Irmawati; Dulu Jualan Es Manis, Sekarang Pimpinan DPRD Jeneponto

  • Whatsapp

RADAR SELATAN — Pernahkah terbayang seperti apa kehidupan yang pernah dijalani seseorang yang kini menjabat sebagai pimpinan DPRD? Apakah hidup mereka mulus-mulus saja?

Irmawati, termasuk satu dari sedikit perempuan yang mampu memberi arti dalam kehidupannya. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jeneponto ini sudah kenyang dengan asam garam kehidupan.

Read More

Bisa menjadi pimpinan di lembaga wakil rakyat tidak pernah ada dalam benak Irma, sapaan akrabnya. “Jangankan jadi pimpinan DPRD, jadi anggota dewan saja jauh dari mimpi saya,” katanya.

Hidup, bagi Irma adalah titian perjuangan. Sejak kecil, ia terbiasa hidup susah. “Saya sebenarnya bercita-cita jadi Polwan,” ujar perempuan energik yang selalu tampil tomboy.

Ditemui di ruang kerjanya, Senin 20 April, Irma bercerita banyak soal masa lalunya. Tentang pernikahan yang gagal, kerja keras, dan kegigihan untuk bisa berada pada fase seperti sekarang ini.

“Alhamdulillah saya merasa semua yang saya jalani adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Mulai dari perceraian, tinggal di Panti Asuhan, sampai bertemu dengan suami saya saat ini dan bisa berada di dunia politik dan menjadi pimpinan DPRD,” urainya.

Tegas, lugas, dan apa adanya. Kesan ini tampak begitu berbicara dengan kader Partai Golkar ini.

Sebelum masuk di dunia politik, Irma dikenal sebagai pengusaha dan kontraktor. Jauh sebelum itu, saat duduk di bangku SD, ia mengaku sudah mulai belajar mencari uang dengan berjualan es manis. “Saya jualan es pakai lonceng yang dibunyikan,” katanya sambil tersenyum.

Kerasnya hidup tidak hanya sampai disitu. Sarjana Sosial ini bahkan nyaris putus asa saat badai perceraian menimpanya. “Tahun 2013 saya menjadi single parent. Ibuku meninggal. Dan saya memutuskan tinggal di Panti Asuhan agar tidak merepotkan keluarga,” ungkapnya.

Demi bertahan hidup, Irma bekerja apa saja. Pernah menjadi sales, bekerja di perusahaan asuransi, sampai jualan solar. “Saya bisa bertahan karena memikirkan masa depan anak. Saat itu anak saya masih SD. Saya berjanji dan berdoa. Cukup saya saja yang mengalami kerasnya hidup.”

Tidak hanya memikirkan anak kandungnya, Irma juga menjadi harapan anak-anak di Panti Asuhan tempatnya bernaung.

Selama bertahun-tahun berjuang, ia mulai mampu berdiri tegak. Mulai dari kontrak rumah sendiri, bertemu jodoh, dan menjalani usaha bersama sang suami. “Semua kami mulai dari nol bersama-sama. Termasuk keterlibatan saya di Partai Golkar sampai akhirnya memutuskan bertarung di Pileg 2019 dan lolos dengan suara yang signifikan,” terang perempuan kelahiran 20 Juli 1982 ini.

Apa resepnya? Irma hanya berucap “kesabaran dan keikhlasan”. Itulah rumusnya dalam menjalani kehidupan yang ia percaya penuh dengan kejutan-kejutan.

Irma membiarkan hidupnya mengalir apa adanya. Saat menjabat dan mendapatkan posisi penting sebagai Wakil Ketua DPRD pun ia anggap sebagai ujian. “Saya ini pelayan rakyat. Pembantunya rakyat. Dibayar oleh rakyat. Makanya harus bisa bekerja sepenuh hati,” kata perempuan yang aktif di sejumlah kegiatan sosial ini.

Karenanya, di momen Hari Kartini, Irma berpesan agar semua perempuan terutama di Jeneponto bisa menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Bahwa setiap perempuan memiliki energy untuk mengatasi dan menghadapi setiap masalah. (una)

 

 

Penulis : | Editor :

Related posts