Kejaksaan Prioritaskan Upaya Pencegahan Korupsi

by
Kajari Bulukumba, Muh. Ihsan

Wawancara Khusus Kajari Bulukumba, Muh. Ihsan

Hari ini, 22 Juli merupakan Hari Bakti Adhyaksa ke-59. Hari Bakti Adhyaksa merupakan hari peringatan berdirinya Kejaksaan Republik Indonesia.

Laporan: Rakhmat Fajar

Reporter RADAR SELATAN, Rakhmat Fajar secara khusus melakukan wawancara dengan Kepala Kejasaan Negeri Bulukumba, Muh. Ihsan, terkait Hari Bakti Adhyaksa dan komitmen para jaksa dalam memberantas korupsi.

Institusi kejaksaan merayakan hari jadinya 22 Juli 2019 atau dikenal dengan Hari Bakti Adhyaksa. Berbagai kegiatan dilakukan termasuk di Kejaksaan Negeri Bulukumba.
Kepada RADAR SELATAN, Kepala Kejaksaan Negeri Bulukumba membeberkan sejumlah aktivitas yang sudah digelar. Diantaranya, bakti sosial sunat massal dan donor darah.

Kejari Bulukumba, Muh. Ihsan mengatakan ada 25 anak kategori prasejahtera atau kurang mampu dikhitankan dalam rangka Hari Bakti Adhyaksa. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beban keluarga prasejahtera di Bulukumba. Selain sunatan massal, pihaknya juga menghelar donor darah, yang selanjutnya diserahkan ke Bank darah Bulukumba.

“Ini semua rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Bakti Adhyaksa yang ke-59 tahun ini. Puncaknya 22 Juli 2019,” jelasnya, Kamis 18 Juli.
Terkait perayaan Hari Adhyaksa, Muh. Ihsan yang sebentar lagi pindah tugas, berharap ke depan Kejaksaan lebih profesional dan berkomitmen dalam memproses semua kasus hukum, utamanya kasus korupsi.

Dan salah satu langkah strategis dalam kaitan perkara korupsi adalah pencegahan.
“Kami mengoptimalkan pengawalan pembangunan serta memberikan pendampingan untuk mencegah dan meminimalisir kebocoran anggaran melalui program TP4D, jaga desa dan peran datun,” paparnya.
Dari segi penindakan, pihaknya telah mengoptimalkan seksi tindak pidana khusus terhadap temuan-temuan atau laporan -laporan yang diterima oleh kejaksaan.
“Tentunya dengan penanganan yang proporsional dan profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku,” katanya.

Muh. Ihsan berharap, kejaksaan dapat memberi kontribusi yang optimal terutama dalam pencegahan korupsi itu sendiri. Di samping juga tetap mengupayakan adanya pengembalian kerugian negara serta memberikan efek jera terhadap pelaku korupsi.
Menurutnya, kinerja dan prestasi kejaksaan dalam pemberantasan korupsi sudah cukup maksimal. Meski diakui, masih saja ada yang menganggap belum ada gebrakan yang berarti yang dilakukan kejaksaan dalam hal pemberantasan korupsi khususnya di Bulukumba.

“Kami berusaha keras. Termasuk saat ini memprioritaskan pada upaya pencegahan korupsi. Adanya Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) misalnya, meskipun tidak populer tapi hasilnya memuaskan,” jelas Ihsan.
Program ini menjadi paradigma baru dalam penegakan hukum yang berbasid pada paradigma korektif, restoratif, dan rehabilitatif. (***)