Mengunjungi Thaif, Makan Nasi Mandi dan Menjajal Kereta Gantung

  • Bagikan
Dua anak penghafal Alquran yang diberangkatkan ke tanah suci oleh Bupati Bulukumba berkesempatan makan bersama dalam satu nampan dengan Andi Muchtar Ali Yusuf dan istri Andi Herfida Attas di Kota Thaif, Mekkah.

Catatan Perjalanan Umrah Bersama Time Travel (3-selesai)

Melaksanakan ibadah umrah merupakan perjalanan ziarah yang akan selalu kita rindukan. Kerinduan akan Baitullah, tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak 7 putaran, berjalan antara Bukit Sai dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali, dan bertahallul atau memotong beberapa helai rambut sebagai penanda selesainya seluruh tahapan umrah.

Laporan: Sunarti Sain

Rombongan jemaah umrah Time Travel tidak hanya melaksanakan umrah satu kali tapi tiga kali selama lima hari berada di Kota Makkah. Umumnya, travel umrah hanya memfasilitasi umrah sebanyak dua kali. Tapi di Time Travel, pelaksanaan ibadah umrah menjadi prioritas. Dua hari selebihnya digunakan untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti ke Jabal Tsur, mengunjungi Jabal Rahmah, dan menyusuri Musdalifah dan Padang Arafah yang digunakan jemaah haji saat wukuf. Khusus di Jabal Rahmah karena saat ini ditutup oleh pemerintah Arab Saudi karena direnovasi dan dibersihkan, rombongan hanya melihat dari jauh gunung tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa itu.

Perjalanan ziarah semakin lengkap saat rombongan Time Travel diajak mengunjungi daerah pegunungan di Makkah yang bernama Thaif. Di balik hawa panas yang menyengat, di Kota Makkah ternyata ada daerah pegunungan yang sejuk. Kota Thaif ini ibarat Malino di Kabupaten Gowa, atau Kahayya di Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.


Udaranya dingin dan sejuk. Di beberapa bagian kita dengan mudah menemukan pepohonan hijau. Thaif saat ini memang menjadi salah satu daerah pertanian yang penting di Arab Saudi. Lokasinya terletak 100 km arah Tenggara Kota Mekkah. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan bus.
Meski tak terlalu jauh jaraknya, iklim di dua wilayah ini sangat berbeda. Sebab Thaif merupakan dataran yang berada di ketinggian sampai 1.500 mdpl.


Kota yang terletak di lembah Pegunungan Asir ini juga memiliki julukan “Qoryatul Muluk” atau desa para raja. Disebut demikian karena di sini, terutama di kawasan As Safa, bertebaran vila-vila mewah para amir dan konglomerat Arab Saudi.


Ada yang khas jika kita berkunjung di Thaif. Kurang afdol rasanya kalau belum mencicipi buah-buahan dari Kota Thaif yang banyak dijual di halaman Masjid Abdullah Bin Abbas. Ada buah Delima, buah Plum, Anggur sampai buah Tin. “Sekarang pasar buahnya pindah ke sini, dulu pedagang buah dipusatkan di pasar buah yang ada di Thaif,” ujar Karim, mahasiswa yang berkuliah di Mesir yang memandu kami hari itu.


Masjid Abdullah Bin Abbas sendiri kerap menjadi tempat persinggahan para peziarah. Karena di sini ada makam sahabat Nabi Muhammad SAW itu yang juga sepupu Rasulullah. Abdullah Bin Abbas merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang berpengetahuan luas. Sangat banyak hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas.


Dalam rombongan Time Travel ada Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf bersama sahabatnya, Tajrimin, pengusaha dari Papua, pengusaha Bulukumba H. Unding, H. Amry dan H. Akka. Juga tampak Direktur RSUD Bulukumba dr Rizal yang membawa serta dua putranya, Daffi dan Radit.
Ada yang spesial dalam lawatan ke Thaif. Bupati Bulukumba yang berulangtahun ke-56 pada 12 Februari 2023, mengajak rombongan menikmati Nasi Mandi di salah satu resto yang ada di Thaif. Jadilah semua jemaah bisa merasakan nikmatnya Nasi Mandi yang disajikan dalam nampan yang diatasnya ada potongan daging kambing dan daging ayam. Satu nampan Nasi Mandi dimakan bersama 4-5 orang.


Bupati Bulukumba dan istri Andi Herfida Attas mengajak dua penghafal Alquran dari Bulukumba yang ia berangkatkan umrah; Syahrani dan Andi Tenri untuk makan bersama dalam satu nampan. Orang nomor satu di Bulukumba itu tak sungkan melayani anak-anak juara MTQ Tingkat Provinsi Sulsel itu dengan tangannya sendiri.


Pesona Thaif belum berakhir. Usai makan siang dengan Nasi Mandi, rombongan kembali dimanjakan dengan menaiki Kereta Gantung atau cable car yang ada di puncak Thaif. Untuk menjajal kereta gantung, pengunjung harus membeli tiket Telefric Thaif lebih dulu. Tiket bisa dipesan online atau melalui aplikasi. Harganya 100 Riyal per orang atau sekitar Rp400 ribu-an per orang.


Antrian untuk masuk di Telefric hari itu cukup panjang. Petugas meminta masing-masing berkelompok 5-6 orang untuk masuk dalam satu cable car.

Saya sudah membayangkan kereta gantung seperti di Genting, Malaysia. Rupanya sedikit berbeda. Kalau kereta gantung di Genting membawa kita pada ketinggian dengan pemandangan hutan tropis yang lebat, maka di Thaif, pemandangan dari kereta gantung membawa kita menyusuri gunung batu dan tebing-tebing curam. Pemandangan jalanan Thaif yang berkelok-kelok tampak seperti liukan ular dari atas kereta gantung.


Tak hanya itu, kita juga bisa melihat kawanan monyet yang berlari dari satu tebing ke tebing yang lain dan warna-warni wahana yang ada di waterpark di kawasan Thaif. Sungguh luar biasa pertunjukan alam ciptaan Allah SWT.


Thaif sendiri merupakan kota yang pernah didiami Rasulullah. Saat awal-awal dakwah Islam, Rasulullah berjalan kaki dari Mekkah ke Thaif. Saat itu Nabi Muhammad mencari tempat perlindungan dengan menemui Kabilah Tsaqif, penguasa Thaif. Namun bukannya mendapatkan perlindungan, di tempat itu Rasulullah malah mendapatkan perlakuan buruk dari Penduduk Thaif. Mereka melempari Rasulullah hingga kakinya terluka.


Nabi Muhammad tidak membalas perlakuan buruk itu. Ia malah berdoa. “Aku malah mengharap agar Allah SWT menjadikan anak cucu mereka orang yang menyembah-Nya, mengEsakanNya, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.”


Doa Rasulullah didengar Allah SWT. Terbukti sekarang penduduk Thaif telah menjadi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan dikarunia pemandangan alam yang indah. *

  • Bagikan