Kades Lonrong Disinyalir Tebang Pilih

by
KECEWA. Salah satu rumah warga Desa Lonrong, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng yang membutuhkan bantuan atap seng namun tidak terakomodir oleh pemerintah setempat.

Penyerahan Bantuan Atap Seng

BANTAENG, RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID — Penyerahan bantuan rehabilitasi rumah berupa atap seng kepada warga tidak mampu di Dusun Pangngai, Desa Lonrong, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng disinyalir tidak tepat sasaran.

Betapa tidak, seorang perempuan paruh baya di dusun tersebut, Haniah merasa kecewa dengan keputusan Kepala Desa Lonrong, Rosdiana yang disinyalir tebang pilih dalam penyerahan bantuan tersebut.

“Rumah sudah hampir rubuh tapi tidak dipedulikan. Seandaikan suamiku masih hidup pasti tidak akan seperti ini keadaan, tapi sudah wafat,” katanya saat ditemui di kediamannya, Minggu, 7 April 2019 petang.

Nampak Haniah sedang menyiapkan makanan bagi ibunya yang mengidap kebutaan sejak 40 tahun silam, disela-sela kesibukannya itu, dia pun menyebut bahwa dirinya kerap kali dijanji untuk bantuan rehabilitasi rumah, bahkan dia sempat menyerahkan identitas diri dan juga rumahnya sering di foto oleh pihak pemerintah desa setempat dengan alasan untuk pelaporan.

Tetapi hingga tahun anggaran 2018 sudah berakhir, keluarga tak mampu ini hanya bisa menggigit jari melihat orang yang lebih mampu, mendapat bantuan dari pemerintah desa.

Bukan hanya Haniah dan Ibunya, Dg Sarri yang menimpa hal serupa. Warga lainnya, Jubaedah juga mengutarakan perihal adanya pendataan warga yang layak mendapat bantuan rehabilitasi itu. Tetapi hingga saat ini dia belum mendapat bantuan tersebut, meski telah mengikuti prosedur yang diinginkan pemerintah desa setempat.

“Pernah juga dipanggil ke kantor desa, panggilannya mau diambil KTP untuk didata. Disuruh tanda tangan apa. Saya didata tapi orang lain dapat,” kata Jubaedah.
Sama halnya yang dirasakan Sitti. Dia mengatakan dirinya sudah dijanji sejak lama untuk perbaikan tempat tinggalnya. “Sudah lama. Suamiku saat itu belum meninggal saat saya dijanji, nah sudah berapa tahun lalu kematian suamiku,” ucap Sitti.

Selain itu, dia juga mengakui bahwa dirinya bersama sejumlah keluarga kurang mampu dipanggil ke Kantor Desa Lonrong pada Jumat, 5 April 2019. Saat itu, kata dia, dikira akan ada kejelasan bantuan yang bakal diberikan.

“Banyak kesana ada mungkin 20 orang. Ke sana (kantor desa) tidak ada apa-apa. Ada ji, kartu pengenal dibagi-bagikan,” aku Sitti.

Belakangan diketahui, kartu pengenal itu merupakan alat peraga kampanye salah satu paslon capres-cawapres dan calon legislatif untuk DPRD Provinsi Sulsel.
Sementara itu, Kepala Desa Lonrong, Rosdiana saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa pihaknya memanggil warga untuk datang ke kantor desa sekadar disampaikan bahwa bantuan atap seng harus segera dipasang.

“Warga dipanggil datang ke kantor desa, ditanya kalau dapat atap seng langsung dipasang,” katanya.
Saat ditanya menyoal janji penyaluran bantuan, dia pun mengatakan bahwa tak sedikitpun pihaknya menjanjikan warga untuk penyerahan bantuan atap seng itu.
“Tidak ada yang dijanji itu pak, sembarang bicara saja itu orang. Suruh datang ke sini,” ucap Rosdiana dengan nada yang meninggi.

Sementara Sekretaris Desa, Rusli menyebut bahwa mereka yang mendapat bantuan di bulan April ini masih masuk dalam anggaran 2018. Meski menyeberang tahun anggaran, namun kata dia hal itu sudah ada laporan pertanggungjawaban.

“Ini berhahap, jadi yang tidak dapat di 2018 nanti dikasi lagi di (anggaran) 2019,” kata Rusli.
“Ini terhambat pembagiannya karena barang terlambat datang,” lanjutnya. (sid/has)