Warga Bantaeng Berduka Kehilangan Sosok Istri Mantan Wabup

by
Hj. Aisyah Yasin semasa hidupnya.

BANTAENG, RADAR SELATAN — Kabar duka menyelimuti Kabupaten Bantaeng, istri mantan Wakil Bupati Bantaeng, Hj. Aisyah Yasin meninggal dunia Sabtu, 24 Juli 2019 dini hari, tepatnya pada pukul 01.00 Wita.
Disemayamkan di kediamannya, tepat di Hotel Alam Jaya, jalan Andi Mannapiang, Kecamatan Bantaeng.

RUMAH DUKA. Suasana di rumah duka mendiang istri mantan Wakil Bupati Bantaeng, Hj. Aisyah Yasin yang meninggal dunia Sabtu, 24 Juli 2019 dini hari.

Mendiang Aisyah dimakamkan pada kompleks makam keluarganya di Kampung Gusung, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng pada Sabtu siang.
Nisannya tertancap rapi tepat di samping kakaknya, almarhum H. Anzar.

Mendiang istri H.Muhammad Yasin itu, menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Private Care Center (PCC) jalan Perintis Kemerdekaan, KM 11 Tamalanrea, Makassar.
Ribuan orang mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya di makam itu.
“Ribuan orang kemarin, sampai di sudut-sudut jalan, teras di rumah panggung, ramai. Memang orangnya baik, jadi tidak heran banyak yang melayat,” kata Azis saat ditemui di depan tempat pemakaman itu, Minggu, 21 Juli 2019.

Pria paruh baya yang sempat ikut menjadi bawahan ayah mendiang Aisyah Yasin ini, menuturkan bahwa semasa hidup dulu, masyarakat di kampung Gusung ini acapkali mendapat hadiah tak terduga dari ibu dua anak itu. Bukan hanya kepada anak-anak setempat, bahkan kepada orang dewasa juga diberikan. Hal itu lantas menjadi sesuatu yang berkesan bagi masyarakat sekitar.
“Duduk-duduk di teras rumah, anak-anak, sampai orang dewasa diberi uang atau bingkisan-bingkisan. Almarhumah baik orangnya. Beliau sosial dan murah senyum,” lanjutnya.

Mantan ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Bantaeng untuk periode 2013-2018 itu, memang terkenal dengan kepribadian yang baik. Sosok perempuan santun dan ramah kepada siapa saja.
Tak ayal, seorang pejabat dari Pemkab Bantaeng pun merasa kehilangan sosok itu.
Adalah Kepala Bagian Hukum Setda Bantaeng, M. Rivai Nur. Saat dijumpai di rumahnya, dia sedikit berkisah akan sosok perempuan yang sempat juga menjabat sebagai Ketua Forum Kajian Cinta Alquran (FKCA) Kabupaten Bantaeng.

“Sosok beliau adalah perempuan yang tangguh, sederhana. Kesederhanaan, baik kepada semua orang. Beliau tidak pandang siapa pun orang,” ucap Rivai.
Bagi Rivai, keberhasilan mantan Wabup Yasin tak lepas dari peran serta istrinya.
“Ada ungkapan bahwa dibalik lelaki yang berhasil ada perempuan tangguh di belakangnya, ungkapan itu tidak salah. Saya yakin bahwa keberhasilan pak Yasin itu karena istrinya,” ungkapnya.

Sebagai satu diantara sekian orang terdekat mantan Wabup Yasin, dia menilai almarhumah Aisyah adalah sosok perempuan yang kental dalam beragama.
“Istrinya pak Yasin, sangat-sangat sederhana, bertutur kata sopan, baik kepada orang. Agamanya bagus. beliau biasanya keluar dari rumah itu sekitar jam 10, karena berdzikir dan shalat dhuha,” kata Rivai.
“Sangat baik, waktu itu setelah Idul Fitri, saya pernah dipanggil untuk bagi-bagi sarung ke beberapa warga Bantaeng,” lanjutnya.

Bahkan sewaktu sakit pun, almarhumah Aisyah tak pernah mau membeberkannnya. “Beliau sembunyi penyakitnya karena tidak mau repotkan banyak orang,” katanya.
Diketahui almarhumah mengidap penyakit gula. Kakinya sempat tersiram air sehingga ia harus dirawat secara intensif di RS PCC di Makassar, setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng.

Sembari menggali ingatannya lebih dalam lagi, Rivai pun mengingat satu dari sekian banyak wejangan-wejangan yang dari mendiang Aisyah.
“Selalu, saya diajarkan, kita untuk perbaiki keluarga, perbaiku rumah tangga. Kadangkala kalau ketemu selalu ditanya keadaan kesehatan keluarga,” katanya.
Dia juga menyebut, mantan Wabup Bantaeng tersebut, sempat tertatih-tatih melangkah mengantarkan sang istri di peristirahatan terakhirnya.
“Pak Yasin kemarin tertatih-tatih jalan, karena kehilangan sosok yang dikasihinya. Rasa-rasa seperti Habibie, SBY saat ditinggalkan istrinya. Kebersamaan mereka kurang lebih 30 tahun,” pungkasnya. (sid/has)