Webinar Lembaga Riset IDI Hadirkan Peneliti Indonesia Lintas Negara

 

MAKASSAR, RADAR SELATAN — Banyak upaya yang dilakukan untuk menangani pandemik covid-19 di Indonesia. Anehnya, tak ada data penelitian tentang covid-19 dari Indonesia yang terpublikasi di jurnal ilmiah internasional. Untuk itu lembaga riset IDI mengadakan webinar bertopik penanggulangan pandemik covid-19 berbasis riset.

Ketua lembaga riset IDI, Dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed, PhD, didaulat menjadi moderator dalam diskusi webinar yang menghadirkan peneliti Indonesia dari lintas negara. Tercatat, 3 peneliti muda Indonesia, Dr. Gita Vita Soraya, PhD dari Universitas Hasanuddin dan Dr. Zulvikar Syambani Ulhaq, M.Biomed, PhD dari UIN Malang memaparkan pengalaman publikasi internasional covid-19, dan Dr. M. Sopiyudin Dahlan, M.Epid, M.Phil dari PT Epidemiologi Indonesia membawakan judul presentasi grand design penelitian covid-19 IDI.

Ketua lembaga riset IDI, Dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed, PhD, didaulat menjadi moderator dalam diskusi webinar yang menghadirkan peneliti Indonesia dari lintas negara. Tercatat, 3 peneliti muda Indonesia, Dr. Gita Vita Soraya, PhD dari Universitas Hasanuddin dan Dr. Zulvikar Syambani Ulhaq, M.Biomed, PhD dari UIN Malang memaparkan pengalaman publikasi internasional covid-19, dan Dr. M. Sopiyudin Dahlan, M.Epid, M.Phil dari PT Epidemiologi Indonesia membawakan judul presentasi grand design penelitian covid-19 IDI.

Dr. Gita dan Dr. Zul telah merilis 6 publikasi internasional tentang covid-19. Suatu prestasi yang patut diapresiasi, meskipun masih berupa sistematik review dan meta analysis. Kedua peneliti muda ini menemukan tidak ada data covid-19 dari Indonesia dalam kumpulan jurnal yang dianalisis. “Kami berharap kelak Indonesia juga punya data covid-19 yang dapat dianalisis.” Harap mereka berdua.

Panelis penanggap dalam kegiatan Webinar lembaga riset IDI, adalah peneliti Indonesia dari lintas negara, diantaranya Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Phar, PhD dari American College of Clinical Pharmacology, USA, Dr. Dicky Budiman, MScPH kandidat PhD dari Griffith University, Australia. Dan 2 panelis dari Indonesia, masing-masing Dr. Rina Agustina, MSc, PhD dari Human Nutrition Research Center IMERI FKUI dan Dr. Rudiansyah, Sp.PD-KGH, FINASIM, dari Universitas Lambung Mankurat.

Para panelis sepakat bahwa Indonesia harus memiliki data penelitian covid-19 sendiri yang dapat diakses. Mereka berharap lembaga riset IDI dapat menginisiasi dan mengfasilitasi penelitian tentang covid-19 di Indonesia. Lebih jauh Prof. Taruna menyatakan siap untuk mencari funding di Amerika untuk penelitian-penelitian fitofarmaka Indonesia untuk covid-19.

Menurut Dr Wachyudi Muchsin SH Salah satu peserta webinar ini merupakan salah satu webinar yang memberi manfaat bagi peserta dalam menghadapi pandemik corona yang saat ini masuk kategori sudah menuju puncak di Indonesia.

Webinar yang di ikuti 1115 peserta lintas negara ini dibuka oleh Ketua Umum PB IDI, Dr. Daeng M. Fakih, SH, MH, yang mengharapkan lembaga riset IDI dapat menjadi barometer kemajuan riset bidang kesehatan di tanah air. “Ini lembaga baru di IDI, yang sudah berbadan hukum. Jadi sudah bisa mandiri,” kuncinya. (Rdr)