Kejari Mengaku Sudah Kantongi Calon Tersangka Penjualan Tahura

by
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Kasus dugaan korupsi penjualan lahan di Taman Hutan Raya (Tahura) Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari, memasuki babak baru. Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bulukumba telah mengantongi nama yang bakal menjadi tersangka.
Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Bulukumba, Femi I Nasution mengungkapkan, dalam kasus tersebut ada tiga unsur yang paling bertanggung jawab. Masing-masing dari unsur masyarakat (penjual), pemerintah, dan pihak swasta atau pembeli (perusahaan).
“‎Kita sudah ada target tersangka, itu berjumlah lebih dari tiga orang. Hanya saja ekspose baru akan kita lakukan setelah ada hasil audit dari BPKP agar kita punya dasar penguatan untuk penetapan tersangka,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Bulukumba, Femi I Nasution.
Menurut Femi, berdasarkan hasil penghitungan kerugian negara internal, kerugian negara dalam kasus ini berkisar Rp 3 miliar lebih. Jumlah tersebut merupakan hasil perhitungan dari total lahan negara yang diperjualbelikan seluas 41,5 hektare.
Penetapan tersangka sendiri berdasarkan alat bukti yang berhasil kumpulkan penyidik. Dari bukti yang ditemukan dan keterangan saksi, kuat dugaan ada pelanggaran hukum dalam proses penjualan lahan negara tersebut.
Sebelumnya, penyidik melakukan penggeledahan di dua kantor pemerintah, yakni Kantor Camat Bontobahari dan Kantor Lurah Tanah Lemo. Dari penggeledahan tersebut penyidik menyita sejumlah dokumen, satu unit laptop, dan surat-surat penting lainnya.
“Kita tunggu saja. Setelah ada (audit) dari BPKP, maka kita umumkan tersangkanya,” jelas Fahmi.
Sementara itu, Kepala Kejari Bulukumba, Muh. Ihsan menambahkan, meskipun alat bukti telah cukup kuat untuk menetapkan tersangka, namun pihaknya tetap harus menunggu hasil audit BPKP. Karena menurutnya, publikasi nama tersangka sebelum seluruh tahapan dan proses selesai akan berimpilkasi hukum bagi penegak hukum sendiri.
“Iya ada tiga nama dari tiga unsur berbeda, namanya sudah ada tapi kita belum bisa publis. Yang pasti itu dari penjual, pembeli, dan oknum pejabat yang memfaslitasi. Sabar saja yang pasti ini berproses terus,” tegasnya.
Dari data data yang dihimpun Radar Selatan, tiga tersangka yang bakal menjadi tersangka diduga dari pemerintahan, yakni oknum yang meloloskan administasi penjualan lahan. Kemudian dari unsur masyarakat yakni pihak yag mengklaim pemilik lahan sekaligus penjual.
Sementara dari unsur swasta, yakni pihak perusahaan atau pengusaha sebagai pembeli lahan. Rencananya lahan yang dijual akan dijadikan sebagai tempat pengembangan 0tambak ikan. (*)