Beranda Ragam M. Iqbal Reza Ramadhan: Brand Labissa Harus Sejahterakan Masyarakat

M. Iqbal Reza Ramadhan: Brand Labissa Harus Sejahterakan Masyarakat

Sabtu, 1 Agustus 2020, 16:57 WITA

 

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Muda, mapan, dan punya jiwa sosial tinggi. Bernama lengkap Muhammad Iqbal Reza Ramadhan, owner Labissa Group ini merupakan salah satu pengusaha sukses di Bulukumba. Brand Labissa miliknya bukan hanya bergerak di bidang kuliner (cafe dan resto) tapi mulai merambah bisnis lain. Baginya, berbisnis harus diikut dengan kesejahteraan. Tidak hanya karyawan tapi juga punya manfaat dalam masyarakat.

Labissa kini bergerak di berbagai bisnis. Sebut saja pencucian mobil,  salon, dan advertising. Tak hanya itu, Reza juga pemilik dari brand Big R Vape Store di Bulukumba.
Bahkan di Makassar, ia juga membuka  cafe dengan brand Labissa. Sayangnya karena pandemi, usahanya harus tutup sementara.
“Buka sebulan, tapi karena Covid 19 jadi tidak stabil. Saya putuskan tutup dulu, tapi dalam waktu dekat ini akan dioperasikan kembali,” ungkapnya.
Pandemi membuat usaha Reza sempat goyang. Jam operasional di kurangi dengan adanya pembatasan. Daya beli masyarakat juga lesu karena awal-awal Covid 19 masuk ke Bulukumba, membuat banyak orang paranoid. Usahanya sempat tutup sebulan, kala itu bertepatan dengan Ramadan, dan  ada pemberlakuan jam operasional. Padahal dari grafik pernjualan saat ramadan, omset trendnya bergerak naik.
“Puncaknya itu Maret -April, itu sepi sekali makanya ditutup saja. Kita optimalkan di pelayanan take away,” jelas ayah tiga anak itu.
Sempat terpapar Covid -19, usai mengumumkan diri positif, usahanya drop  dalam beberapa hari. Tak ada pelanggan yang ingin cuci mobil, atau mampir ke kafe. Kondisi itu juga terjadi pada usaha advertisingnya. Padahal pasca hasil swab keluar, tempat usahanya disterilisasi termasuk setelah sembuh.

Pada kondisi adaptasi baru, pihaknya juga ketat ikut prosedur kesehatan dengan penggunaan masker, penyediaan wastafel dan hand sanitizer.
“Meski belum benar-benar stabil tapi kondisi sekarang lebih terkendali. Mungkin masyarakat mulai jenuh juga dengan kondisi seperti ini,” katanya.
Anak dari pasangan H. Idris Aman dan dr.  Rusni ini bercerita, usaha yang dibangun dengan nama Labissa dimulai 2016 lalu dengan mempaketkan tempat pencucian mobil dan kafe.

Peluang bisnis itu dimanfaatkan Reza usai ditolak beberapa tempat pencucian mobil karena terlalu banyak pelanggan. Ia melihat ada peluang di bisnis ini. Konsep carwash dan cafe dalam satu atap pun jadi pilihan.

Selain tempat pencucian mobil yang masih terbatas kala itu, menunggu kendaraan dibersihkan membutuhkan waktu yang lama sehingga pelanggan bosan.

“Dulu menunggu berjam-jam, mati gaya orang. Makanya saya buka yang sepaket jadi orang nyaman mencuci mobil, kan bisa menunggu di kafe,” katanya.

Menjadi pengusaha adalah cita-citanya sejak sekolah. Menurutnya menjadi pengusaha adalah pilihan hidup untuk mengabdi terhadap daerah dengan menguatkan bidang ekonomi. Enterpreneure juga menjadi salah satu indikator untuk mendorong kemajuan negara. Menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi angka pengangguran.

Saat ini Reza sudah punya 27 karyawan, semuanya merupakan pemuda Bulukumba.

“Mindset kita itu harusnya jangan menjadi ASN melulu. Sekolah tinggi-tinggi, jurusan ekonomi, mungkin juga IPKnya tinggi tapi pada akhirnya jadi pegawai kelurahan jadi menyia-nyiakan potensi diri menurut saya,” ujar karyawan di Bank Sulselbar Bulukumba ini.
Sebelumnya Reza sempat punya usaha butik bersama istrinya, namun tutup setelah Labissa berjalan. Dia lebih tertarik pada bisnis jual jasa, seperti pencucian mobil, dan advertising. Ke depan akan melebarkan sayap dengan usaha yang lebih besar. Mimpinya membangun rumah sakit.
Baginya merealisasikan Rumah Sakit adalah tantangan tersendiri. Dia termotivasi karena berada dalam lingkungan keluarga yang minatnya di bidang kesehatan. Seperti ibu, dan saudaranya yang dokter. Ayahnya sendiri pimpinan yayasan sebuah sekolah tinggi kesehatan di Bulukumba.

Ke depan, kata Reza,Rumah Sakit dianggap bisnis yang paling berkembang. Menurutnya, dengan jumlah penduduk Bulukumba di kisaran 413.229 jiwa, idealnya punya dua rumah sakit besar.
Selain itu, Reza akan meneruskan mimpi bapaknya, membuat stasiun penyiaran radio yang melibatkan kaum muda. Dengan kemudahan saat ini, menurutnya akan lebih mudah mewujudkannya.
“Dulu bapak sudah investasi untuk radio tapi modalnya untuk merakit alat itu dibawa lari sama orang, makanya tidak jadi radionya,” beber anak ke-2 dari tiga bersaudara.
Menjadi pengusaha, tidak ia lalui dengan mulus-mulus saja. Tantangan yang dihadapi bukan hanya soal pasang surut bisnis tapi di awal merintis bisnis adalah bagaimana meyakinkan keluarga. Tidak semua dalam keluarga awalnya mendukung untuk membuka bisnis dengan modal besar, apalagi menggunakan pinjaman bank.

“Ada banyak tantangan dan rintangan yang harus ditaklukkan dan dijawab dengan kerja keras,” tegasnya.
Reza berpesan, bagi pemuda yang ingin menjadi pengusaha, jangan ragu untuk mengambil resiko dibarengi dengan perhitungan yang matang. Berani mengucurkan modal besar untuk mengembangkan bisnis.
Menjadi pengusaha, membuatnya banyak terkoneksi dengan orang-orang. Pergaulan menjadi lebih luas, dan terpenting dapat membantu kegiatan-kegiatan pemuda. Harapannya ke depan dengan bisnis lebih berkembang, kesejahteraan karyawan menjadi prioritas sebagai aset paling berharga baginya.
“Ada banyak mimpi yah, tapi saya juga masih karyawan bank yang kerjanya harus pintar-pintar bagi waktu. Nanti saya tentu harus memilih untuk fokus pada bisnis,” tambahnya.###