RS Sayang Bunda Sudah Tangani 383 Pasien Secara Gratis

MAKASSAR, RADAR SELATAN — Sempat ditolak oleh masyarakat sekitar karena menjadi rumah sakit darurat Covid-19, kini Rumah Sakit (RS) Sayang Bunda telah beroperasi selama 12 hari dan melayani lebih 300 pasien secara gratis. Selama periode 12 hari tersebut, RS Sayang Bunda telah menangani 383 pasien dengan gejala batuk, pilek, dan sesak nafas.

Dokter Hisbullah Amin, Penanggung Jawab RS Darurat Covid Makassar dan Satgas Relawan Covid-19 dalam jumpa pers yang dilakukan Minggu 5 April 2020 menyatakan, sampai hari ke-12, RS Darurat sudah melayani 383 pasien.

“Total ada 383 pasien, dengan rincian Pasien dalam Pengawasan (PDP) saat ini berjumlah 37 orang, 117 pasien yang berstatus Orang dalam Pemantauan (ODP) dan 9 pasien yang merupakan OTG,” ungkapnya, Minggu (5/4/2020).

Sisanya merupakan pasien yang belum teridentifikasi sekitar 200 lebih.
Sementara itu, untuk jumlah keseluruhan di Sulsel, telah ada 2.166 berstatus ODP dan total PDP yakni 263. Pasien yang positif saat ini berjumlah 82 orang. Serta 38 yang telah sembuh. Data tersebut merujuk pada laman resmi Covid-19 Sulsel per 5 April pukul 21.20 Wita.

Dr Hisbullah mengatakan, layanan yang diberikan RS Darurat mencakup pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaaan radiologi dan jika ada indikasi dilakukan pemeriksaan SWAB bekerjsama dengan RS Unhas.

“Semua layanan gratis. Masyarakat cukup membawa identitas seperti KTP,” katanya.

Selama 12 hari bekerja bersama PRI (Para Relawan Indonesia), dr Hisbullah mengaku tidak mengalami kendala berarti. “Relatif tidak ada masalah ya. Hanya saja saat ada pasien yang mengalami sesak dan kolaps saat proses pemeriksaan, kami kesulitan karena saat dirujuk susah mendapatkan tempat. Biasanya kami turunkan tim yang bisa mengurus dan mencari rumah sakit yang kosong,” jelasnya.

Dr Hisbullah juga menyampaikan ada juga pasien mengeluh sesak di rumah dan langsung dijemput dengan tim relawan.

“Untuk pemeriksaan SWAB tidak semua bisa dilakukan. Kecuali ada indikasi. Ada form yang dikirim dari RS Unhas yang harus diisi,” tambahnya.

RS Darurat yang didanai oleh donatur ini semuanya gratis. Kecuali pemeriksaan mandiri seperti foto torax maka ditanggung oleh pasien. “Tapi kalau bisa menunjukkan keterangan tidak mampu maka akan ditanggung oleh relawan,” ujar dr Hisbullah.

Bagaimana dengan APD? Karena APD dimana-mana susah diperoleh, maka PRI juga memproduksi sendiri APD yang digunakan oleh rumah sakit. “ Ada yang dibeli, bantuan dari donatur, dan sebagian yang dipakai relawan adalah produksi sendiri,” terang dr Hisbullah yang berharap para donatur tetap memberikan support. “Karena selama 12 hari pasien tidak menurun, tapi malah meningkat. Datang dengan keluhan batuk dan demam,” katanya. Dr Hisbullah berharap RS Darurat bisa terus dipertahankan selama masa pandemi karena RS Rujukan sudah kewalahan. (rdr)