Museum Nekara dan Jejak Migrasi Tionghoa di Kepulauan Selayar

Sebanyak 2000-an koleksi terpajang di Museum Nekara, di Matalalang, Kelurahan Bontobangun, Kabupaten Kepulauan Selayar. Di antaranya adalah numismatik yang diperkirakan digunakan di Selayar pada abad ke 7 hingga 8 Masehi yang berlangsung antara 601 Masehi sampai 800 Masehi.

LAPORAN: ANJAR S MASIGA

Kabupaten Kepulauan Selayar terletak di bagian ujung selatan di Sulawesi Selatan. Daerah yang dijuluki Tanah Doang itu memiliki luas 10.503,69 km² meliputi wilayah daratan dan lautan. Berdasarkan letaknya, Dinas Pariwisata setempat mengklaim Selat Selayar dilintasi pelayaran nusantara baik ke timur maupun ke barat, bahkan telah menjadi pelayaran internasional.

Pelabuhan penyeberangan paling dikenal yakni Pelabuhan Pamatata yang berfungsi sebagai pelabuhan transit kapal feri, selain itu ada pelabuhan Pattumbukang, Benteng, Takabonerate, Pasimasunggu Timur dan juga Pasilambena.

Daerah kepulauan tersebut secara geografis sangat strategis. Berada di jalur alternatif perdagangan internasional, Selayar menjadi pusat perdagangan dan distribusi skala nasional dan internasional untuk melayani kawasan timur Indonesia maupun melayani negara-negara di kawasan Asia.

Selain strategis secara geografis, Kepulauan Selayar juga memiliki banyak potensi. Alamnya yang indah, pantainya yang eksotis dan hasil laut yang melimpah. Daerah itu juga memiliki jejak sejaran yang erat kaitannya dengan migrasi tionghoa. Selain treveler, sejarawan juga direkomendasikan untuk berkunjung ke sana. Selayar.

Salah satu tempat yang kami jangkau di Selayar pada perjalanan singkat dua hari di sana pada akhir Agustus yakni Museum Nekara. Letaknya tak begitu jauh dari Benteng, pusat perkotaan di Pulau Selayar, pulau terbesar di daerah kepulauan itu.

Di museum tersebut, kami menemui Ermawati yang menjabat sebagai Kasubag Tatausaha Museum Nekara di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti pengunjung lainnya, kami yang dalam rangka residensi dan penelitian untuk sebuah event mengisi daftar tamu sebelum melihat-lihat koleksi di museum itu.

Banyak yang terpajang di sana, di antaranya numismatik atau koin yang mencapai 800-an kepingan. Ada mata uang Cina, mata uang kuno yang diperkirakan digunakan di Selayar pada abad ke 7 hingga 8 Masehi yang berasal dari Dinasty Thang. Koin tersebut ditemukan di Sengkulu-kulu, Desa Harapan, Kecamatan Bontosikuyu dan diangkat pada 2009 silam. Koin Tiongkok ada sejak 700-476 SM, digunakan pada awal periode musim gugur dan musim semi. Imitasi dari cangkang siput bentuknya seperti pisau atau sekop dan dalam perkembangannya koin tersebut berbentuk bundar dan lubang persegi di tengahnya sekitar tahun 350 SM.

Koin lainnya adalah mata uang VOC yang dicetak pertama kali tahun 1726 dengan bahan tembaga. Pecahan 1 Doit yang berarti duit, pada salah satu sisi koin terdapat lambang VOC dan sisi lainnya terdapat lambang provinsi tempat koin tersebut dicetak.

“Masih banyak benda sejarah yang belum diangkat, itu di bawah laut terkonstruksi di satu tempat di Kullu-kullu, Pantai Barat. Kedalamannya tergantung pasang surut laut, antara 20 hingga 25 meter,” jelas Erma, sembari menunjuk lokasi yang dimaksud pada peta Pulau Selayar.

Berbagai keramik sengkholek yang berasal dari Thailand juga terpajang di dalam etalase kaca museum. Jumlahnya mencapai 554 keramik dari berbagai bentuk dan ukuran. Sengkholak berasal dari kata Sxng Kolk yang berarti amplop tungku, namun ada juga yang mengatakan berasal dari kata Koro Sun Kun atau Song Koro Ku dari Bahasa Jepang yang merujuk pada kata Sawankholok.

Ada jenis buli-buli dan juga ada Cepuk Keramik Sengkholek yang ada sejak abad 14-15 Masehi di Thailand. Diperkirakan di Selayar ada sejak periode Sukhothai pada tahun 1238-1351. Keramik ditemukan di tempat yang sama dengan penemuan koin, diangkat 2009 dan dikonservasi pada 2010-2012. Keramik-keramik itu memiliki bentuk berbeda-beda dan juga berbagai motif.
“Untuk keseluruhan koleksi kita punya 2.000-an di museum ini. Itu dari berbagai jenis, termasuk etnografi,” katanya.

Benda bersejarah di Selayar, menurut Erma cukup banyak hanya saja belum diangkat dan dikonservasi. Seperti yang ada di bawah laut dan juga tertanam. Penemuan sendiri, bukan hanya dilakukan pemerintah, tapi dari masyarakat yang misalnya mengolah kebun dan saat menggali menemukan benda itu. Atau saat pengerjaan konstruksi, secara tak sengaja terangkat eskapator.
“Hampir setiap jengkal tanah di Selayar ini ada penemuan, cuma banyak rusak karena digali bukan secara disengaja. Belum lagi banyak yang di bawah laut itu diambil secara ilegal,” jelasnya.

Berbagai koleksi yang terpajang di museum tersebut, termasuk miniatur dari rumah adat dan perahu tradisional, pakaian adat, herbal yang telah digunakan secara turun temurung, senjata, dan benda-benda yang banyak digunakan pada zaman dahulu. Koleksi tersebut ada yang berasal dari Tiongkok, Thailand, Jepang, Belanda. Bahkan ada juga naskah khutbah yang dinilai berkaitan erat dengan penyebaran Islam di Selayar.

Rencananya, benda sejarah yang masih ada di bawah laut akan diangkat Kementerian Kelautan. Hanya saja menunggu cuaca yang baik da waktu yang tepat. Selanjutnya barang tersebut akan menjadi bagian dari koleksi museum.

Museum tersebut awalnya bernama Museum Tanah Doang, saat itu masih dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kemudian berganti nama menjadi Museum Nekara di 2018 dan diambil alih Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Museum tersebut ramai dikunjungi, baik dari wisatawan, pelajar, mahasiswa hingga peneliti.

“Nekara itu terinspirasi dari gong nekara di desa yang sama dengan museum ini. Cuma tidak bisa dipindahkan ke sini, di sana tempatnya menetap dan masih masuk bangunan kerajaan,” jelasnya.
Menurut arkeolog dari Cina yang ditemui Erma saat berkunjung ke museum tersebut, Gong Nekara di Selayar terbilang unik. Dari gambarnya, memiliki tiga unsur budaya Fietnam Utara, Indonesia, dan Dongsong Cina tapi juga ada yang beranggapan hanya dua unsur budaya yakni Indonesia dan Dongsong Cina. Diperkirakan ada sejak 300 SM.

“Katanya ini bisa jadi pesanan raja karena ini bukan untuk dijual. Memang di sini ada kerajaan, berkaitan dari Kerajaan Lucu, Sawerigading yang menikah dengan I We Cudai dari Tiongkok,” tambahnya.
Menurut cerita rakyat, penamaan Selayar berasal dari kata cedaya bahasa sanskerta yang berarti satu layar. Konon, perahu satu layar banyak yang singgah di pulau tersebut. (*)