Beranda Kolom Ramadan Ramadan Bulan Al-Quran

Ramadan Bulan Al-Quran

Kamis, 30 April 2020, 9:38 WITA

 

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya Al-Quran—pertama kali—diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Ada dua sebab mengapa bulan Ramadhan disebut sebagai bulan al-Quran. Pertama, karena al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Surat al-Baqarah ayat 185, dan Surat Al-Qadr ayat 1 (satu).

Advertisement

Dalam Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, ketika menguraikan ayat 185 dari Surat Al-Baqarah di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah SWT memuji bulan puasa dibanding bulan-bulan lainnya, dengan dipilihnya (bulan Ramadan) sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena hal ini pula Dia mengistimewakannya.”

Keterangan tentang awal mula diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadan dapat dilihat pula dalam hadits Rasulullah Saw yang berbunyi, “Suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan; Taurat diturunkan pada enam Ramadhan; Injil diturunkan pada malam ke-tiga belas Ramadhan, dan Allah SWT menurunkan Al-Quran pada malam kedua puluh empat Ramadhan.” HR. Ahmad

Kedua, Rasulullah Saw, para sahabat, ulama-ulama terdahulu beserta kaum muslimin senantiasa berlomba-lomba membaca, mentadabburi dan mengkhatamkan al-Quran pada bulan Ramadhan. Ketika bulan Ramadan tiba, mereka meninggalkan pekerjaan dan rutinitas harian mereka lalu beralih kepada membaca al-Quran.

Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw memuliakann al-Quran ketika Ramadan tiba. Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan, “Rasulullah Saw ditemui oleh malaikat Jibril Alaihissalam di setiap malam pada bulan Ramadhan lalu membacakan padanya al-Qur’an.” Muttafaq Alaih.

Kebiasaan membaca dan mengkhatamkan al-Quran pada bulan Ramadhan pun diikuti oleh para khalifah dan sahabat-sahabatnya. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali, menukil sejumlah riwayat yang menggambarkan tentang aktivitas mereka bersama al-Quran di bulan Ramadhan.

Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan ra radhiyallahu ‘anhu, beliau menghidupkan seluruh malamnya di bulan Ramadan. Beliau membaca Al-Quran di setiap rakaat shalat yang beliau kerjakan. Sahabat Ubai bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, beliau mengkhatamkan Al-Quran di setiap delapan harinya.

Adapun Qatadah rahimahullah, salah satu pemuka tabi’in, beliau biasa mengkhatamkan Al-Quran setiap pekannya. Tetapi, jika Ramadhan tiba, beliau mampu mengkhatamkannya setiap tiga harinya, dan di sepuluh hari akhir Ramadhan, beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Bagaimana dengan para ulama imam mazhab? Mereka pun tak ketinggalan. Ketika bulan Ramadhan tiba, Imam Abu Hanifah meninggalkan rutinitas hariannya lalu pergi mengurung diri dalam kamarnya, kemudian duduk membaca al-Quran dengan tartil, hingga khatam berkali-kali.

Imam Malik menghentikan segala aktivitasnya dan hanya membaca al-Quran ketika bulan Ramadhan tiba. Beliau tinggalkan kegiatan mengajar, memberikan fatwa, maupun berkumpul bersama orang banyak, dan beliau berkata, “Bulan ini adalah bulan al-Quran.”

Adapun Imam Imam Syafi’i rahimahullah, ketika bulan Ramadan tiba, beliau mengkhatamkan al-Quran sampai 60 kali, di luar waktu shalat.

Begitulah potret para sahabat, tabiin dan ulama-ulama terdahulu memperlakukan al-Quran di bulan Ramadhan. Mengapa mereka begitu bersemangat membaca dan mengkhatamkan al-Quran pada bulan Ramadhan hingga berkali-kali?

Mereka faham betul bahwa membaca al-Quran pada bulan penuh berkah ini memiliki keistimewaan tersendiri, mulai dari pahala yang berlipat ganda, berkah yang berlimpah, hingga syafa’at (pertolongan) di akhirat kelak. Sekaligus sebagai membuktikan kecintaan mereka terhadap Al-Quran Al-Karim.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya al-Qur’an adalah hidangan jamuan dari Allah, maka terimalah jamuan tersebut sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang terang benderang, obat yang bermanfaat, penjaga dari kesalahan bagi orang yang berpegang teguh dengannya, serta keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Ia tidak melenceng sehingga perlu dibenarkan dan tidak pula bengkok sehingga harus diluruskan. Keajaibannya tiada pernah terhenti dan tiada pernah usang meskipun sering dibaca berkali-kali. Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah memberikan pahala jika kalian membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh kebaikan. Ingat, aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. Al-Hakim)

Di akhirat kelak, orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan tilawah al-Qur’an, mereka akan diberi syafa’at (pertolongan), sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Bacalah oleh kalian al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat kelak sebagai penolong bagi yang membacanya.” HR. Muslim

Di tengah mewabahnya COVID-19 yang mengharuskan kita lebih banyak berdiam di rumah, membaca Al-Quran harus menjadi salah satu program wajib untuk mengisi hari-hari kita di rumah bersama keluarga dan anak-anak, menikmati hidangan Allah SWT yang berlimpah pahala dan berkah. Semoga amal ini juga menjadi wasilah diangkatnya wabah corona.

Dr Aidh Al-Qarni, penulis kitab La Tahzan menyebutkan, “Bila al-Quran sudah ditinggalkan, keburukan akan merejalela, musibah datang silih berganti, pemahaman tidak lagi benar, dan kegagalan akan selalu menghantui. Al-Quran sangat memperkatikan hidayah bagi manusia agar mereka selalu berada di jalan yang benar. Ia adalah cahaya dan penawar hati.” ****