Kisah Inspiratif Pria Asal Mojokerto jadi Pengatur Lalulintas

by
Imam Hanafi terlihat sedang mengatur arus lalulintas di Jalan Tun Abdul Razak Gowa.

Bermodalkan rompi dan peluit, Imam Hanafi (49) bekerja tanpa pamrih mengatur lalulintas agar kemacetan tidak terjadi di sepanjang Jalan Tun Abdul Razak. Pria asal Mojokerto, Jawa Timur ini sudah menjadi warga Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

LAPORAN: Fariqul Qanun

Kegigihannya mengatur lalu lintas jalan ini cukup dikenal oleh warga, terlebih lagi bagi kalangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) yang tiap hari melewati Bundaran Samata, Jalan Tun Abdul Razak Gowa tersebut.

Imam mengaku, pekerjaan yang digelutinya ini semata-mata karena kesukarelaan saja. Meski tak digaji, ia bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih. Sebab, keselamatan dan keinginan membantu orang lain adalah yang utama.

Imam Hanafi pertama kali menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan tepatnya di kota Makassar 9 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2010 lalu.

“Saya sendirian datang kesini tanpa keluarga, istri dan tiga anak saya semua berada di Jawa,” ungkapnya, belum lama ini.

Imam Hanafi biasa berada di jalan H.M Yasin Limpo atau di bundaran Samata dan terkadang di jalan Tun Abdul Razak tepatnya di dekat perumahan BTN Pao Pao Permai.

Ia mengaku tidak akan meninggalkan jalan-jalan tersebut sebelum lalu lintas di jalan ini sudah lancar. Bahkan, sampai pukul 7 malam ia masih mengatur lalu lintas.

“Kalau pagi hari kadang saya memulai pukul 7 pagi paling telat pukul 8 apalagi kalau hari Senin, lalu lintas sangat padat dan kadang kalau menjelang sore sekitar pukul 5 saya sudah bersiap-siap untuk pulang. Tapi itu tergantung lalu lintasnya, kalau masih padat biasanya saya sampai
pukul 7 malam,” ungkapnya.

Kata Imam, selama bekerja terkadang ada beberapa pengendara yang memberinya uang. Baik itu pengendara yang menggunakan mobil ataupun motor.

“Kadang ada yang ngasih Rp2.000, sesekali ada yang memberi Rp50.000 dan pernah ada yang ngasih Rp100.000. Kadang juga dalam sehari tak ada sama sekali. Apapun itu saya tetap ikhlas dan bersyukur apa yang telah di berikan,” katanya.

Selain mengatur lalulintas, Imam Hanafi masih mempunyai pekejaan lain. Jika ada waktu, ia bekerja mencari makanan burung.

“Hasilnya saya kirimkan ke anak dan istri saya di Jawa,” lanjutnya.

Apa yang dilakukan Imam ini cukup menjadi contoh inspiratif dan respon positif dari para pengguna jalan.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Anugerah Wira Saputra.

“Saya salut dengan pak Imam. Dia bekerja tulus tanpa pamrih. Dia merelakan waktunya buat melancarkan lalulintas. Saya sering sekali melihatnya sedang mengatur lalu lintas dan saya sangat terbantu,” ungkapnya. (*)

Loading...