Radar Selatan

Bantaeng

Kapolda Singgung Soal Terorisme

CINDERAMATA. Penyerahan cinderamata dari Kapolda Sulsel, Irjen Pol Hamidin (kanan) untuk Bupati Bantaeng, Ilhamsyah Azikin (kiri). 

RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID, BANTAENG — Pernyataan kontroversial Kapolda Sulsel Irjen Pol Hamidin tentang pelaku terorisme berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel), disinggungnya sendiri dalam kunjungan kerja di Kabupaten Bantaeng, Senin, 18 Februari 2019.

Mantan Kapolres Bantaeng itu mengatakan, beberapa waktu lalu media pemberitaan santer mengabarkan jika Kapolda Sulsel menyebut Sulawesi Selatan sebagai sumber terorisme. Baginya itu adalah penggalan-penggalan berita yang sah-sah saja.

Dihadapan hadirin di Gedung Balai Kartini Kabupaten Bantaeng, kapolda menjelaskan maksud pernyataannya beberapa waktu lalu tersebut.

“Media banyak membahas isu Kapolda Sulsel mengatakan bahwa daerah Sulawesi Selatan sebagai sumber teroris, itu penggalan-penggalan yang tidak masalah. Tetapi secara profesional, karena saya sudah bekerja di bidang terorisme kurang lebih 7 atau 8 tahun, saya menjadi direktur pencegahan terorisme, saya tahu persis bagaimana kondisi di Sulsel,” tandas Hamidin.

Lebih lanjut, dia yang pernah menjabat sebagai Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini menyebut bahwa yang dia katakan beberapa waktu lalu itu, selain masa jabatannya yang menggeluti bidang terorisme, hal itu juga diakuinya tidak terlepas dari pengalamannya saat berada di Sulawesi Selatan.

“Saya kenal persis wilayah Sulawesi Selatan dan terorisme terbanyak ada di Sulsel. Dulu, ketika saya menjabat sebagai Kapolres Bantaeng, terjadi bom di Mall Ratu Indah dan Showroom Haji Kalla, saya juga mengikuti perkembangan penanganan kasus itu,” bebernya.

Dia juga menyebut ketika menjabat sebagai Kapolres Luwu Utara, terdapat pula serangan teror bom Sampodo. Dia juga mengikuti olah TKP hingga tahap penyelidikan.

Bahkan katanya, setelah beberapa kasus di Sulsel tersebut, dirinya meninggalkan pulau Sulawesi, ternyata masih ada beberapa kasus terorisme lainnya. Hingga dia masuk ke Densus 88 Anti Teror selama 4 tahun.

“Saya masih memonitor khusus kasus di Sulsel dan beberapa kali saya melakukan penyelidikan di wilayah Sulsel,” ungkapnya.

Dia pun mengatakan bahwa di Sulsel terdapat 13 orang teroris yang ditangkap. Bahkan, lanjutnya, dari 13 orang itu, ada beberapa orang yang kembali terlibat kasus teroris.

“Maka konsentrasi saya di Sulawesi Selatan disamping penanganan kasus kejahatan konvensional, kasus kejahatan siber. Kami juga akan memonitoring radikalisme, intoleransi dan terorisme,” pungkasnya. (sid/has)

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!