Haerul, Dosen Universitas Khairun Ternate Asal Bulukumba Raih Gelar Doktor

  • Bagikan
Ujian terbuka promosi doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, di Auditorium FPBS , Selasa 16 Agustus 2022.

RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID -- Dosen Universitas Khairun Ternate, Haerul, M.Pd., berhasil meraih gelar doktor pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia, setelah menyelesaikan ujian terbuka, di Auditorium FPBS, Selasa 16 Agustus 2022.

Ujian terbuka promosi doktor tersebut, dipimpin oleh Dr. Yulianeta, M.Pd.  selaku Ketua Sidang, serta Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. (Promotor), Prof. Dr. Vismaia S. Damaianti, M.Pd. (Kopromotor), Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. (Anggota Promotor), Prof. Dr. Dadang Anshori, M.Si. (Penguji Internal), Dr. Kunjana Rahardi, M.Hum. (Penguji Eksternal dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).

Haerul, pria kelahiran Bulukumba, 15 Juli 1989 itu yang beralamat di Kelurahan Tanuntung, Herlang, Bulukumba, mengambil judul disertasi "Pengembangan Model Reflektif dalam Pelatihan Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa para Politisi". Ia mengaku gagasan penelitian ini lahir dari sebuah keresahan ketika mengamati isu terkait problematika berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan dengan berbagai media di era globalisasi yang penuh dengan perkembangan teknologi dan informasi. Problematika tersebut dapat dilihat dari maraknya fenomena ujaran kebencian, penyebaran berita bohong (hoax), penghinaan, penistaan atas SARA, dan sebagainya.

"Dari permasalahan tersebut dibutuhkan sebuah wawasan dan keterampilan dalam bertutur, terhusus bagi politisi. Hal terpenting yang perlu dipahami adalah tentang kesadaran konteks dalam berbicara, yaitu kemampuan berbicara santun secara kontekstual, baik dari segi konteks sosial, sosietal, kultural, situasional, dan siberteks berbasis multimodalitas,"ujarnya, usai mengikuti ujian terbuka.

Alumni Strata 1 yang mencetak lulusan sarjana Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dan Strata 2 untuk program magister di Universitas Negeri Makassar (UNM) itu, juga menuturkan yang menjadi motivasi atau inspirasi hingga ia melanjutkan pendidikan doktor,  berawal ketika ia kuliah di UMB. Ia terinspirasi oleh salah satu sub topik  dari mata kuliah "Belajar dan Pembelajaran" yaitu "Pendidikan adalah Investasi Jangka Panjang". 

"Waktu itu, mata kuliah tersebut diampuh oleh Dr. Fahmi Room. Tekad saya untuk terus melanjutkan pendidikan pun semakin kuat dengan motivasi yang diberikan Bapak Jihad Thalib di sebuah kelas perkuliahan bahwa Jangan pernah berhenti melanjutkan pendidikan hanya karena terhambat biaya. Kita harus yakin dan percaya bahwa selalu ada jalan bagi siapa saja yang memiliki kemauan besar untuk menuntut ilmu,"tuturnya.

Anak pertama dari seorang pedagang eceran yakni Ibu Hasnah ini, juga menyampaikan keberhasilan yang diraih ini. Ia banyak belajar dan memperoleh pendidikan dari orang tuanya bukan melalui kata-kata. Ia menceritakan Ibunya hanyalah seorang pedagang kecil yang tidak tamat SD, tetapi dia adalah Ibu yang sangat tangguh, pekerja keras, dan pantang menyerah, meski harus membiayai pendidikan anaknya seorang diri.

"Hal itulah yang membuat saya merasa kuat dan ingin membuktikan sebuah pencapaian yang bisa dibanggakan keluarga. Saya teringat ketika pertama kali menyampaikan niat saya untuk kuliah S2. Saya berkata kepada Ibu "Bu, saat ini, saya masih memiliki kemauan yang besar untuk  belajar, tapi mungkin ibu tidak akan sanggup lagi membiayai pendidikan saya". Ibu saya kemudian menjawab dengan kalimat "Lanjutkanlah sekolahmu, Nak. Kita akan berjuang dan berusaha","ungkapnya.

Lelaki yang telah mempersunting Yusrina, M.Pd., dan memiliki buah hati bernama Muhammad Al Hafiz Latinulu, berharap semoga pencapaian ini dapat menginspirasi para pelanjut generasi untuk terus melanjutkan pendidikan dengan tidak menjadikan biaya pendidikan sebagai penghambat. Karena sebenarnya banyak jalan yang diberikan Allah Swt., bagi pejuang ilmu dan salah satunya adalah melalui berbagai bantuan beasiswa dari pemerintah.

"Dalam konteks akademik, pencapaian ini adalah sebuah hasil, namun dalam konteks kehidupan, pencapaian ini adalah sebuah proses yang terus berkelanjutan. Pencapaian ini adalah sebuah awal untuk memasuki ujian yang sesungguhnya, yakni bagaimana ilmu yang saya peroleh dapat memberikan kemanfaatan bagi diri saya pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,"tutupnya.(*)

  • Bagikan

Exit mobile version