Komunitas Keluarga Angkat, Sulap Kertas Bekas jadi Santunan Kaum Duafa

by
SORTIR. Relawan KKA menyortir kertas hasil donasi di Sekretariat KKA. Kerta tersebut akan dijual setelah terkumpul banyak dan hasilnya akan digunakan untuk sumbangan pada kaum duafa.

Komunitas Keluarga Angkat (KKA) adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam kemanusiaan dengan penyaluran bantuan secara berkesinambungan kepada keluarga kurang beruntung. Dana yang terkumpul dari berbagai sumber diantaranya hasil donasi kertas bekas.

Laporan: ANJAR S MASIGA

Tanggungjawab sosial melatarbelakangi sejumlah pemuda di Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba untuk menggagas sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Keluarga Angkat (KKA).

Komunitas yang berdiri pada Februari 2018 ini bergerak dalam kemanusiaan secara berkelanjutan untuk menolong masyarakat kurang mampu di Kecamatan Herlang.

Saya berkunjung ke Sekretariat KKA di Dusun Lembang Tumbu, Desa Gunturu. Sekretariat tersebut merupakan rumah kayu milik Jumrah, yang juga tercatat sebagai bagian dari KKA. Rumah tersebut, sebelumnya memang tak lagi dihuni.

Ketua KKA, Andi Bali Rekeng yang baru saja tiba menurunkan dari mobilnya tumpukan kertas bekas. Kertas tersebut merupakan donasi dari pribadi, kantoran, termasuk dari Kantor Kodim 1411, diangkut dari Kota Bulukumba. Kertas-kertas bekas itu kemudian disortir di kolong sekretariat lalu diikat rapi dan bergabung dengan kertas lainnya yang lebih dulu dikumpul.

“Ini disortir dulu. Kertas putih dengan kertas putih, yang berwarna dengan yang berwarna. Begitu juga yang mulai pudar warnanya dan disesuaikan dengan jenis kertasnya,” jelasnya.

Proses penyortiran memang tak enteng. Hanya saja relawan yang datang untuk melakukan kerja itu lumayan banyak, sehingga kerja bersama lebih memudahkan. Tercatat 75 relawan dalam komunitas tersebut. Setelah terkumpul selama sebulan kertas bekas itupun dijual.

“Kami sudah tiga kali penjualan. Sebelumnya hanya dua sampai tiga ton saja. Tapi kami akan lebih gencar untuk donasi kertas karena targetnya lima ton,” ungkapnya.

Pengumpulan donasi kertas dilakukan KKA sejak Mei 2019 dan dijual pada bulan itu juga. Donasi dalam bentuk kertas diberlakukan karena pertimbangan untuk menguatkan finansial KKA, selain bergantung dari donator tetap. Hasilnya lumayan untuk dapat menopang hidup keluarga angkat.

Kertas bekas tersebut dijual pada pengepul, yang kebetulan juga tercatat sebagai relawan KKA. Kertas yang telah disortir dihargai mulai Rp 500/kg untuk kertas berwarna, kertas buram Rp 800/kg, kardus Rp 1.000/kg dan kertas putih Rp 1.2000/kg. Sekali penjualan 2 hingga 3 ton dalam empat kali penjualan sebelumnya. Kertas tersebut dikumpul sebulan lamanya.

“Tapi di penjualan ke lima ini kami target 5 ton karena semakin banyak yang mulai tergerak untuk berdonasi kertas,” akunya.

Dari data KKA, saat ini keluarga angkat yang disantuni sudah 25 KK tersebar di sejumlah titik di Herlang. Mereka menerima bantuan secara berkelanjutan berupa sembako dan juga keperluan rumah tangga lainnya. Penerima bantuan tersebut diklasifikasi lagi oleh KKA berdasarkan tingkat kemiskinan dan kemampuan penerima manfaat.

“Istilahnya di KKA 1X1 yang artinya sekali menerima dalam sebulan lalu 1X2 artinya sekali dalam dua bulan,” jelasnya.

Usai penyortiran kertas, KKA bergerak menyambangi penerima manfaat di Kampung Pamangkulu, Desa Gunturu. Mengantarkan paket sembako yang dibeli dari hasil penjualan kertas kepada lansia tiga bersaudara, Boko, Empa dan Kebo.

Lansia bersaudara itu bermukin di areal perkebunan yang jaraknya beberapa kilo dari perkampungan padat penduduk. Mereka tinggal di gubuk reot yang berukuran 3X5 meter tanpa penerangan listrik.

Penyaluran bantuan KKA untuk pertama kalinya dilakukan Februari 2018 lalu. Kala itu menyambangi suami istri lansia, Sawwang (70 tahun) dan Juwasa (65 tahun) yang juga tinggal di gubuk reot, di Dusun Bontoballe, Desa Gunturu. Keduanya merupakan lansia yang saling menopang untuk bertahan hidup, suami lumpuh dan istri buta. Meski demikian mereka tetap berusaha bekerja dengan menjadi buruh penganyam penampi beras atau pattapi.

“Dari keluarga inilah kami kemudian berfikir jika hari ini menyalurkan bantuan bagaimana kehidupan mereka ke depannya jika tidak dapat bantuan lagi. Memikirkan lansia itu, kami pikir bantuan harus berkelanjutan,” cerita Andi Bali Rekeng.

Rencananya, KKA meluaskan jaringan relawan dari sebelumnya yang menggalang masyarakat dan pemuda dari berbagai latar belakang pekerjaan kemudian menjaring remaja. Agar bisa lebih luas dalam penyaluran bantuan, ekonomi KKA juga harus dikuatkan, dari donatur dan donasi kertas bekas akan merambah pada plastik dan besi-besi bekas. (**)

Loading...