Beranda Hot News Tokoh Pers Alwi Hamu Genap 76 Tahun, dari Buletin HMI Hingga Bangun...

Tokoh Pers Alwi Hamu Genap 76 Tahun, dari Buletin HMI Hingga Bangun FAJAR Group

Selasa, 28 Juli 2020, 9:46 WITA

MAKASSAR, RADAR SELATAN — Tak hanya sosok tokoh pers nasional, Alwi Hamu, dikenal supel dan bersahabat. Pria kelahiran Parepare, 28 Juli 1944, kini genap berusia 76 tahun.
Chairman FAJAR Grup ini pun mulai mengenal dunia jurnalistik sejak remaja. Tercatat, ia sudah menerbitkan majalah stensilan saat masih duduk di bangku SMP, begitu pun saat SMA.
Saat mahasiswa, Alwi bersama Jusuf Kalla (Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12) aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Alwi Hamu dengan kreativitasnya melahirkan buletin HMI di Makassar, “IDJO itam BERDJUANG”.
Keduanya pun menjadi aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 1966. Bahkan menerbitkan surat kabar “KAMI” pada 1966. JK Menjadi ketua, sedangkan Daeng Alwi- Sapaan Karib JK kepada Alwi Hamu- menjabat sekretaris.
Demi idealisme jurnalistik, putra Haji Muhammad Syata dan Hj Ramlah ini pun pernah divonis enam bulan penjara.
Satu Oktober 1981, Alwi mendirikan Fajar yang telah menjadi media besar di tanah air. Di usia 76 tahun ini Alwi pun masih aktif di dunia pers, dengan menakhodai organisasi Serikat Perusahaan Pers (SPS).
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus menilai sosok Alwi Hamu salah seorang panutan di dunia pers.
“Pak Alwi itu salah satu tokoh pers yang jadi panutan. Kami banyak belajar dari beliau, bagaimana membangun media dan membangun jejaring di berbagai kalangan dengan tetap menjujung integritas.”jelasnya.
Masa kecil HM Alwi Hamu selalu diasah oleh nilai-nilai kearifan lokal. Lingkungan keluarga mendidik Alwi Hamu untuk selalu jujur. Haji Muhammad Syata dan Ramlah memberinya tanggung jawab menjual di toko kelontongan. Padahal, ia masih kanak-kanak untuk melaksanakan pekerjaan itu.
“Ketika saya kelas 2 SD di Parepare, kakak saya diantar mobil. Saya ndak mau, saya ingin seperti teman-teman saya yang lain, bajunya robek-robek. Saya pindah ke Makassar jadi `office boy`. Saya mau tangan di atas. Bukan tangan di bawah. Ketika menerima uang. Ini uang saya. Jadi terbentuk dari awal,” katanya suatu ketika hadapan peserta “Pesta Wirausaha Makassar”.
Tak heran, kejujuran yang ditanamkan kedua orang tua Alwi Hamu mendasari segala aktivitasnya, yang ditempa dengan nilai-nilai kesederhanaan dan ketelatenan.
Modal kemampuan komunikasi dan idealisme Alwi, membuatnya sukses menjalin pergaulan lintas budaya dan sosial. Tahun 1989, ia mendatangkan kelompok atraksi Whu Han. Pertunjukan ini berlangsung lama di Balai Kemanunggalan ABRI-RAKYAT (sekarang gedung Jenderal M Jusuf). Saat itu, masa Orde Baru, kurang lebih 35 tahun Kebudayaan Tionghoa kurang mendapat fasilitas dari pemerintah Indonesia. Termasuk tidak mengizinkan pertunjukan barongsai. Namun, pada 1992, Alwi justru memberi kejutan. Dengan sangat berani, ia menyelenggarakan pertunjukan barongsai dan atraksi naga di Sulawesi Selatan.
Kedekatan Alwi dengan warga Keturunan semakin besar setelah menerbitkan surat kabar di Hong Kong. Sebagian besar berisikan informasi tentang kerukunan masyarakat Indonesia-Tionghoa. Sejumlah warga keturunan yang sangat besar jasanya mendampingi Alwi. Mereka setiap saat banyak berdiskusi tentang perkembangan warga keturunan.
Modal kemampuan komunikasi dan idealisme Alwi yang membuatnya sukses, dan paling menonjol di sektor media. Selain memimpin PT Media Fajar dengan lebih 40 media (cetak dan elektronik), Alwi Hamu juga menakhodai puluhan perusahaan media dan non-media yang tersebar di Indonesia Timur.
Saat Alwi sebagai Sekjen Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia wilayah Sulselra melawan arus orde lama. Darah aktivis dan perjuangan idealisme jurnalistik yang terus membara, bahkan pernah “mengantar” Alwi divonis enam bulan penjara.
Di jalur perjuangan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Alwi Hamu salah seorang yang mempertahankan Markas HMI di Botolempangan, Makassar yang kini menjadi simbol perjuangan-perjuangan HMI.
Alwi Hamu banyak menyumbangkan gagasan inovatif. Ia tak pernah diam. Dari bibir murah senyum itu, kalimat-kalimat inovatif terus mengalir. Ia membakar dada segenap karyawan seraya berujar, “Jangan pernah mau berhenti menombak langit. Sebab, di atas langit masih ada langit.” (***)