Viral Surat Terbuka Keluarga Pasien Meninggal Dunia Covid-19 Bulukumba, Mulai dari Nomor Register Hingga Sampel Swab Berubah-ubah

BULUKUMBA, RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID–Viral dimedia sosial, kerabat salahsatu pasien covid-19 meninggal dunia di bulukumba menulis surat terbuka berikut isinya.

Surat Terbuka buat:
1. Ketua DPRD Kab. Bulukumba.
2. Ketua Tim Gugus Tugas Covid 19 Blk.
3. Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba.
4. Direktur Rumah Sakit Umum Sultan Dg. Raja.

Saya, Hasanuddin Hamid adalah anak pertama laki-laki dari Almarhum Drs. Abd. Hamid Sembo. Kami sudah sangat kooperatif saat ayah kami ditetapkan PDP oleh Tim Dokter. Bahkan sampai meninggal pun, kami setuju dilakukan dengan protokoler covid. Tentunya kami pun ingin menyampaikan dan bertanya terkait hak-hak kami dan keganjilan yg kami alami setelah kematian orang tua kami yaitu:

1. Pada saat bapak saya msh kritis, kami sdh sepakat dgn dokter bahwa walaupun hasilnya blm keluar kami siap mengikuti protokoler covid pemakamannya. Dan benar adanya, beberapa menit kemudian meninggal. Yg jadi pertanyaan buat kami, mengapa tiba2 kami dapat info positif begitu meninggal? Secepat itukah?
2. Mengapa sampai saat ini kami blm menerima Surat Keterangan Kematian dari RS?
3. Mengapa sampai saat ini kami blm menerima surat keterangan bahwa orang tua kami positif covid?
4. Mengapa jenazah org tua kami di RS saat itu harus menunggu sampai pukul 16.00 wita baru dipindahkan dari ruang perawatan padahal meninggal pukul 10.00 wita?
5. Bukankah jenazah yg terkonfirmasi positif hanya butuh waktu 4 jam harus dikebumikan sementara jenazah ayah kami butuh waktu 7 jam lebih?
6. Mengapa setelah 1 x 24 jam, rumah orang tua kami tidak ada penyemprotan diisfektan?
7. Mengapa sampai saat ini tdk ada tracking kontak Almarhum?
8. Mengapa sampai saat ini tdk ada konfirmasi apakah kami akan di swab?
9. Mengapa register sampel swab bapak kami berubah-rubah dari 67 ke 57?
10. Mengapa register terkonfirmasi positif bapak kami berubah-rubah dari 100 ke 123?
11. Mengapa info dari rumah sakit bahwa sampel bapak kami di periksa di Sinjai sedangkan menurut tim gugus di Makassar?
12. Dari Cluster manakah bapak saya sedangkan sdh 2 tahun terakhir tdk keluar rumah?
13. Bukankah jenazah tdk bisa keluar RS jika tak ada surat kematian?

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, salahkah jika kami menyimpulkan bahwa Bapak kami sebenarnya POSITIF BUATAN?

Salam,
Cak Din