Beranda Nasional IDI dan Kementan Berkolaborasi Lakukan Penelitian Lanjutan Eucaliptus

IDI dan Kementan Berkolaborasi Lakukan Penelitian Lanjutan Eucaliptus

Rabu, 8 Juli 2020, 17:25 WITA
Penandatanganan MOU antara Balitbangtan Kementerian Pertanian dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam hal penelitian lanjutan tanaman herbal sebagai antivirus corona.

JAKARTA, RADAR SELATAN – Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan berencana lakukan penelitian lanjutan tanaman obat sebagai kandidat antivirus dan obat corona.

Langkah itu diperkuat dengan MoU bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo atau SYL mengatakan, kerjasama ini menandakan bahwa hasil penelitian Balitbangtan sepenuhnya akan diserahkan kepada IDI untuk dilakukan uji klinis dan riset-riset lainnya sesuai dengan prosedur yang ada.

“Sudah lima bulan negara kita diliputi oleh tekanan akibat kebaradaan virus. Oleh karena itu kita tidak diam, apapun akan kita lakukan demi bangsa dan negara,” ujar Mentan SYL saat menyaksikan penandatanganan kerjasama tersebut di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Dia menyebut, pihaknya memiliki balai penelitian yang menangani komoditas tanaman obat. Kementan juga memiliki Balai Besar Pascapanen.

Selain itu, Kementan juga memiliki Balai Besar Veteriner yang memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk meneliti virus. Fasilitas ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh IDI untuk melakukan pengembangan riset dan uji klinis.

“Kami memiliki 300 an profesor dan peneliti yang berkompeten, bahkan kami pernah berkontribusi dalam penanganan wabah flu burung. Tidak ada alasan untuk kita tidak membantu negara,” katanya.

Mentan SYL berharap kerjasama ini dapat mempercepat penelitian tanaman eucalyptus agar bisa dimanfaatkan masyarakat luas dan membantu negara dalam menanggulangi wabah pandemi covid-19.

Ketua IDI Daeng Muhammad Faqih, menilai kerjasama ini akan menciptakan suatu terobosan yang memberikan harapan dan dorongan terhadap Indonesia dalam memerangi wabah virus.

“Dunia kesehatan sebenarnya banyak menggunakan bahan dari Indonesia. Namun sampai sekarang memang belum dibudidayakan untuk dilakukan riset. Untuk itu kami siap menggali potensi bangsa supaya betul-betul dimanfaatkan di dalam industri kesehatan maupun dalam pelayanan kesehatan,” katanya.

Menurut Faqih, ada dua hal penting yang ingin dilakukan. Pertama berkomitmen untuk mendorong semua inovasi yang berbasis riset anak bangsa dan harus didorong dan diteliti dengan baik.

Kedua, supaya memberikan manfaat dsri hasil riset kepada bangsa dan memanfaatkan sebesar-besarnya tantangan dan peluang yang sedang dihadapi.

“Barangkali sekarang inilah saatnya peluang kita bisa menggali dan dorong penelitian dalam negeri supaya nantinya bisa dimanfaatkan oleh bayak masyarakat,” kata dia. (*)