Puncak Pua Janggo; Menikmati Bira dari Ketinggian

  • Whatsapp
Salah satu spot foto yang disukai pengunjung di Puncak Pua Janggo, Desa Bira, Bulukumba.

BERBURU  sunset di Pantai Tanjung Bira mungkin sudah biasa. Bagaimana kalau sesekali menikmati matahari terbenam dari ketinggian puncak Pua Janggo? Dijamin, sensasi yang luar biasa bakal terasa sampai di hati paling dalam.

Hati mulai tergerak untuk mendaki Puncak Pua Janggo sejak pertama kali menginjakkan kaki di Desa Bira. Namun sayangnya, baru beberapa bulan kemudian hasrat itu baru tercapai.

Read More

Tujuan kali ini adalah menikmati sunset di puncak tertinggi di Bira. Untuk mencapai puncak bukit ini butuh waktu 20 menit berjalan kaki dari Gapura ìSelamat Datangî.

Dari sini, pemandangan Tanjung Bira dengan pantainya yang indah dapat disaksikan lebih leluasa. Dari puncak bukit ini, kita bahkan bisa melihat Pulau Liukang, Pulau Kambing, bahkan Pulau Selayar!
Saat-saat matahari kembali ke peraduannya menjadi momen yang luar biasa. Ada sensasi rasa yang tak bisa dilukiskan. Suasana sunyi dan hening berpadu dengan semburat jingga di angkasa.

Suasana yang ‘mahal’ inilah yang dilirik Dinas Pariwisata Bulukumba untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu di Bira.

“Selama ini pengunjung hanya mengenal pantai Bira. Padahal banyak yang mereka bisa kunjungi jika berada di Bira. Salah satunya ya Puncak Pua Janggo ini,” terang Kadis Pariwisata Bulukumba, Ali Saleng.

Situs Tempat Semedi

Puncak Pua Janggo terletak di Desa Bira, di sebuah bukit berjarak 2 km dari obyek wisata pantai Tanjung Bira. Keindahan panorama dari puncak Pua Janggo sangat istimewa. Kita dapat melihat lepas ke arah laut dengan latar Dermaga Bira dan Tanjung Bira yang dikelilingi bukit karang yang mempesona.

Puncak Pua Janggo juga tak lepas dari Keberadaan situs Pua Janggo. Dari cerita masyarakat setempat, bermula ketika Bira yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, datang seorang tokoh penyebar agama Islam yang kemudian oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan Pua Janggo.

Nama asli Pua Janggo menurut beberapa sumber berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa nama sebenarnya adalah Abdul Halis bin Abdullah dan ada juga sebagian orang yang mengatakan bahwa nama aslinya sebenarnya adalah Abdul Basir bin Abdul Jalil.

Nah, tempat bersemedi Pua Janggo inilah yang terdapat di puncak Bira. Hanya menyisakan pondasi bangunan yang beukuran 4 x 4 m. Di area tersebut hingga saat ini hanya terdapat sebongkah batu andesit berbentuk silinder yang mirip dengan batu nisan tipe gada dengan tinggi 75 cm dan diameter 20 cm. Hampir setiap waktu ada warga yang datang membawa sesajen. Tidak heran, bau wangi-wangian yang mungkin sengaja dibalurkan oleh peziarah yang datang ke tempat ini kerap tercium.

Dulu, mengunjungi Bira bagi masyarakat Bulukumba berarti pergi belajar agama. Tidak heran dari desa ini banyak lahir penghafal Al Quran dan santri yang menjadi murid dari Pua Janggo. Kini seiring berkembangnya Bira menjadi daerah wisata,  julukan sebagai desa santri pun menghilang. ***

Penulis: Sunarti Sain

 

Penulis : | Editor :

Related posts