Radar Selatan

Bulukumba

Lima Bulan Duduki Lahan Kosong di Tamatto, Masyarakat Adat Tak Gentar Ancaman

LAHAN SENGKETA. Pendudukan lahan bersengketa yang diduga diserobot PT. Lonsum oleh penggugat di Dusun Tamappalalo, Desa Tamatto, Ujung Loe. Penuntut meminta tanah adat kajang dikembalikan pada warga.

Tahun ini, seratus tahun sudah keberadaan PT. Lonsum di tanah Bulukumba. Sengketa lahan masyarakat Adat Kajang dan pihak PT. Lonsum sampai kini tak pernah tuntas. Tak ada kata menyerah dari penggugat. Meski bertaruh nyawa, mereka tetap menjaga komitmen memperjuangkan tanah leluhur.

LAPORAN: Anjar Sumyana Masiga

Senin, 11 Februari 2019, masyarakat adat Kajang kembali bersitegang dengan PT. Lonsum. Ini untuk ke sekian kalinya, PT. Lonsum mencoba menaklukkan penggugat yang menduduki lahan sengketa di Dusun Tamappalalo, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe.
Mereka diperhadapkan pada pekerja yang tak lain merupakan penduduk pribumi. Saudara mereka sendiri.
Pagi itu “Katto” (sebuah alat tradisional terbuat dari bambu) dibunyikan pertanda panggilan untuk berkumpul. Rupanya pekerja mulai melakukan penanaman karet di pinggiran areal yang telah ditanami masyarakat.
Sejak melakukan pendudukan, masyarakat memang mulai bercocok tanam di sana, ada jagung, kacang-kacangan, dan wijen. Ada juga padi jenis ketan hitam yang ditanam tak jauh dari aliran air.
Di lokasi pendudukan, tak hanya pria dengan tubuh kekar yang bertahan. Ada ibu-ibu yang ikut mengambil peran. Ada remaja, anak-anak, dan tak ketinggalan lansia.

Mendengar kode panggilan, ibu-ibu saling memanggil dan berjalan dengan cepat ke sumber suara. Disusul yang lainnya. Mereka ke lokasi didampingi personel keamanan. Di titik penanaman sudah ada ribuan karyawan. Sebagian hanya turut menyaksikan penanaman. Pekerja dibekali batang bambu kuning, kira-kira lebih semeter panjangnya. Digunakan untuk mempatok lokasi yang akan ditanami karet. Namun saat suasana bersitegang, tongkat tersebut digunakan salah satu karyawan memukul salah satu penggugat. Beruntung petugas kepolisian cepat mengamankan. Hanya saja masyarakat kecewa atas pengamanan. Penggugat diminta menahan diri, namun petugas membiarkan penanaman berlangsung. Padahal sudah ada kesepakatan untuk tidak ada tindakan penanaman sampai sampai persoalan pengukuran ulang selesai.
Terik matahari pagi cukup menyengat, namun penggugat bertahan menghadapi para karyawan. Tak gentar, tak mundur selangkah pun agar perluasan penanaman tidak melewati batas aliran air.

“Sudah pulang semua karyawan, kita juga bubar,” kata Amiruddin, ketua Agra Ranting Tamatto dalam perjalanan kembali ke lokasi pendudukan.
Saat rencana penanaman paksa sampai di telinga masyarakat adat, Pung Taja, adik dari Ammatoa bergegas menuju lokasi pendudukan. Dari Tanah Toa Kajang, dia berjalan kaki ke lokasi pendudukan. Perjuangan untuk mengembalikan tanah adat memang tak murah. Tidak mudah.
Lima bulan penggugat bertahan di lahan sengketa itu, tak kurang dari 500 warga yang bertahan. Mereka mendirikan tenda dan mengelola lahan kosong yang dimaksudkan untuk peremajaan pohon karet.

Masyarakat penggugat berasal dari tiga kecamatan yakni Kajang, Ujung Loe, dan Herlang. Mereka bersatu untuk tujuan yang sama. Melanjutkan perjuangan memperahankan dan mengambil kembali tanah leluhur yang terampas. Penguasaan secara berkala sudah berlangsung berpuluh tahun.
“Innimi nikua tuntutan tala rie mainna. Tapi talakulleki ammari nasaba inni tanah boheta (Ini tuntutan yang tiada habisnya. Tapi tak akan berhenti karena ini tanah leluhur),” ujar Pung Topo, juru bicara Ammatoa untuk kasus sengketa lahan dengan PT. Lonsum.
Pria 80-an tahun itu bertahan sejak peringatan hari tani, 24 September 2018. Di dangau yang dibangun beratap rumbia itu tak hanya dirinya, ada istri dan anak bertahan demi keadilan. Begitupun keluarga lainnya, membawa serta anak dan cucu. Tenda-tenda yang dibangun sudah menjadi rumah bagi mereka.

Penulis sengaja bermalam di tenda untuk merekam jejak perlawanan warga adat. Topo menceritakan lahan-lahan yang diserobot PT. Lonsum, merupakan warisan secara turun temurun. Namun tergugat memulai perampasan pada 1979. Perlawanan dilakukan masyarakat sejak 1980 namun tak ada hasil. Bahkan perjuangan merebut hak dibayar dengan nyawa, beberapa gugur dalam bentrok dengan aparat, puluhan tahun silam.
Pada 2003 dilakukan penggugatan kembali. Berkisar 2.950 orang terlibat dalam aksi. Penguasaan lahan di Desa Bontomangiring dan Bontobiraeng seluas 540 Ha berhasil dimenangkan, namun diambil lagi oleh tergugat 273 Ha. Begitulah kondisi yang diceritakan Topo, sekalipun penggugat menang, namun hasilnya selalu sama. Tapi kali ini masyarakat berharap sudah tuntas.

Ladang-ladang persawahan yang dulunya ditumbuhi padi dan jagung berganti menjadi perkebunan karet. Pemilik yang terusir dengan kejamnya, tak pernah mendapatkan permintaan maaf, apalagi istilah bagi hasil dan lainnya. Karenanya, masyarakat sepakat untuk tetap menduduki lahan tersebut tak peduli upaya apa yang dilakukan pihak lawan untuk membuat penggugat menyerah.

Lahan tanah adat yang dikuasai tergugat, kata Topo sangat luas, berkisar 2.850 Ha. Seharusnya cukup untuk mensejahterakan masyarakat. Harapannya para penggugat, tim kecil yang dibentuk Mendagri segera bertindak di lapangan sehingga penyelesaian mendapatkan titik terang.
“Gitte a’ratta injo tim kecil a naong mi hebbere na ita maing (kami maunya tim kecil turun segera agar cepat selesai),” ujarnya.
Dari catatan Pung Topo, HGU (Hak Guna Usaha) PT. Lonsum keluar pada 1997. Tanpa sepengetahuan masyarakat sehingga tak ada persiapan, dan tak ada ganti rugi. Mereka diusir, yang ngotot bertahan dipukul, ada yang sampai ditembak dan beberapa orang meninggal. Rumah warga dirusak dan dibakar. HGU nomor 19 tahun 1997 seluas 970,52 Ha di Desa Bontominasa hingga di Tibona (Bulukumpa). HGU nomor 20 tahun 1997 seluas 912, 5 Ha di Jawi-jawi. HGU nomor 21 tahun 1997 seluas 464,82 Ha di Desa Bontomangiring, dan Sangkala. HGU nomor 22 tahun 1997 seluas 3.436 Ha di Desa Balong, Balleanging, Tamatto, Bontobiraeng dan Tugondeng.

Sejarah keberadaan PT. Lonsum di Bulukumba dari catatan Agra Bulukumba, berawal dari Aktivitas NV Celebes Landbouw Maatschappij itu dikuatkan melalui keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda nomor 43 pada 10 Juli 1919 dan 44 pada 18 Mei 1921 dengan status hak erfacht. Pada 7 April 1961, hak erpacht NV Celebes Landbouw Maaschappij dikonversi menjadi HGU, hal ini didorong oleh lahirnya UU Pokok Agraria pada 1960.
“Ini menjadi fase pergantian nama menjadi PT. Perkebunan Sulawesi lalu berganti lagi menjadi Perusahan Negara (PN) Dwikora,” jelas Ketua Agra Bulukumba, Rudy Tahas.
Pada 17 September 1976 berdasarkan Surat Keputusan Mendagri No.39/HGU/DA/76, PT. Perkebunan Sulawesi memperoleh perpanjangan HGU, yang berlaku surut mulai 13 Mei 1968, dan berlaku hingga 31 Desember 1998. Pada 1997 pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Badan Pertanahan Nasional Nomor 111/HGU/BPN/1997 tentang Pemberian Perpanjangan Hak Guna Usaha Atas Tanah yang terletak di Kabupaten Bulukumba dan menetapkan perpanjangannya selama 25 tahun, yang artinya berlaku hingga 2023.
Didalam SK perpanjangan HGU tahun 1997 mensyaratkan, Lonsum harus mendaftarkan izin Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 2017. Jika tidak terpenuhi, secara otomatis seluruh sertifikat HGU berakhir di 2017.
“Sementara yang terjadi PT. Lonsum tidak mendaftarkan PMA,” bebernya.

Tuntutan masyarakat, kata Rudy hanyalah tanah ulayat masyarakat Adat Ammatoa Kajang seluas 2.850 Ha. Tanah tersebut tersebar di empat kecamatan, yaitu Kajang, Herlang, Ujung Loe dan Bulukumpa.
“Berdasarkan Perda nomor 9 Tahun 2015 dengan jelas dan terang membuktikan bahwa sebagian HGU milik PT. Lonsum berada dalam wilayah Adat Ammatoa Kajang,” katanya.

Di dalam HGU Lonsum, lanjut Rudy, terdapat 53 lembar sertifikat milik warga seluas 108 Ha. Juga terdapat lahan milik masyarakat yang sudah inkrah seluas 540 Ha berdasarkan putusan MA. Pada 2012 ada hasil verifikasi lahan dalam obyek HGU dari pemda yang mana terdapat 2.553 Ha lahan milik masyarakat termasuk 53 sertifikat dan putusan MA. (*)

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!