Supriadi Agustiawan, Mahasiswa UIN dengan Sederet Prestasi Internasional

Namanya Supriadi. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar ini lolos pada kegiatan Konferensi Internasional di Thailand.

Penulis: Andi Tenri Ajeng

Terlahir dari keluarga sederhana tidak menyurutkan semangat Supriadi Agustiawan untuk terus menorehkan
prestasi yang mampu mengharumkan nama keluarga.

Berbagai prestasi telah diraih pria kelahiran 11 Agustus 1999 itu. Diantarnya, menjadi Delegasi kegiatan
Volunteering Thailand Intercultural Camp di Bangkok dan juara 1 Poster Keselamatan dalam Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Tingkat Nasional Kementerian Perhubungan RI dengan mendirikan platform
berbasis kemanusiaan bernama RESPECT.ID di Kabupaten Maros.

Ia juga mampu masuk 10 besar LKTIN dalam ajang CSSMORA UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan masih banyak prestasi lain.

Di usia yang masih sangat muda dengan segudang prestasi membuat Supriadi menjadi sosok yang patut ditiru Generasi muda saat ini.

Baru-baru ini, mahasiswa semester 3 Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar itu kembali menorehkan prestasi dengan menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam International Leader Model United Nations 2019 (ILMUN) 30 Januari hingga 2 Februari 2019 di Queen Sirikat National
Convention Centre, Bangkok, Thailand.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk konferensi Model United Nations skala International yang akan mempertemukan 300 delegasi dari seluruh dunia.

“International Leader Model United Nations adalah kesempatan bagi saya. Saya tidak akan menyia-
nyiakan kesempatan ini, karena di masa mendatang bangsa atau bahkan dalam skala daerah regional
saja, mereka selalu membutuhkan ide-ide kreatif untuk membangun kualitas daerah masing-masing,” ungkapnya saat terpilih berkat essainya dengan judul “Platform to Handling Local Humanity Issue’ yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kepedulian dan kemanusiaan.

Tak banyak yang tau kisah dibalik perjuangan Supriadi hingga berhasil mengikuti konferensi Internasional tersebut. Salah satu kendala yang paling dirasakan Surpriadi, adalah biaya keberangkatan, karena kegiatan ini ditanggung masing-masing peserta.

Supriadi harus bekerja keras mengajukan proposal ke banyak pihak, namun tidak berjalan mulus. Dari banyaknya proposal diajukan hanya dua yang berhasil.

“Respon yang saya terima bermacam-macam, mulai dari ditolak dengan cara yang tidak wajar, diusir, dan
ada yang sampai menghilangkan proposal yang saya kirim padahal sudah approve tapi ada juga yang
memberikan respon baik, dua diantaranya menerima dan memberikan bantuan dana,” terangnya.

Supriadi mengaku, pernah putus asa karena dana yang dia dapatkan dari proposal dan situs kitabisa.com
belum seberapa dan deadline pembayaran yang semakin dekat. Supriadi akhirnya menempuh cara lain
dengan harapan bisa membantunya, yaitu mengirim berita ke media dan tak disangka berita tersebut
menjadi viral.

Dua bulan lamanya Supriadi berjuang sendiri mencari dana diiringi doa hingga akhirnya membuahkan
hasil, dia mendapat donatur dari Ikigai Asia dan salah satu pembuat starup di Jerman yang merupakan
orang Indonesia.

“Bagi siapapun yang merasa ingin memacu diri dengan turut ambil bagian dalam kegiatan internasional, saya pesankan jangan pernah ragu mengambil langkah. Seperti kendala yang saya alami terkait dana yang bagi orang-orang mungkin mustahil bisa dikumpulkan dalam waktu singkat, tapi saya selalu tanamkan yakin. Yakin pada diri sendiri, pada proses dan juga pada doa-doa yang pasti akan dikabulkan oleh Tuhan,” ujarnya.

“Kita semua punya porsi dan cara belajar, tergantung apakah kita ingin menjemputnya, atau
tidak. Dan saya tekankan sekali lagi, bermimpi itu gratis. Dan melewati proses-proses dalam mewujudkannya adalah sebuah bayaran mahal yang tak bisa dibeli oleh orang-orang yang hanya bisa iri dan tidak pernah menjadi supporting system kita dalam berjuang. Poinnya adalah serahkan pada Tuhan apa yang tak pernah bisa lagi kita lakukan,” tutupnya. (hen/has/c)