Sajak-sajak Bambang Widiatmoko

Rammang-Rammang

Bagaimana tidak akan mensyukuri
Setelah memahami keindahan sunyi
Menyusuri sungai tak bergelombang
Membuang hati yang kadang bimbang.
Hijau deretan nipah seakan bersumpah
Buanglah segala sumpah serapah
Ikutilah laju perahu membelah resah
Di akhir tujuan akan terbuang segala gelisah.
Di Rammang-Rammang belibis bebas terbang
Mencari ikan yang makin pandai menghilang
Kembali menyusuri sungai ke arah pulang
Lengkap sudah mengisi kenang sepanjang siang.
2019

Madelo

Pantai ini menawarkan sesuatu yang tersembunyi
Dalam hamparan pasir jejak telapak kaki
Dan harum asap ikan Laik yang dipangang
Di atas bara serabut kelapa – mengingatkan akan
Selera yang tercekat di atas sebuah meja.
Dapatkah pantai mempertemukan kekosongan jiwa
Setelah lelah mengembara dari kota ke kota
Atau malah tersembunyi di dalam cangkang Tude-tude
Yang terbenam dalam pesisir yang dangkal
Sebelum ombak mengembalikan bentuk ke asal mula?
Di pantai Madelo – deretan rumah panggung kian terapung
Waktu yang mempersingkat kenangan seolah linglung
Jika suatu saat aku kembali mencari jejak telapak kaki
Pastilah sudah terhapus karena musim telah berganti
Tapi entahlah jika reinkarnasi benar telah terjadi.
2019

Bissu

Keris itu telah terhunus dan sigap menusuk leher
Tapi manteramu menjaga marwah nenek moyang
Sehingga tak setetes darah terlahir dan mengalir.
Jejak We Tenri Abeng Bissu Rilangi telah diwarisi
Dalam catatan kisah panjang La Galigo
Dan aku melihat pertunjukanmu: angin terhenti.
Ingatan lantas kembali ketika kukenal Bissu Saidi
Di benteng Somba Opu yang ditikam sepi
Kurasakan nyeri: menusuk dinding hati.
2019

Watansoppeng

Kota ini tak pernah berhenti memahami
Jalanan yang kini tak lagi sepi
Menghidupkan tradisi menjaga jati diri
Seperti ribuan kalong yang selalu kembali
Memadati dahan dan menyeringai unjuk gigi.
Di villa Yuliana mencoba mengingat kisah
Yang tertulis di dalam kitab lontara
Dan mengangkat sumpah Latemmamala
di batu Lamung Patue – bergelar Datu Soppeng.
Entah mengapa aku ingin ziarah di sini
Mencium wangi misteri di Jera Lompoe
Yang membuat bulu kuduk berdiri
Terasa ingin lari – tapi terduduk kembali.
2019

Menarik Benang Merah

Sejak penguasa di Langi yang berasal dari dunia atas
Dan Peretiwi dari dunia bawah, lalu sepakat untuk mengisi
Dunia Kawa – dunia tengah yang masih kosong dan sunyi
Mengirimkan anak mereka di sana melalui cahaya
Dari Langi diturunkan Bataraguru, anak sulung lelaki Patotoe
Bersama Datu Palinge. Aku telah menarik benar merah di atasnya.
Bumi masih sepi – lalu dibentuklah gunung tempat kita merenung
Hutan tempat kita belajar memanah dan mencium aroma tanah
Dilengkapi sungai berair jernih lalu kita minum dari mata airnya
Kesegaran dan kemurnian hati seperti cahaya terpantul dari matahari
Berbagai jenis tumbuhan muncul seperti merindukan pelangi
Padi tercipta dari sebuah mimpi untuk mengekalkan keberadaan bumi.
Dapatkah kita belajar persaudaraan dan kemanusian pada masa lalu
Dari kisah leluhur yang menurunkan pekerti luhur meski telah dikubur
Belajar dari pengembaraan untuk menebar kasih sayang
Belajar toleransi melalui ikatan perkawinan
Belajar saling menghargai antara atasan dan bawahan
Memahami silsilah meski terkadang malah membuat gelisah.
Aku telah berusaha memahami dan mencari kesadaran dalam kehidupan
Seperti pelayaran Sawerigading ke Cina – untuk mengawini I We Cudaiq
Ingin melupakan kisah gelap – diskriminasi etnis, perseteruan suku dan agama
Belajar memaknai Bhineka Tunggal Ika dan terbang bersama burung Garuda
Jika kita tanam pohon bernama kesadaran, berbuah persaudaraan dan kemanusiaan
Sejatinya kita adalah penguasa bumi – dengan hakikat cinta yang abadi.
2019
*) Terinspirasi La Galigo

BAMBANG WIDIATMOKO, penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal al. Kota Tanpa Bunga (2008), Jalan Tak Berumah (2014), Silsilah yang Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Antologi puisi bersama al. Kota Terbayang (2017), Negeri Bahari (2018), Tentang Buku dan Rahasia Ilmu (2018). Tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017).