Menengok Kejayaan Bioskop Surya di Kasimpureng

Pernah Jadi Ikon dan Pusat Hiburan Warga Bulukumba

Bangunan tua itu sudah tak beratap. Temboknya kusam ditumbuhi lumut. Beberapa bagian dari tembok tampak rubuh. Bangunan yang berlokasi di Jalan Abd. Kahar, Kasimpureng ini dulunya adalah Gedung Bioskop yang pernah berjaya di Kabupaten Bulukumba pada tahun 70-an sampai akhir 80-an. Namanya Bioskop Surya.

LAPORAN: BASO MAREWA

Bioskop Surya pada masanya adalah ikon Bulukumba. Inilah tempat atau titik   berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat yang ingin menikmati film. Gedung yang kini tak terurus dan di dalamnya penuh tumbuhan liar ini, pernah berjaya. Pengunjung yang datang mencari hiburan tidak hanya orang kota Bulukumba, tapi datang dari berbagai pelosok di Kabupaten Bulukumba. Kapasitas gedung bisa menampung 300 sampai 500 orang.

“Dengan membeli tiket seharga 150 sampai 500 perak, kita sudah bisa masuk. Duduk di bangku yang terbuat dari kayu (mirip bangku sekolah, red) menyaksikan film-film favorit,” kenang Suhardi salah seorang warga yang bermukim sekitar lokasi bioskop tua saat ditemui oleh RADAR SELATAN.

Bukan saja dipenuhi oleh penonton film, Suhardi menceritakan bahwa di pintu samping Bioskop ini juga banyak kios jualan, saat jeda film atau yang dikenal dengan istilah ‘Setengah Main’ penonton berbondong-bondong memenuhi kios untuk membeli makanan dan minuman ringan dan juga rokok per bungkus atau per batang. Tergantung kemampuan ekonomi masing-masing penonton.

Sebelum film diputar pada malam hari petugas bioskop pada siang harinya berkeliling kota dengan menggunakan kereta kuda mempromosikan film yang akan diputar agar menarik minat masyarakat untuk datang menyaksikan film tersebut. “Di atas Bendi (Kereta Kuda) kita berteriak ‘Ayo datang dan saksikan film spektakuler yang akan diputar malam ini di Bioskop Surya’,” kisah Suhardi sembari mempraktekkan pengalamannya saat ikut mempromosikan film.

Seingat pria yang kini berusia 52 tahun ini, Bioskop Surya dibangun sekitar tahun 70an awal. Saat itu dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Di mana bioskop tersebut dibangun oleh Pengusaha Tionghoa bernama Frans. “Tapi karena dulu tidak boleh orang Cina buka usaha di Bulukumba jadi bioskop ini dulu mengatasnamakan orang lokal yang punya pengaruh seperti tentara,” terangnya.

Bioskop Surya tidak hanya menyisakan kisah-kisah heroik seperti tokoh dalam film-film yang pernah tayang. Suhardi mengungkapkan dahulu Bioskop Surya juga kerap dijadikan sebagai lokasi pertempuran antarkelompok pemuda di Bulukumba. Sejak itulah masyarakat takut dan enggan untuk berkunjung.

Selain karena perkembangan zaman seperti masuknya VCD dan maraknya sinetron di TV, perlahan kejayaan Bioskop Surya meredup. Apalagi era 90-an awal, ‘perang’ antargenk  juga marak. “Salah satu penyebab matinya Bioskop Surya ya karena pengunjung sudah tidak aman dan nyaman. Sering terjadi perkelahian antarkelompok,” katanya.

Bioskop Surya merupakan tempat populer pada masanya, bukan saja dimaknai menjadi tempat hiburan semata. Bioskop Surya adalah salah satu saksi bisu bangunan historis peradaban Bulukumba.

Selain di bangku-bangku sekolah formal, di Bioskop Surya tersebut juga dulunya merupakan salah satu tempat di mana karakter dan pengetahuan masyarakat Bulukumba dibentuk melalui Film. Sampai hari ini, Bioskop Surya adalah satu-satunya  bioskop yang hits di Bulukumba. Sebelumnya juga ada Bioskop Aneka Jaya, namun bioskop ini tidak mampu bersaing dengan Bioskop Surya karena bangunan Bioskop Surya lebih layak dibandingkan Bioskop Aneka Jaya yang dindingnya hanya terbuat dari papan kayu.
Nicky Rewa, salah satu distributor film yang pemilik bioskop di Makassar, mengaku pernah menjalin kerjasama dengan Bioskop Surya. “Kami yang mensuplai film-film legendaris seperti Benyamin Biang Kerok, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Catatan Si Boy dan masih banyak lagi,” ujar Nicky. Pria berdarah India ini yang pernah memiliki bioskop Dewi dan Swe Zhe di Makassar berharap ada investor yang berani menanamkan modalnya untuk kembali membangun bioskop di Bulukumba. “Industri film nasional apalagi film produksi Sulawesi Selatan sedang bangkit. Saatnya kita kembalikan kejayaan bioskop-bioskop lokal. Jadi masyarakat tidak perlu ke Makassar hanya untuk menikmati film,” ujarnya.
(***)