Mengintip Kisah Tukang Cendol Naik Haji

Akhir-akhir ini cuaca memang cukup panas, tenggorokanku serasa ingin kubasahi dengan sesuatu yang menyejukkan, sementara isi dompetku kali ini pas-pasan.

Laporan: Muhammad Siddiq Sandy

Sepanjang hari menyusuri jalan, mataku tak sengaja melihat sebuah kedai sederhana yang menyajikan aneka makanan ringan seperti bubur kacang ijo, bubur ketan hitam, serta berbagai minuman seperti kopi, teh, dan cendol. Yah, kupikir ini saatnya saya harus menepi, melepas dahaga setelah seharian berpanas-panasan. Untungnya di sana, harga cukup atau sangat merakyat malah.

Di tempat yang sangat sederhana, itu kali pertama saya kunjungi, bukan karena gaya hidupku hedon selama ini, tetapi baru kali ini menyadari kalau tempat itu ada. Bahkan sudah lama berdiri di situ. “Sini ki nak,” seorang perempuan paruh baya menjemputku dengan panggilan. “Apa yang ada bu?,” kataku. “Yang dingin deh.” kulanjutkan tak ingin menyinggungnya dengan pertanyaan apa yang ada.

Ia menyodorkan sebuah minuman bernama cendol, ditambahnya gula merah dan santan dan es. Kataku sambil sedikit tersenyum “Ah, ini yang ku cari.” Kurasa ia tahu apa yang ku mau.

Kami baru pertama berjumpa. Sembari saya menyeruput cendol itu, ia kemudian membagikan kisahnya. Nama perempuan paruh baya ini Hj. Capo. Di pasar, ia biasa dipanggil Aji Cendol. Bukan tanpa sebab nama itu tersemat kepadanya. Ia berhaji karena usahanya selama kurang lebih 30 tahun dengan berdagang cendol.

Letak kedainya berada di sudut Stadion Lamalaka, di jalan Andi Mannappiang atau poros Lamalaka. Sebuah warung kecil terbuat dari tripleks, bambu dan balok yang dicat warna merah menyala. Ukurannya hanya sekira 3×2 meter persegi saja, dengan atap seng dan lantai dari papan yang lapisi karpet plastik hingga nampak bersih. Yah begitulah kesan pertama setibaku di sana. Tempat itu tidak besar, namun cukup bersih dan membuat betah. Serta keramahan Hj. Capo yang selalu tampak riang mengajak pengunjungnya ngobrol dan tertawa.

Kagum itu datang. Perjuangannya dalam menjalani hidup, menghidupi keenam anaknya, jatuh bangun menjalani usahanya, bagaimana ia yang hanya senyum dan sabar menghadapi cibiran orang-orang yang meremehkannya di depan umum, alur hidupnya yang pahit sepeninggal suaminya yang telah lebih dulu menghadap Ilahi, serta kekuatan doa yang begitu ia yakini.

“Doa nak, siang malam saya sujud, menangis, jatuh air mataku mengeluh sama Allah, kuserahkan hidupku sama Allah,” katanya sekilas mencuri senyum dari kerutan pipinya. Raut di wajahnya tiba-tiba sendu, aku benar-benar terenyuh.

Ia berkisah, sekitar tahun 1973 dia diajak suaminya pindah dari Malakaji di Gowa sana ke Bantaeng. Dengan membawa empat anak mereka yang saat itu masih kecil-kecil. Sosok yang kini berusia kurang lebih 60 tahun itu tidak menceritakan secara detail kepadaku mengenai ada atau tidaknya sanak saudara yang mereka kunjungi saat berpindah waktu itu.

Ia hanya mengatakan, harta benda yang dibawa cuma dua buah panci kecil, satu alas tikar untuk tidur berenam dan beberapa keping piring. Untuk berlindung dari terik dan hujan, saat itu mereka tinggal di sebuah pabrik beras.

Saya tak bisa membayangkan kesulitannya pada waktu itu. Kemudian waktu berselang, berlalu dan kehidupan tetap dijalaninya dengan tabah. Di stadion Lamalaka kala itu sering diadakan tontonan sirkus yang ramai dikunjungi.

Ia berkeras diri, saya harus menjual sesuatu. Memanfaatkan keramaian itu untuk membantu suaminya mencari nafkah.

“Saya coba nak bikin cendol, modalku beras satu liter setengah, gula merah sebiji, kelapa sebutir,” kenangnya. Dirinya sungguh tak menyangka, dengan modal yang tak habis 10.000 rupiah saat itu, bisa mengantarnya menjalani hidup yang penuh keajaiban hingga saat ini.

Beliau bisa menginjakkan kaki di tanah suci Mekkah, menunaikan ibadah Haji dan Umrah dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut, berkurban Unta, membeli tanah, rumah, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya serta melaksanakan akikah cucunya.

Seketika ku merasa tertampar, karena dibalik penampilannya yang sederhana ternyata ia menyimpan sejarah hidup yang luar biasa. Kutanya apa tips bisa sampai begitu? Jika ia mendapat 100 ribu rupiah maka simpan 20, jika 200 maka simpan 100. “Begitu nak, jangan habiskan kalau dapat uang,” katanya.

Sebenarnya itu sangat sederhana, siapa saja bisa melakukannya, tapi kujamin itu susah di tengah himpitan ekonomi yang sangat kejam. Tapi ia bisa melalui itu. Lagi-lagi takjub mendengarnya.

Lalu naluriku menanyakan bagaimana bisa dari penghasilan cendol berangkat ke tanah Mekkah?. Kemudian lagi-lagi ia menjawab soal tabungan. Bahkan, suaminya tidak tahu tentang kebiasaanya menyimpan sebagian uang miliknya.

Tata’, begitu ia menyebut suaminya, tidak tahu bagaimana bisa istrinya bisa punya uang banyak. Tata’ sempat heran sewaktu diminta istrinya pergi membeli tanah 2 kavling untuk mereka. Tata’ heran, uang 30 juta ditangannya, dari mana istrinya mendapatkan itu. “Saya kasi pegang uang Tata, kusuruh pergi cari tanah akhirnya beli 2 kavling di Sungguminasa, Alhamdulillah bisa dibangun 6 rumah untuk anak-anak,” katanya.

Saya kembali mengulik soal haji, di tahun 2012 ia pun diberi jalan oleh Sang Pencipta untuk berangkat. Sayang kata Hj. Capo, setahun sebelum berangkat haji suaminya meninggal.

Saat itulah kekuatan imannya benar-benar diuji. Di tanah Mekkah, ia merintih, menuangkan seluruh isi hati. Kepada Allah, ia berserah diri hidup dan mati. Suaminya pergi meninggalkan ia dan enam orang anak mereka.

Cendolku belum habis, ku tak ingin beranjak sebelum gelas kosong. Menikmati sesendok demi sesendok, rasanya benar-benar segar hanya dengan 5000 rupiah pergelas.

Tak lupa saya mencicipi gogos dan telur ayam dan bebek yang juga terhidang di sana. Sosok yang ada dihadapanku ini benar-benar mengagumkan. Sambil menikmati hidangan, Hj. Capo terus bercerita. Rupanya, kehajiannya pernah dipertanyakan.

“Waktu itu di pasar Lambocca nak, saya dibikin malu kasihan, ditanyakan berapa harganya songkok ajiku yang kupake ini, diketawai sampai berapa meter saya jalan tapi saya sabar saja nak. Memang begitu nasib orang kecil,” katanya dengan senyum lebar. Yah, ia tersenyum dan kembali tenang.

Ternyata, orang yang pernah mencibirnya itu meminta maaf setelah melihat langsung foto-foto yang terpajang di rumah Hj. Capo. Gambar-gambar yang memajang saat dirinya beribadah di tanah suci Mekkah.

Di leher dan lengannya melingkar emas. Hatiku semakin tersayat seketika ia sebut keinginannya pakai emas hanya karena ingin mengetahui bagaimana rasanya. “Jangan sampai nda pakai ka emas sebelum ku mati,” begitu katanya.

Sayangnya waktu membatasiku siang ini, ku harus kerja, mengirim peristiwa yang kudapat hari ini ke kantor sebagai bahan laporan. Kemudian ku bergegas pulang ke rumah, menulis pengalamanku bersama Hj. Capo siang ini.
“Makasih cendol ta. Enak ki,” kataku sambil meraih dompet yang isinya tersisa Rp 20.000. Ia mengembalikan Rp10 ribu kepadaku, kembalian setelah menyeruput cendol dan makan gogos ditambah telur. “Kalau tidak enak, jangan ki kembali ke sini,” katanya sambil tertawa, menunjukkan kalau-kalau ia menjaga cita rasa hidangannya.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya dengar dari beliau. Banyak petuah yang ia berikan dan saya sangat senang dengan hal itu. Menjadi orang kaya tak selalu hanya dengan harta, tapi bisa dengan banyak cerita-cerita dan kisah nyata yang sarat akan makna. (*)