Yaman, Negeri Keturunan Rasulullah Dimana Azan Tak Pernah Berhenti

NEGARA Yaman sudah tidak asing lagi untuk diketahui. Betul sekali, Yaman adalah salah satu negara yang terletak di Jazirah Arab, negeri yang terkenal dengan sebutan tanah para Waliyullah, tanahnya para ulama besar, dan juga kampungnya Dzuriyyah Rasul (anak keturunan Rasulullah).

Mengapa Yaman disebut kampungnya Dzuriyyah Rasul? Karena di Yamanlah anak cucu dan keturunan Rasulullah paling banyak tinggalnya, masyaallah. Tahun ini adalah tahun pertama bagi saya untuk menjalankan ibadah puasa bulan suci Ramadan di negeri Yaman.

Tentu untuk saya seorang pendatang baru dan mahasiswa baru di sini, puasa di negeri ini menjadi pengalaman terbaru dalam hidup saya. Walau tak jauh berbeda seperti di Indonesia, tapi terdapat juga beberapa perbedaan-perbedaan atau keunikan selama saya merasakan berpuasa di negeri ini. Apa saja kah itu?

Pertama, pernahkah kalian dengar di Yaman ada istilah azan Isya akan terus berkumandang sampai waktu subuh? Tentunya kalian bertanya-tanya, apa maksud dari
pertanyaan tersebut? Awalnya saya pun kaget saat hari pertama bepuasa di Yaman dan melewati malam di negeri ini.

Saya bertanya-tanya mengapa sedari tadi azan terus, dari waktu tarawih selesai masih ada saja suara adzan. Bahkan sampai jam 1 malam saya masih mendengar azan berkumandang. Saya pun mulai heran. Seribu pertanyaan menyerbu otak saya, bagaimana bisa adzan isya terus menerus berkumandang sampai waktu subuh?

Ternyata orang-orang Yaman terkenal dengan ahli ibadah dan selalu mementingkan urusan akhirat daripada dunia. Itulah sebabnya adzan isya di Masjid sini seperti memainkan peran berganti-gantian. Contohnya seperti Masjid As-sahl memulai tarawih pada pukul 20.30, Masjid Ubadah pada pukul 20.45, Masjid bir tepat jam 20.01, begitu pun Masjid yang lain.

Jamaahnya banyak dan tetap ramai semarak, bahkan orang-orang yang baru saja melakukan salat tarawih sampai tuntas di Masjid satu, akan berjalan lagi mencari Masjid
lain yang baru adzan dan mau melaksanakan tarawih, begitu saja terus mereka mencari masjid lain dan masjid lain lagi untuk melaksanakan tarawih sampai waktu subuh tiba.

Masyaallah. Saya sangat salut dan kagum mengetahui fakta ini. Salah satu fakta yang baru pertama kali dalam seumur hidup ku ketahui. Orang-orang Yaman selalu antusias dalam beribadah pada Allah tanpa mengenal lelah.

Tanda bahwa mereka memanfaatkan waktu yang singkat di bulan Ramadan dengan amat baik, melakukan qiyamullail sepanjang malam. Menghidupkan waktu malam-malam mereka dengan mendekatkan diri pada sang Illahi Rabbi.

Dan bukan hanya kaum pria saja yang semangat dan antusias dalam melaksanakan Ibadah di bulan suci Ramadhan. Kaum perempuan pun tak kalah rajinnya.
Tercermin dari istri ulama masyhur kita, Habib Umar bin Hafidz, ulama soleh nan karismatik yang berasal dari kota Tariim di Yaman.

Istri beliau yang bernama Hubabah Nur pun ikut andil menjadi imam tarawih untuk para kaum perempuan di Tariim dan selepas selesai mengimami dari masjid yang satu, Hubabah Nur lalu ke masjid yang satu, dan beranjak lagi ke masjid yang lain.

Selanjutnya, pada pagi sampai siang hari, biasanya orang-orang Yaman tidak ada yang keluar dari rumah mereka masing-masing. Seluruh toko di pagi hari pun tidak ada yang buka dan melayani pembeli. Baik toko makanan maupun toko peralatan yang lain.

Biasanya, mereka mulai keluar dari rumah masing-masing saat sore hari. Berjalan-jalan di sore hari sambal membeli makanan-makanan ringan untuk berbuka puasa. Karena biasanya sehabis tadarus usai subuh, mereka akan tidur dan beristirahat sampai waktu Dhuha. Mereka tidak keluar rumah siang hari di karena kan cuaca di bulan Ramadan pasti panas karena selalu bertepatan dengan musim panas.

Para pemuda Yaman dan mahasiswa lain biasanya di sore hari selain berjalan-jalan sore, ada juga yang pergi mengaji kitab ke beberapa Syeikh, halaqoh dan talaqi , ada juga yang setoran hafalan Al Quran, serta belajar qiro’ah sab’ah ke para tokoh-tokoh ulama.

Karena para mahasiswi di Yaman tidak sebebas para mahasiswa untuk bepergian keluar asrama, jadi para mahasiswi mendapat halaqoh atau pengajian khusus dengan Syeikh kami sekaligus rektor Universitas Al-Ahgaff, ayahanda tercinta, Al Habib Abdullah Baharun.

Biasanya kami berangkat mengaji ke kediaman beliau sehabis Salat Ashar atau setelah Salat Tarawih.

Ramadan Mubbarok..
Bunga Wulandari
Mahasiswa S1 Al-Ahgaff University
Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman

—–

Para pembaca yang budiman, bila mempunyai cerita berkesan saat Ramadan, silakan berbagi kisah Anda dengan ketentuan 300-1.000 kata ke email: radarblk@gmail.com atau unasain@gmail.com

Sertakan minimal 3 foto karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat.