Springbed Rumahan Karya Judding dari Kampung Na’na

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Belajar secara otodidak, Judding berhasil menghasilkan springbed atau ranjang pegas. Kualitas dan tampilannya layak diadu dengan produk pabrikan yang dipasarkan di toko-toko.

Sehari-hari, Judding disibukkan dengan membuat spingbed di kolong rumahnya, di Kampung Na’na, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Springbed yang diproduksi sudah bertua, dipesan pelanggan jauh-jauh hari. Warna dan motifnya disesuaikan dengan keinginan pembeli.

Menurut Judding, pemesan tak perlu menunggu lama karena satu springbed bisa jadi dalam dua hingga empat hari saja. Dia kerap dibantu putra sulungnya Muhammad Ali Nur dalam proses pengerjaan. Ukurannya bervariasi, nomor 1 lebarnya 175 cm, nomor 2 lebarnya 150 cm, dan nomor 3 lebarnya 125 cm dengan panjang masing-masing 2 meter.

“Jadi prosesnya dipesan dulu karena pengerjaannya juga tidak lama. Semua bahannya juga tidak susah, kami belinya di kampung sebelah,” jelas pria yang aktif sebagai iman masjid di Kampung Na’na itu.

Untuk harga tentu lebih bersahabat dibanding produksi pabrikan, namun dari kualitas dan desainnya dapat diadu. Pemasaran dari springbed rumahan yang dikerjakan secara manual itu hanya dibandrol Rp 3,2 juta hingga Rp 3,5 juta.

Kepuasan konsumen terhadap produknya diakui Judding cukup memuaskan. Terbukti, masyarakat di kampungnya dan dari desa-desa seberang yang mengetahui usaha pria 45 tahun itu lebih memilih mempercayakan kenyamanan tidur pada hasil karyanya. Dalam sebulan, dia mengerjakan sampai lima pesanan.

“Alhamdulillah untuk penjualan lumayan. Dari hasil ini menopang ekonomi keluarga kami,” kata Juddin yang sehari-hari juga bekerja sebagai petani kebun.

Ayah empat anak itu menceritakan awal mulanya membuat springbed. Tekadnya hanya untuk membuat tempat tidur yang nyaman bagi keluarganya. Namun membeli springbed pabrikan baginya cukup mahal, sehingga dia memutuskan untuk membuatnya sendiri dengan bahan dasar kayu miliknya.

“Pas jadi ternyata banyak warga yang mendukung supaya saya bikin untuk dijual. Jadi saya mulaimi, dan tidak disangka-sangka bisa berjalan sampai sekarang,” kata pria yang merintis usahanya sejak 2011 lalu. (anjar s. masiga)