Kemana Pasien-pasien Itu? Dokter Beberkan Rumah Sakit Kini Kosong Kehilangan Pasien

dr Hisbullah, Sp.An, dengan latar belakang ruang perawatan rumah sakit yang tampak kosong. 

MAKASSAR, RADAR SELATAN — Sejak pandemi Corona melanda Indonesia, fenomena unik terjadi di banyak rumah sakit termasuk di Sulsel. dr. Hisbullah, Sp.An, salah seorang dokter yang bertugas di sejumlah rumah sakit di Makassar  menuliskan dalam statusnya di medsos  jika kondisi ini sebagai fenomena langka.

Apakah tidak ada lagi orang sakit? Begitu dia mengungkapkan rasa penasarannya.

Dokter Taufiqul Ande Latief yang sehari-hari bertugas di RS Haji dan sejumlah rumah sakit swasta juga merasakan hal sama. “Semua kosong. Biasanya full, sekarang orang pada takut. Daripada berisiko lebih baik obat jalan,” bebernya.

Pengaruh pandemi corona ini memang begitu dahsyat. Bukan hanya rumah sakit yang kehabisan pasien, dokter yang membuka praktek pun hampir semua tutup, tak melayani pasien. Hanya beberapa buka, itupun terbatas.

Berikut tulisan dr. Hisbullah, Sp.An:

Kemarin saya ke ICU RS Wahidin utk visite di ruang ICU, ternyata tinggal satu pasien yg dirawat sementara kapasitasnya 15 tempat tidur. Saatnya foto2 di dalam ICU karena dihari biasa sebelum ada wabah covid  tdk mungkin bisa leluasa ambil gambar karena akan mengganggu privasi pasien. 

Sebelum si covid ini datang menyerang, ICU ini tdk pernah kosong, satu tempat tidur pun susah didapat. Pasien2 antre utk masuk. 

Sekarang ??? Kosong melompong. Apakah cuma ICU yang kehabisan pasien ??? Tidak. Di ruang perawatan biasa, bangsal2 juga banyak yg kosong, bahkan ada RS yg satu lantai kosong tdk ada pasien. Apakah RS Wahidin saja?, ternyata tidak. hampir merata di semua RS di Makassar. 

Jika pasien di rumah sakit sdh mulai berkurang artinya tdk banyak lagi orang sakit, penduduk sdh sehat semua. Alhamdulillah kita tdk usah repot2 urusi orang sakit. 

Pertanyaannya adalah apakah fenomena kosongnya rumah sakit saat ini akibat tdk ada lagi orang sakit ??? 

Saya curiga ini diakibatkan masyarakat takut di rawat karena takut tertular corona. Mereka ketakutan jangan sampai si covid  keluyuran ke ruang perawatan mereka. 

Bisa juga disebabkan pembatasan2 di poliklinik karena surat masuk perawatan kebanyakan diperoleh dari poli. Memang ada himbauan dari beberapa perhimpunan profesi utk sementara menunda pelayanan yg sifatnya elektif dan tidak emergensi demi meminimalkan tertularnya para nakes seperti beberapa saat yg lalu banyak dokter dan perawat yg meninggal akibat tertular covid-19.

Atau nakes dan pasiean sama2 takut. 

Yang membuat saya heran adalah ternyata di ruang gawat darurat juga sepi, tdk hiruk pikuk seperti biasa. Saat normal saya ingat banyak IGD luar biasa ramainya bahkan lorong2 diisi ekstra bed. Tdk jarang pasieb rela menunggu berlama2 mengantri di kursi roda. 

Mestinya jika jika ada pembatasan di poli maka pasien larinya ke poli, tapi ini tdk terjadi, IGD pun sepi.

Jadi … ke mana pasien2 itu yg selama ini meramaikan rumah sakit ??? 

Apakah mereka berdiam diri menahan rasa sakit di rumah ??? Wallahu alam, semoga tdk begitu. 

Selain pasien elektif dan emergensi sebenarnya ada kategori lain yaitu urgent. Pasien2 ini bisa saja masih tampak baik2 saja, tapi jika dibiarkan maka perlahan2 penyakitnya akan semakin parah lalu akan jadi berat yg kemudian hari sulit ditolong atau akan tiba2 jadi gawat. Misalnya tumor, batu saluran kemih, infeksi kronis, hipertensi, gula dan masih banyak lagi penyakit lainnya yg diam2 bisa membesar atau memberat. 

Lalu bagaimana ??? … apakah poliklinik kita buka lagi ??? Sebenarnya poliklinik di rumah sakit tdk pernah tutup, hanya ada sedikit pembatasan pd spesialis tertentu misal dr gigi, THT, mata dimana mereka memang sangat rentan tertular. Sebagian dokter dan perawat dirumahkan atau isolasi mandiri karena ada riwayat kontak. 

Menurut pendapat saya situasi ini tdk boleh dibiarkan berlarut2. Poliklinik secara perlahan kita buka, yang penting nakes2 ini dibekali dgn APD yg memadai. Dibuatkan alur buat semua pasien yg masuk sehingga bisa terskrining dgn baik, bisa dipisahkan antara yg suspek kopit dgn yg nonkopit. Ruang perawatn dibuatkan zona misalnya hijau, kuning dan merah utk efisiensi dan egektifitas pemakaian APD. 

Rumah sakit pemerintah tertentu di kota besar dikhususkan rawat pasien kopit saja sementara rumah sakit lain yg kebih kecil dan  RS swasta fokus utk rawat pasien non kopit. Tdk perlu semua RS rawat kopit, ini utk memudahkan kontrol dan koordinasi juga utk mengefisienkan alokasi APD. 

Kita harus memberi keyakinan kpd masyarakat bahwa Insya Allah mereka aman di rumah sakit, protokol yg ada meminimakan resiko penularan di rumah sakit. 

Pemerintah juga harus menyiapkan APD yg cukup kpd Nakes agar mereka lebih percaya diri tdk takut tertular dan mereka terproteksi dgn baik. Yang paling penting adalah mempercepat pemeriksaan swab PCR pd pasien PDP sehingga cepat ada kepastian, padien bisa segera bisa dipisah yg positif dan negatif. Yg menyulitkan saat ini adalah banyaknya pasien PDP yg menunggu hasil atau ada pasien abu2 yg sulit ditentukan dimana mereka semua dirawat dgn full APD. 

Kita stres merawat pasien yg tdk jelas positif negatifnya sehingga terus menerus ber APD ria. Seandainya proses diagnostik covid bisa cepat, sesungguhnya rumah sakit tdk perlu mencekam, tdk perlu terlalu lama dirawat, yg negatif segera dipulangkan supaya yg baru bisa segera dapat tempat. 

Akhirnya saya mengajak kpd semua pihak utk memaksimalkan fungsi RS jangan sampai banyak orang menderita di rumah karena takut ke RS  sementara rumah sakit juga kosong dan manajemen RS pusing  memikirkan biaya operasional RS karena pemasukan yang sangat berkurang. Jangan sampai terjadi PHK massal terutama tenaga2 honorer. Tdk diminta2 wabah ini berkepanjangan lalu terjadi outbreak, tenaga kesehatan berkurang. 

Semoga bencana covid-19 segera berlalu, Aamiin. (rdr)