Zakat untuk Warga Terdampak COVID-19 (4)

 

RASULULLAH Saw bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya,” (HR. Muslim)

Salah satu kelompok masyarakat yang terpukul dengan adanya wabah COVID-19 ini adalah para fakir miskin, seperti buruh tani, buruh bangunan, tukang ojek, pedagang kaki lima, dan kelompok rentan lainnya.

Karena khawatir akan terpapar virus corona, mereka dihimbau untuk menetap di rumah saja. Namun, timbul masalah lain: income mereka menurun, sementara pengeluaran mereka terus berjalan, bahkan cenderung meningkat. Selain membeli bahan pangan, mereka juga harus membeli sanitizer, masker, konsumsi vitamin, dan kebutuhan lainnya untuk melindungi diri dan meningkatkan imunnya.

Kelompok rentan di atas termasuk yang berhak menerima zakat, infak dan sedekah. Bahkan mereka harus menjadi sasaran prioritas dalam program-program pendistribusian organisasi pengelola zakat (OPZ), BAZNAS dan LAZ, saat ini.

Lalu, bolehkah dana zakat, infak dan sedekah digunakan untuk penyediaan alat pelindung diri (APD), disinfektan, masker dan lainnya dalam upaya penanggulangan wabah?

Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 23 tahun 2020 tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya disebutkan, bahwa pemanfaatan harta zakat untuk penanggulangan wabah COVID-19 dan dampaknya hukumnya boleh, dengan berbagai ketentuan;

Pertama: Pendistribusian harta zakat kepada mustahik secara langsung dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Penerima termasuk salah satu golongan (asnaf) zakat, yaitu Muslim yang fakir, miskin, amil, mualaf, yang terlilit utang, riqab, ibnu sabil, dan/atau fi sabilillah; (2). Harta zakat yang didistribusikan boleh dalam bentuk uang tunai, makanan pokok, keperluan pengobatan, modal kerja, dan yang sesuai dengan kebutuhan mustahik; (3). Pemanfaatan harta zakat boleh bersifat produktif antara lain untuk stimulasi kegiatan sosial ekonomi fakir miskin yang terdampak wabah.

Kedua: Pendistribusian untuk kepentingan kemaslahatan umum, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Penerima manfaat termasuk golongan (asnaf) fi sabilillah; (2) Pemanfaatan dalam bentuk aset kelolaan atau layanan bagi kemaslahatan umum, khususnya kemaslahatan mustahik, seperti untuk penyediaan alat pelindung diri, disinfektan, dan pengobatan serta kebutuhan relawan yang bertugas melakukan aktifitas kemanusiaan dalam penanggulangan wabah.

Intinya, dana zakat, infak dan sedekah dapat digunakan untuk penganggulangan wabah COVID-19 dan dampaknya, baik yang terkait langsung dengan kebutuhan para mustahik, maupun yang terkait dengan kebutuhan para relawan yang melakukan aktifitas kemanusiaan dalam penanggulangan wabah.

Upaya-upaya penanggulangan COVID-19, khususnya bagi warga rentan, harus terus dilakukan guna membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Bentuk bantuan yang diberikan kepada mereka dapat berupa bantuan konsumtif, seperti makanan pokok, uang tunai, dan keperluan pengobatan, sesuai kebutuhan mustahik.

Bantuannya dapat pula berupa bantuan produktif, seperti pemberian modal usaha, pemberian pelatihan kererampilan dan semacamnya, guna menstimulasi kegiatan sosial ekonomi mereka, terutama fakir miskin.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk merealisasikan kedua jenis bantuan tersebut pada bulan mulia nan berkah ini adalah menyegerakan pembayaran zakat, baik zakat fitrah maupun zakat harta, melalui BAZNAS atau LAZ resmi, agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh para fakir miskin dan mustahiq lainnya. ***