Keluarga Babi

CERPEN: MUFA RIZAL

Rumah salah satu tetangga kemalingan. Pintunya masih utuh namun pemilik rumah tidur pulas bagai orang mati. Saat bangun mendapati uang juga perhiasaan miliknya lenyap, ia mengamuk sambil memaki. Gerutuannya tak berhenti meski sudah menemui Pak RT maupun polisi. Ia heran komplek perumahan bisa kemalingan. Rumor yang berembus ada warga melakukan pesugihan: memelihara tuyul atau menjelma sebagai babi kemudian menyatroni rumah konglomerat kikir.
Perumahan jadi lebih ramai juga mencekam sejak peristiwa itu. Sesama penghuni saling menaruh curiga apalagi ketika ada yang menampakan gelagat mencurigakan. Contohnya Sarmin, ia baru saja membeli mobil padahal hanya seorang kepala sekolah. Pria paruh baya itu sempat dicurigai, sampai murid-muridnya mendemo dan enggan masuk kelas menuntut Sarmin lengser. Ia ketahuan menerima sogokan dari wali murid dan me-markup dana renovasi bangunan lama sekolah. Anakku, Sarah bercerita hal itu sesampainya di rumah.
“Lalu, Pak Sarmin dipenjara?”

“Mungkin atau palingan dimutasi ke daerah terpencil.” Katanya sambil menaikkan bahu.
Ibu-ibu bergunjing soal janda pengangguran dengan bergelimang uang. Mereka mengira ia simpanan pejabat atau menipu lelaki berduit. Istriku tak ikut kawanan tersebut. Ia masih punya pekerjaan yang lebih penting dan tak suka mengumbar aib orang lain. Sampai pada giliran keluarga kami jadi bahan gosip murahan. Hal itu semakin jelas ketika Pak RT mengundang datang ke kelurahan untuk rapat. Di sana sudah banyak bapak-bapak merokok juga menikmati kopi hitam.
“Saya mendapat laporan dari warga bapak baru saja beli televisi dan motor?”
“Benar, Pak. Ada sedikit rejeki lebih.”
“Tapi, bapak tidak pernah terlihat pergi ke kantor atau pabrik?”
“Saya kerja di rumah, biasanya malam hari keika tetangga sedang tidur.”
“Oh.” Suara serempak, tanpa dikomando. Seolah menemukan jawaban atas tanya di kepala.
“Kenapa, Pak?”
“Jadi isu itu benar. Bapak melakukan pesugihan?” Desak Pak RT.
“Kalau yang bapak maksud bekerja demi mencari kekayaan. Itu benar,” ungkapku sambil menarik napas. “Selain dari pada itu saya tidak pernah neko-neko.”

“Jadi babi, kan? Ngaku saja, Pak. Kami janji tidak akan main hakim sendiri atau membawa ke polisi asal bapak mau mengaku.”
“Saya tak pernah main gituan. Jaman canggih begini kok masih percata hal-hal klenik.”
“Lalu, bapak kerja apa jika hanya di rumah?”
“Saya penulis.”
“Wartawan? Kami semua juga tahu. Tapi kenapa bapak tak pernah terjun ke lapangan mencari berita?” mendengar jawaban Pak RT membuatku tak ingin menjelaskan lebih detail.
“Saya bagian mengetik hasil laporan teman wartawan.” Tukasku.
Dengan kepala penuh berbagai hal, aku berjalan pulang ke rumah. Sepanjang jalan komplek yang sepi, sesekali menoleh ke belakang. Takut dibuntuti. Demi menghapus kecurigaan warga aku sesekali keluar rumah. Meski pekerjaan akhirnya sedikit terbengkalai, bercengkrama dengan tetangga tampaknya jauh lebih penting.
Dulu, ketika sekolah berbagai hinaan sudah kuterima. Hanya karena beda, memiliki mata segaris dan kulit pucat. Teman-teman memanggilku babi atau celeng—padahal aku tidak gendut. Aku tak melawan, sebagai minoritas melawan hanya memunculkan masalah baru. Dan, membikin mereka lebih ganas dari biasanya.

Walau begitu aku tak punya nama keluarga dan sembahyang di kelenteng atau gereja. Ibu bilang nenek buyut mungkin kawin dengan seorang keturunan Tionghoa. Namun tak mewarisi bahasa juga keyakinannya. Aku pergi ke masjid sesekali untuk belajar mengaji meski tak terlalu pandai hanya sebatas bisa. Pada saat peristiwa mengerikan itu, keluarga kami selamat karena campuran. Sehari-hari aku memakai Bahasa Daerah, membuat teman-teman sedikit menerima.
Badan rasanya meriang terkena angin malam, wajah sedikit gatal digigit nyamuk kebun. Ruang tamu gelap hanya diterangi temaram lampu meja. Jam dua belas malam dan mata seperti hanya ingin menikmati kasur di samping istri. Melewati kamar Sarah, kulihat replika wajah istriku ketika muda tengah terlelap. Ia pulas memeluk boneka babi merah muda. Sarah memintanya saat ulang tahun. Aku tak mengerti kenapa putri kami meminta binatang itu.

“Enggak mau ganti yang lain? Gajah, kucing atau beruang?”
“Endak, Pigi lucu warnanya merah muda.” Dalihnya.
“Yah, tapi babi itu haram, Sarah.” Goda Istriku.
“Sarah gak makan Pigi. Lagi pula dia tidak hidup cuma boneka.” Aku tertaa mendengar jawaban Sarah, sementara wajah istriku tersenyum puas.
Berbicara tentang celeng, guru sejarah pernah berkisah tentang kerajaan termasyhur bernama buah yang menguasai Nusantara. Ia bilang jika babi lambang kesuburan pada jaman itu dan raja memakai bentuknya sebagai tempat penyimpanan uang. Tak semua orang menganggap babi kotor juga menjijikan.
Kudapati Ibu Sarah sedang tidur ayam ketika sampai kamar kami. Ia bergerak pelan dalam selimut yang menutupi badan mungilnya. Tampaknya masih memikirkan omongan teman arisan yang menganggap suaminya bersekutu dengan setan.
“Tidak bisa tidur?”
“Gimana bisa tidur kalau kamu belum pulang.”
“Tak usah hirau omongan orang. Mereka tak memberi makan kita.”
“Aku tak suka dengan mulut-mulut nyinyir. Ingin kuremas saja bila di depanku.”
***

Pagi hari seusai mencuci muka, aku kemudian menuju pekarangan untuk melemaskan tubuh. Perumahan mendadak riuh dengan mobil polisi berhenti depan rumah Pak Budi. Para tetangga sibuk bergunjing melihat keluarga terpandang itu bingung. Istriku datang menenteng belajaan. Air mukanya seperti habis diiterogasi, dipaksa menjawab berbagai pertanyaan juga tuduhan. Matanya melotot, masuk ke dalam menaruh sayur-mayur lalu kembali membawa minuman dingin.
Aku pernah berpikir ingin menulis tentang babi-babi tapi membayangkan saja membuat ngeri. Meski dulu ketika melihat Patkai di serial Kera Sakti, tertawa juga simpati dalam waktu bersamaan. Jelmaan panglima itu dihukum menjalani seribu kehidupan percintaan sebelum akhirnya menjadi babi.

“Sejak dulu beginilah cinta, penderitaanya tiada akhir.” gumamku mengingat kata-kata legendaris miliknya.
“Apanya yang menderita?” tanya istriku ketus, muncul tiba-tiba. “Kamu menyesal kawin denganku!?”
“Kamu lagi datang bulan? Sensitif sekali dari kemarin.”
“Yah, lagi pengen makan orang!”
“Ibu-ibu tadi membicarakan Mas. Mereka makin mengira sampeyan melakukan pesugihan. Aku tak terima, terus bilang kalau suamiku orang baik-baik tak pernah aneh-aneh. Pengarang cerita, bukunya lumayan banyak dan yang terpenting laku!” cerocosnya tanpa henti.
Aku jadi ingat sudah lama tak menulis cerita pendek setelah memiliki keluarga kecil. Waktu menulis pun tak sebebas ketika lajang. Kadang kala Sarah minta diantar ke tempat les, ibunya juga tak ketinggalan minta ditemani belanja atau pacaran di taman kota. Kehidupan jauh berubah tanpa terasa. Orang-orang tak lagi seramah dahulu. Dari luar rumah, Sarah berjalan sambil menampakan wajah kusut tanpa semangat. Ia duduk, menaruh tas juga menelan ludah
“Memang keluarga kita memelihara babi, Yah? Teman-teman mengataiku celeng.” Ungkapnya sambil menitikan air mata.
Mojokerto, Oktober 2018

____________

Biodata Penulis:
MUFA RIZAL, penulis asal Mojokerto, mahasiswa Univeristas Negeri Surabaya. Cerpennya tersebar di berbagai media massa. Buku kumpulan ceritanya, Api Ibrahim (2017)