Sahur ala Nabi Muhammad SAW

 

RASULULLAH Saw bersabda, “Sesunggunya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban)

Makan sahur termasuk amalan yang sangat dianjurkan bagi yang ingin berpuasa. Selain meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahur juga dimaksudkan untuk menguatkan fisik dalam melaksanakan berbagai rangkaian ibadah pada siang hari.

Yang lebih istimewa lagi, bahwa dalam makan sahur terdapat berkah Allah SWT. Karenanya, Rasulullah Saw menyatakan, “Bersahurlah kalian, karena pada makan sahur terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra.)

Hikmah dan Keutamaan Sahur

Diantara hikmah dan keutamaan sahur adalah menyelisihi Ahli Kitab. Dahulu, Ahli Kitab juga diwajibkan berpuasa. Namun, mereka tidak makan sahur. Ahli Kitab yang berpuasa tidak boleh makan, minum dan melakukan hubungan suami istri setelah tidur hingga malam berikutnya tiba. (Lihat: Puasa Bersama Nabi Saw, Hal. 77; Darus Sunnah; 2011)

Hukum tersebut kemudian dihapus (mansukh) oleh Rasulullah Saw, dimana beliau memerintahkan ummatnya makan sahur di akhir malam. Beliau Saw bersabda, “Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Terdapat banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan makan sahur, diantaranya, sabda Rasulullah Saw, “Keberkahan itu terdapat pada tiga hal: berjamaah, tsarid (makanan yang terbuat dari roti dan daging), dan sahur.” (HR. Thabrani dan Abu Nuaim, dari Salman ra.)

Beliau Saw juga bersabda, “Sahur adalah makanan penuh berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya walau salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Dalam kitab ‘Puasa Bersama Nabi’, Salim bin Id Al-Hilali menyebutkan, “Berkah sahur yang paling agung adalah bahwa Allah Ta’ala melimpahkan ampunan kepada orang yang makan sahur serta menuangkan rahmat-Nya kepada mereka. Di sisi lain, para malaikat juga memohonkan ampun bagi mereka seraya berdoa agar Allah Ta’ala mengampuni mereka, sehingga mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka oleh Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah pada bulan al-Quran ini.”

Waktu Sahur

Sahur lebih utama dilakukan pada akhir malam, sehingga tubuh kita tidak terlalu merasa lapar dan lemas saat menjalankan puasa beserta ibadah lainnya di siang hari.

Zaid bin Tsabit ra. menceritakan, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian kami beranjak untuk mengerjakan shalat (subuh).” Anas bin Malik ra.–yang meriwayatkan hadist ini–kemudian bertanya, “Berapa lama rentang waktu antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira sama seperti (membaca) 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

50 ayat itu berapa halaman dari mushaf Al-Quran? Bila kita berpatokan pada Mushaf Madinah, yang ditebitkan oleh KSA, 50 ayat pertama Al-Baqarah terdiri dari 6 halaman; 50 ayat pertama surat Alu Imran terdiri dari 7 halaman, dan 50 ayat pertama dari surat An-Nisa terdiri dari 10 halaman.

50 ayat pertama surat Yaasiin, 3,5 halaman; 50 ayat pertama surat Ar-Rahman terdiri dari 2 halaman, dan 50 ayat surat Al-Mursalat terdiri dari 1,5 halaman. Ketiga surat terakhir yang disebutkan di atas termasuk ayat-ayat pendek.

Adab-adab SahurĀ 

Untuk menggapai keberkahan sahur, terdapat sejumlah adab sahur yang harus diperhatian. Berikut saya nukilkan secara ringkas beberapa adab sahur dari buku ‘Adab-adab Ibadah Ramadhan’, yang telah saya tulis beberapa tahun lalu (Shandy; 2016); Pertama, melakukan sahur walau hanya dengan minum seteguk air. (HR. Ahmad)

Kedua, mengakhirkan makan sahur. Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Beliau Saw bersabda, “Bersegeralah kalian berbuka (jika telah tiba waktu berbuka), dan akhirkanlah makan sahur kalian.” (HR. Ibnu Ady, dari Anas bin Malik ra.)

Ketiga, makan kurma saat sahur. Rasulullah Saw bersabda, “Makanan sahur yang paling nikmat adalah kurma.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban)

Keempat, tidak berlebihan dalam makan sahur. Apapun yang dilakukan secara berlebih akan menimbulkan mudharat (bahaya), termasuk makan sahur secara berlebihan, karena dapat menyebabkan sakit perut, berat mengerjakan ibadah, dan akan menimbulkan rasa kantuk yang berlebihan, sehingga lalai dalam ibadah.

Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Kelima, memperhatikan adab-adab makan dan minum, seperti membaca basmalah sebelum makan, makan dan minum dengan tangan kanan, tidak makan pada bejana emas dan perak, tidak mengonsumsi kecuali makanan yang halal dan thayyib (baik), dan sebagainya.***