Sejak 7 Oktober 2023, Korban Tewas Akibat Genosida Israel di Gaza Capai Lebih dari 30 Ribu Orang

  • Bagikan

RADARSELATAN.FAJAR.CO.ID -- Tentara Israel benar-benar biadab. Militer Zionis itu tega menembaki kerumunan warga yang tengah mengantre untuk mendapatkan bantuan makanan, di Jalur Gaza, Kamis (29/2/2024).

Insiden tragis ini menyebab­kan 112 warga sipil meninggal dunia dan lebih dari 700 orang luka-luka.

Menurut sejumlah saksi, kekacauan terjadi ketika ribuan orang menuju truk ban­tuan di bundaran Nabulsi. Tanpa peringatan apa pun, tentara Israel dikabarkan melancarkan tembakan secara membabi buta ke arah kerumunan tersebut. Alasan Israel, warga terlalu dekat dengan truk bantuan.

Warga Gaza, Ali Awad Ashqir, yang sedang mencari makanan untuk keluarganya, menjelaskan bahwa ia telah menunggu selama dua jam hingga truk bantuan itu mulai berdatangan.

"Saat mereka tiba, tentara pendudukan (Israel) tiba-tiba menembakkan peluru artileri dan senjata,” ucapnya kepada AFP.

Juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, membantah klaim tersebut. Hagari mengatakan, militer telah melepaskan beber­apa tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan yang terlalu dekat dengan truk bantuan.

Menurutnya, konvoi truk ban­tuan itu mencoba mundur yang menyebabkan puluhan warga Gaza tertabrak sehingga menye­babkan kematian dan luka.

Namun, berdasarkan laporan dari fakta di lapangan menunjuk­kan Hagari, berkilah. Video yang dirilis Al Jazeera, menunjukkan, ribuan warga Palestina berham­buran karena penembakan mas­sal oleh tentara Israel.

Kini, korban luka-luka aki­bat insiden tersebut dirawat di beberapa rumah sakit di Gaza utara, meskipun rumah sakit dalam kondisi rusak parah akibat agresi Israel.

Adapun jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Gaza itu tercatat telah mencapai lebih dari 30 ribu orang, dan menye­babkan krisis kemanusiaan yang diperparah minimnya bantuan yang masuk, terutama bantuan makanan dan kesehatan.

Amerika Serikat (AS) menun­tut tanggung jawab Israel atas pembantaian itu. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Matthew Miller, Gedung Pu­tih sudah menghubungi Pemerintah Israel dan mendesak agar investigasi segera dilakukan.

“Kami memantau investigasi secara dekat dan menekan un­tuk mendapat jawaban segera,” terangnya.

Miller menambahkan, Israel wajib melindungi upaya pembe­rian bantuan kepada warga Gaza.

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menyatakan kekha­watirannya atas kejadian itu, namun tidak terang-terangan menyalahkan Israel.

“Mereka adalah manusia yang berusaha mencari makan. Kami semua melihat dan berkata, ‘Ada apa ini?’,” ujar Juru Bicara Pen­tagon, Patrick Ryder, menang­gapi kejadian itu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan kemarahan mendalam atas pem­bunuhan warga Palestina di Jalur Gaza utara.

"Kemarahan mendalam atas gambar-gambar yang datang dari Gaza di mana warga sipil menjadi sasaran tentara Israel,” cuit Macron di platform media sosial X.

“Saya menyampaikan keca­man paling keras atas penembakan ini dan menyerukan kebenaran, keadilan, dan peng­hormatan terhadap hukum inter­nasional,” imbuhnya.

Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan, penem­bakan yang dilakukan tentara Israel terhadap warga sipil yang mencoba mengakses makanan tersebut tidak dapat dibenarkan.

“Peristiwa tragis ini terjadi ke­tika jumlah warga sipil Palestina menderita kelaparan dan penya­kit semakin bertambah,” bunyi pernyataan Kemlu Prancis.

Menteri Luar Negeri Portugal Joao Gomes Cravinho menyampaikan hal senada.

“Sangat terkejut dengan ke­matian lebih dari 100 orang di Gaza saat menunggu un­tuk menerima bantuan,” kicau Cravinho di akun X miliknya.

“Lokasi pembagian bantuan harus jadi wilayah netral. Bukan tempat pembantaian,” kecamnya.

Sementara itu, Sekretaris Jen­deral (Sekjen) PBB Antonio Guterres mendesak diadakannya penyelidikan independen atas pembantaian yang dilakukan pasukan Israel terhadap warga di Jalur Gaza.

Insiden ini menjadikan kabar memilukan terbaru dari perang Israel-Hamas yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. (JPNN)

  • Bagikan