TRC P2TP2A Makassar Rapat Akhir Tahun 2018

MAKASSAR — Konsultan Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Andi Yudha Yunus menfasilitasi rapat evaluasi akhir tahun 2018 di ruang rapat kantor P2TP2A Jl. Anggrek No. 11 Makassar, Minggu 30 Desember. Rapat ini dihadiri Tim TRC, relawan, dan tim P2TP2A.
Mewakili Kadis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, Sekretaris DPPPA Andi Mekkawati Dahlan membuka rapat tersebut. “Mohon izin bu Kadis, saya berharap rapat evaluasi ini meningkatkan kualitas layanan di tahun 2019,” kata Mekka yang duduk berdampingan dengan Kadis DPPPA , Tenri A. Palallo. Tenri mendelegasikan ke sekretaris untuk membuka kegiatan akhir tahun yang diharapkan mampu menghasilkan kinerja terbaik di 2019. Tenri sendiri memposisikan diri sebagai Ketua P2TP2A Makassar.

Tahun ini kinerja tim TRC P2TP2A sangat membanggakan. Walau demikian ada beberapa catatan yang dibicarakan lebih detail. Mulai dari ketertiban internal; jam kerja, disiplin, kerjasama sampai pada kode etik pendampingan. Lebih penting beberapa prosedur layanan didiskusikan kembali untuk diperbaiki berdasarkan fakta lapangan. Ketua TRC Makmur Payabo yang tidak meninggalkan ruangan hingga akhir berkomitmen meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. “Kita terus mengupayakan layanan terbaik untuk korban Kekerasan Terhadap Perempuan/Anak (KTP/A),” ujarnya.

TRC P2TP2A bertugas memberikan layanan cepat terhadap korban Kekerasan terhadap Perempuan dan korban Kekerasan Terhadap Anak. Ia juga mengusulkan agar ditambah personil TRC khusus perempuan aktivis. Karena selama ini, kendala yang dihadapi, beberapa kasus memerlukan tangan-tangan dingin perempuan dalan penjangkauan kesempatan pertama. Selama ini hanya ada Konselor, yakni Hikma dan tim psikolog UNM yang membantu. Mereka tidak turut serta pada kerja-kerja TRC P2TP2A di malam hari.

Berdasarkan laporan akahir tahun, DPPPA Kota Makassar melalui jaringan P2TP2A seperti LBH Apik, LBH Makassar, Yapta-U, Unit PPA Polresatabes Makassar, Unit Polrestabes Pelabuhan dan Polsek mencatat ada 1225 kasus. Jumlah ini lebih kecil dari tahun 2017 yakni 1406 kasus. Bagi Tenri angka-angka tersebut nyata karena layanan diupayakan sampai ke RT/RW, dan lorong-lorong. “DPPPA lagi memahat gunung es kekerasan, cita-cita saya, suatu saat tidak ada lagi sebutan kekerasan perempuan dengan fenomena gunung es. Begitu disebut 1225, ya itulah kekerasan yang terjadi,” ujar Tenri, Kadis DPPPA dan Ketua P2TP2A. ***