Sajak-sajak Arham Wiratama

Lagu-lagu Usang

masa lalu biarlah tersesa
dan tak lagi kembali ke kepala
agar kenangan tajam di masa silam
tak merobek kedamaian menjadi
kepingan-kepingan derita
tapi selalu ada yang ingin kembali
kepada kerlip kedua matanya
meski waktu tak bisa diputar ulang
seperti lagu-lagu usang yang kadang
menciptakan rindu sampai menembus tulang
14 Januari 2019

Huruf-huruf Asing

Kau huruf yang tak sanggup kubaca
karena tiap garis yang kau tulis
melukiskan gores-gores luka
seperti yang ada pada tubuhmu itu
Aku ingin menjadi satu kata
di tengah-tengah paragraf
yang menceritakan kegelisahan
akan keterasinganmu setiap bernapas
Kita adalah daun yang diterbangkan angin
menuju tempat-tempat paling remang
di mana lilin hanya memijarkan derita
di pancaran kedua mata kita
14 Januari 2018

Di Bumi Kita

Berdansa ilalang dipeluk desiran ilahi
yang ditiupkan dari nafas-nafas
para pembaca kitab-kitab suci
Burung-burung mengendarai angin
seraya melemparkan salam kepada surya
dengan lagu gavotte dari relung rohaninya
Ikan-ikan menyelami lautan musik
yang dibawakan dari gerak ombak
yang bisa menyeretmu kepada harmoni
Sedang manusia mematahkan
senar-senar kehidupan yang
tak bisa disambung lagi
14 Januari 2019
Suara Toa di Bukit-Bukit
Cerpen: Raudal Tanjung Banua

Musik dalam Tubuhnya

Gemuruh dalam mulutnya menggaungkan
sederet nada minuet berwarna kusam
yang ia akhirnya telan dan tak terlisankan
Maka di lambungnya kini terdengar
gesek rebab, dengung angklung, semilir suling
serta petikan gambus yang seperti gerimis
Meski pada akhirnya rentetan suara itu
turun ke usus dengan lengking nada nyaring
dan diakhiri gema gong yang keluar dari bokong
14 Januari 2019

Penisik Nasib

Mimpi-mimpi telah ia kembarai
di sana pemuda itu bertemu penisik nasib renta
yang bisa menjahit takdir dengan pianonya
kemudian pemuda itu meminta pada si tua
untuk menciptakan kesuksesan masa depan
agar dirinya bisa berani pulang ke orangtuanya
dengan kegemilangan keberhasilan
Maka jari-jari penentu takdir itu mulai menekan
tuts-tuts piano dengan gemulai dan santai
tapi karena syaraf sang penisik hampir kedaluwarsa
jadilah dia salah menekan nada yang seharusnya
Mendengar ada nada yang sumbang
pemuda itu mengernyit dan ketakutannya bangkit
terbayang sudah nasib buruk akan menghujaninya
jadilah tangannya gemetar dan pikirannya berputar
dan benarlah nasib buruk berjatuhan layaknya anak panah
nyeri dan ngilu bertinggal di seluruh tubuhnya
tapi dia menjadi matang dan bijak karenanya
Beberapa tahun setelah menghampiri penisik
di dalam dimensi-dimensi mimpi orang terlelap
pemuda itu senantiasa bisa berdiri dari terpaan cobaan
dan dengan itu, lengannya bisa meraih bintang
14 Januari 2019

Jamu

Aku bersepeda mengelilingi
singgasana Engkau
kutemu nenek memanggul jamu
senantiasa membungkuk pada-Mu
Kupesan racikan semesta padanya
maka ia keluarkan botol berisi
cairan sebiru samudra seterang api
dan dituangkannya pada cawan berlian
Setetes jatuh pada tanah
menumbuhkan keceriaan yang terpendam
menjadi pohon raksasa yang memekarkan
cahaya pagi
Saat minuman itu tertelan
kemerdekaan sukma menjadi milikku
15 Januari 2019

Jatuh

Pergi ke hutan penyesalan
pada musim di mana luka
bisa dipanen ketika cahaya
matamu telah dibasahi oleh
gerimis dari langit abu-abu
yang sendu.
Bulan dalam diri retak dan
mengucurkan darah emas
yang jatuh pada laut di mana
para pelayar tersesat pada pusaran ombak
yang menjanjikan keabadian cinta.
Namun perahu mana yang sanggup
menggapai tempat terkutuk itu
sebelum kendaraan yang ditumpangi
karam dicakar-cakar amuk gelombang?
Akhirnya aku berbicara dengan kehampaan
karena bulan tetap terluka, laut tetap
menjemput maut, dan angkasa yang coba
kita pijak, kini runtuh dirayapi waktu.
9 Oktober 2018

Mereka

Mereka yang berjalan
dengan kehampaan dada
di tiap langkah kakinya
mulai menarik lenganku
untuk turut mengikuti barisan
menuju puncak kesepian.
Mereka yang berenang
mulai menenggelamkanku
pada samudra keputusasaan
sampai gelembung harapan terakhir
dari napasku pecah ke permukaan.
5 November 2018

Mimpi

Aku menginap di atap masa kanakku
di sana kutatap tiap bintang terbakar
sinar derita yang sepanas bola matamu.
Aku menetap di mimpi yang
tak kunjung jadi nyata, seperti
kabut malam sunyi di gugur hati
dan mendarat di puncak rasa sepi.
13 Mei 2018

Biodata:Arham Wiratama. Lahir di Jombang 1 Agustus 1997. Seorang penderita bipolar. Telah menerbitkan buku, Deru Desir Semilir (2016) dan Segara Duka (2018). Kini sedang belajar biola dan gitar.
Sajak-sajak Arham Wiratama