Beranda Bantaeng Hepatitis Masih “Gentayangan” di Bantaeng

Hepatitis Masih “Gentayangan” di Bantaeng

Selasa, 3 Maret 2020, 17:47 WITA
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Bantaeng, dr Hikmawaty

BANTAENG, RADAR SELATAN — Virus Hepatitis masih bergentayangan di Kabupaten Bantaeng. Sebelumnya, Dinas Kesehatan telah melakukan upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

Meski tak separah efek corona virus, namun penyakit menular satu ini cukup membuat seseorang menderita.

Advertisement

Beberapa waktu lalu, hepatitis ini bahkan membuat keresahan di tengah masyarakat setelah munculnya pesan siaran di WhatsApp jajanan yang terindikasi tertular.

Pasien terpapar virus tersebut masih terus bertambah. Pertanggal 24 Februari sampai saat ini, pasien yang terdaftar di RSUD Bantaeng terkait kasus hepatitis sudah lebih dari 100 pasien.

“Itu di RSUD. Belum lagi di klinik ataupun di puskesmas,” tutur Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Bantaeng, dr Hikmawaty saat dikonfirmasi ihwal virus Hepatitis di Bantaeng, Senin, 2 Maret 2020.

Dia menyebut, rata-rata pasien baru yang masuk di RSUD kasus hepatitis adalah tiga sampai lima orang perhari.

Dia pun membeberkan pencegahan yang bisa dilakukan saat ini yakni tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

Dokter yang akrab disapa Hikmah itu mengatakan bahwa masyarakat harus membiasakan cuci tangan dengan bersih sebelum mengkonsumsi makanan, juga menjaga cara batuk serta bersin yang baik dengan menutup hidung dan mulut.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantaeng, dr Armansyah menyebut bahwa pihaknya telah memutus penularan virus hepatitis yang lewat makanan dan minuman.

“Kasus Hepatitis itu ada 5 macam, ada Hepatits A, B, C, D dan E. Perlu dipahami bahwa penularan Virus Hepatitis A melalui makanan dan minuman terkontaminasi virus Hepatitis A. Demikian pula Hepatitis E,” urainya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa, 3 Maret 2020.

Khusus Hepatitis B, C dan D paling umum melalui darah dan cairan kelamin.

Sehingga kasus yang kemungkinan menyebabkan peningkatan kasus adalah Hepatitis A.

“Penularan dari makanan dan minuman telah kita putus mata rantai penularannya dengan berbagai usaha mulai dari pemeriksaan depot air minum, pemeriksaan sampel makanan hingga sosialisasi dan pembagian alat pelindung diri pada saat menjajakan makanan,” jelas Arman, sapaan akrabnya.

Namun untuk penularan virus melalui kontak langsung antar perorangan, Ketua Asosiasi Dokter Khitan Indonesia (Asdoki) Sulawesi ini menjelaskan bahwa hal itu masih gencar disosialisasikan agar bisa terhindarkan.

“Sosialisasi masih terus dilaksanakan dalam membentuk mindset masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Penularan dari orang ke orang butuh usaha lebih keras karena melibatkan kemampuan menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dari masing-masing individu,” tutup dia. (sid/has