Kini Mas Menteri Bolehkan Bersekolah, tapi Dengan Syarat….

JAKARTA, RADAR SELATAN — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim umumkan kebijakan mengenai siswa bersekolah selama masa pandemi Covid-19.

Mendikbud kini membolehkan membuka kembali sekolah di wilayah yang terbilang zona hijau, namun dengan sejumlah persyaratan.

Sesuai dengan koordinasi dengan Gugus Tugas Nasional Covid-19, Kemenkes, Kemenag, Kemenko PMK, BNPB, Kemendagri dan instansi lainnya, diputuskan hanya enam persen peserta didik yang berada di zona hijau atau 85 kabupaten/kota.

“Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa Pandemi COVID-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat,” kata Mendikbud Nadiem saat mengumumkan rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) secara virtual, Senin (15/6) kemarin.

Nadiem menegaskan, tahun ajaran baru bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada Juli 2020.

Namun demikian, untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

“Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan belajar dari rumah,” terang Mendikbud Nadiem.

Terkait jumlah peserta didik, hingga 15 Juni 2020, terdapat 94 persen peserta didik yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dalam 429 kabupaten/kota. Sehingga mereka harus tetap Belajar dari Rumah.

Nadiem menegaskan, proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis.

Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.

Persyaratan kedua, adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin.

Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka.

Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

“Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan Belajar dari Rumah secara penuh,” tegas Mas Menteri.

Orang tua, lanjut dia, berhak menolak anaknya masuk sekolah (meski di zona hijau) bila merasa tidak nyaman. Pihak sekolah tidak boleh melarang itu dan harus memberikan pelajaran dengan metode daring.

Nadiem juga mengajak semua pihak termasuk seluruh kepala daerah, kepala satuan pendidikan, orang tua, guru, dan masyarakat bergotong-royong mempersiapkan pembelajaran di tahun ajaran dan tahun akademik baru.

“Dengan semangat gotong-royong di semua lini, saya yakin kita pasti mampu melewati semua tantangan ini,” kata Mendikbud. (esy/jpnn)