuan muda, entah kepada siapa
pertanyaan itu ditujukan.
Penjaga taman menggeleng. “Aku tak
pernah melihat ada orang lain di dekatnya.”
“Sebatang kara?” tanya si pemuda.
Penjaga taman hanya mengedikkan
bahu.
***
Selama ini, kau tak pernah menunjukkan
rasa penasaran kenapa kekasihmu tak
pernah datang. Yang kau tahu hanya
menunggu. Meskipun kadang-kadang
beragam prasangka tumbuh dan menjalar
di kepalamu, menjadi pohon yang memiliki
sulur-sulur rumit dan berduri. Setiap
memangkasnya, setiap itu pula jemarimu
luka. Hingga pagi ini, perempuan itu
menghampirimu.
“Apa yang kaulakukan di sini?”
“Aku menunggu Lang.”
“Menunggu? Maksudmu kau tak tahu
apa yang terjadi?”
Kau menggeleng.
“Aku menyesal tak memberitahumu.”
Perempuan itu menyandarkan punggungnya
ke bangku. “Oh, aku lupa, kalau tak
salah aku telah mengutus polisi untuk
memberitahumu.”
Kau ingat suatu malam di sebelas
bulan yang lalu. Kau terbangun oleh
gedoran di pintu. Seorang polisi berdiri,
berbicara tentang Lang. Polisi itu pasti
gila. Ia bilang, Lang mati di tepi jalan
lintas Pantai Utara. Kau memandanginya
dengan teliti. Rambutnya berantakan, kulit
wajahnya berminyak. Ya, polisi itu pasti gila.
Bagaimana mungkin ia mengatakan Lang
mati, sedangkan beberapa jam sebelumnya
kalian masih bersama.
“Pergilah dari sini, bulan depan aku
akan menikah!”
Kau membanting pintu, kembali ke
ranjang dan melanjutkan tidur. Kau tak
mau ambil pusing. Kaupikir, bekas kekasih
Lang-lah yang mengutus polisi itu. Ia masih
belum rela melepas Lang hidup bersamamu.
Dan sekarang, perempuan itu duduk di
sampingmu.
“Bagaimana kejadiannya?” tanyamu
dingin. Mungkin ibarat luka, kau tidak lagi
merasa sakit, sebab kau sudah terbiasa.
Menunggu adalah luka, kausadari itu
sepenuhnya.
“Ia dibereskan.”
“Jelaskan apa itu ‘dibereskan’?”
“Lang dibunuh.”
“Dia hanya musisi.”
“Tidak hanya musisi.”
“Maksudmu?”
“Lang mengantongi bukti hilangnya
banyak orang di negeri ini.”
“Kau yakin?”
“Aku mengenal Lang jauh sebelum
dirimu.”
Jawaban perempuan itu bernada
pongah, namun kau tak peduli. “Ceritakanlah
apa yang tak aku ketahui,” ucapmu dengan
sikap tak acuh.
Sementara perempuan itu bercerita,
kau bertanya-tanya. Bagaimana bisa kau
tak mengenali Lang. Kau memang tak
memperhatikan hal-hal yang terjadi pada
dirinya, terutama hal-hal yang tak pernah
diceritakannya.
“Apakah ia pernah menitipkan
sesuatu?” tanya perempuan itu membuyar
lamunanmu.
“Sedikit.”
Kau teringat koleksi video dan foto
kebersamaanmu. Dokumentasi itu
kaukumpulkan selama tiga tahun. Semua
tersimpan rapi di kamar apartemenmu.
“Boleh aku melihatnya?”
Kau ragu, namun sesuatu di dalam
dirimu menginginkan perempuan itu
melihat bukti bahwa Lang mencintaimu.
Sisi hewanimu ingin melukainya. Ia lantas
memegang bahumu, membantumu berdiri.
Kau menepisnya dengan halus. Kau tak
ingin terlihat lemah—terutama di hadapan
perempuan yang mencintai Lang. Untuk
pertamakali, setelahberbulan-bulan, rasanya
kau ingin menangis.
***

“Aku melihat perempuan itu
menghampirinya.” Penjagatamanberkatasambil
menatap ke bangku kosong. “Ia orang pertama
sekaligus orang terakhir yang ditemuinya.”
“Kau kenal?” tanya perempuan muda.
Penjagatamanmenggeleng.“Bisasajakakak
atau adiknya. Dan tak lama usai mereka pergi,
orang-orang berteriak histeris.”
“Mungkin gadis itu sudah tak bisa
mengontroldiri,” katasipemuda. “Kesedihan
memang mampu membuat orang gelap
mata.”
“Sore itu aku mendengar suara benda
jatuh.” Penjaga Taman menatap lurus ke
gedung lima tingkat yang ada di seberang
taman. “Tapi aku tak bisa memastikannya.”
“Aku membaca berita di koran, katanya
gadis itu bunuh diri, meloncat dari lantai
tiga,” ucap si pemuda.
“Aku juga melihat berita di televisi,”
ujar perempuan muda. “Sungguh tragis.”
Penjaga taman menghentikan ceritanya.
Ia kembali menyapu daun-daun,
perempuan muda kembali bermain dengan
anjing pudelnya, dan si pemuda kembali
melanjutkan bacaannya. Bertahun-tahun
kemudian, tak ada lagi yang membicarakan
gadis itu. Tapi kadang-kadang, apabila
sedang sepi, Penjaga taman kerap melihat
bayang-bayang sedang menari di bawah
guguran daun-daun, hanya saja bagian itu
tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. (*)

———————–

Biodata Penulis:
ADAM YUDHISTIRA bermukim
di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Cerita pendek, Cerita Anak, esai,
puisi dan ulasan buku yang ditulisnya
telah tersiar di berbagai media massa
cetak dan online di Tanah Air. Aktif
mengelola Taman Baca Masyarakat
Palupuh untuk anak-anak di sekitar
tempat tinggalnya. Buku kumpulan
cerita pendeknya Ocehan Semut
Merah dan Bangkai Seekor Tawon
(basabasi, 2017)