Putra Mahkota di Pileg, Terpilih atau Terpental ?

by
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Kontestasi Pileg yang akan dihelat pada 17 April 2019 mendatang, menjadi ajang peruntungan di panggung politik. Mereka yang ikut,  datang dari berbagai latar belakang profesi. Tak terkecuali anak mantan Bupati dan anak Bupati aktif.
Dilevel pertarungan DPRD Provinsi Sulsel, khususnya di wilayah pemilihan Bulukumba-Sinjai, terdapat sejumlah nama anak orang nomor satu. Adalah Andi Anwar Purnomo yang tak lain putra Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali, yang maju melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Kemudian ada nama Andi Troy Martino yang tak lain putra mantan Bupati Bulukumba dua periode  di era 90-an, yang maju mengendarai Partai Nasdem, Selanjutnya ada putra mantan Bupati Sinjai dua periode yang tak lain Ketua DPRD Provinsi Sulsel, Muh Roem, yakni Mizar Roem, yang maju di melalui partai Nasdem.  Ketiganya akan sama sama berkompetisi dengan puluhan caleg Provinsi lainnya untuk memperebutkan enam kursi di daerah pemilihan V.
Jika menelisik pada Pileg lalu, yakni 2014. Anak Bupati Bulukumba, H Zainuddin Hasan, yakni Zunaidi Hasan, yang kala itu sebagai calon anggota DPRD Provinsi dari PPP terpental dari kompetisi demokrasi lima tahunan itu.
Bagaimana dengan Pileg 2019?
Pengamat politik, yang juga Dosen Ilmu Politik, UIN Alauddin Makassar, Dr Firdaus Muhammad, mengatakan keterpilihan anak Bupati akan bergantung pada kekuatan politiknya.
“Tidak cukup dengan jaringan orang tua. Persaingan cukup berat. Siapapun caleg harus all out kerja jelang pencoblosan. Harus kemampuan personal, masyarakat ini semakin cerdas dalam menentukan pilihannya,” jelasnya.
Pengamat Politik lainnya, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai, Dr Hermansyah, menerangkan persoalan, caleg dari anak bupati terkait tingkat keterpilihannya pada pileg akan tergantung dari tingkat kemampuan mengelola potensi diri, lingkungan dan support kelembagaan partai.
Pengamat Politik lainnya, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai, Dr Hermansyah,
“Kalau mengandalkan kekuasaan semata, biasanya terlahir aspek keterpaksaan terpilih, namun tidak memberi ruang kualitas personal, kenapa, karena kemampuan membangun komunikasi politik belum terlihat disaat mereka melakukan sosialisasi diri di masyarakat,” katanya.
Olehnya itu, keterpilihan anak bupati pada caleg, sangat tergantung kemampuan mengelola, jaring politik personal caleg. Sementara itu, bisa saja jadi bumerang, apabila potensi itu tidak dapat dikembangkan.
“Kalau tidak mampu mengolah kemampuan personalnya, bisa membuat terpental, kenapa?, karena banyaknya petahana yang masih mumpuni mengelola potensi suaranya jadi sebuah dilema politik bagi caleg anak bupati, sebuah renungan bagi caleg anak bupati. Makanya penting  Membangun integritas personal, memelihara komunikasi massa, dan menciptakan karakter yang bebas dari bayang- bayang lingkungannya saat ini, ia harus tampil bukan sebagai anak putra daerah atau mantan kapala daerah,” jelasnya. (fajar)